Home / Genre / Misteri / Sarapan Bersama

Sarapan Bersama

Sarapan Bersama

Marjinah menutup pintu rumahnya dengan gerakan lambat. Usianya yang sudah di atas 70 tahun membuatnya harus selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu.

“Anto, kenapa belum tidur, Ngger?” tanyanya dengan suara renta kepada cucunya yang masih menunggunya di bangku panjang depan televisi.

“Aku mau tidur sama nenek.” Bocah polos empat tahun itu menunggu dengan sabar.

Marjinah hanya terkekeh sambil mematikan televisi lalu mematikan lampu. Anto yang sebenarnya sudah mengantuk menggandeng neneknya dengan hati-hati. Tak butuh waktu lama sudah terdengar dengkuran halus dari keduanya.

Tepat pukul sepuluh malam terdengar pintu dibuka. Rupanya Rusli dan Aminah— orang tua Anto—baru pulang dari luar kota. Di tas mereka ada beberapa map yang terlihat penting. Marjinah sengaja tidak mengunci pintu, agar anak dan menantunya tidak perlu membangunkannya saat hendak masuk rumah. Kedua orang tua itu tampak berbincang sebentar usai mengecek Anto yang tertidur pulas di kamar neneknya.

***

Keesokan paginya Marjinah bangun dan menemukan segelas susu dan secangkir kopi di atas meja makan. Tidak hanya itu, sepiring besar roti tawar dengan selai sudah tersedia untuk sarapan. Di sampingnya ada kertas bertuliskan,

Kami masih ada urusan sebentar, Bu. Minta tolong jagain Anto hari ini, ya.

Jangan lupa makan sarapannya, Bu.

Aminah.

Marjinah menghela napas panjang seraya melipat kembali kertas itu dan memanggil Anto untuk sarapan.

“Nek, aku minum susunya kenyang. Mau kopi Nenek,” kata Anto cadel.

“Terus, susunya siapa ngabisin?” Marjinah kembali bertanya.

“Nenek aja minum. Nanti aku bantuin. Mau kopi nenek.”

Marjinah tidak bisa menolak keinginan cucunya. Anto memang sudah sering begitu jika melihat neneknya makan atau minum apa saja selalu minta.

Marjinah menuangkan ke piring tatakan kecil agar cairan hitam itu lekas dingin. Ternyata minuman itu memang sudah tidak terlalu hangat.

Beberapa teguk sudah diminum Anto sambil nyengir. Marjinah pun tersenyum lalu ikut meneguk kopi langsung dari cangkir.

Satu detik, dua detik, tiga detik …. Tidak ada suara dari dalam rumah. Hening.

Gresik, 24 Februari 2025 21:53

Penulis

  • Zavny

    Hanya seseorang yang senang menulis.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image