Home / Genre / Young Adult / Memoar tentang Ayah

Memoar tentang Ayah

Memoar tentang Ayah

“Mbak Menik, mau kirim uang.” Sugeng yang datang ke konter langsung menyerahkan selembar kertas bertuliskan nomor rekening.

“Buat Mbak Surti, toh?” tanyaku sambil menerima beberapa lembaran uang berwarna merah dari tangan Sugeng.

“Nggeh, Mbak,” jawabnya singkat.

Kakak Sugeng, Surti, sedang kuliah di Surabaya. Tiap bulan Sugeng yang diberi tugas oleh bapaknya untuk mengirim uang lewat bank.

“Nanti kalau lulus kamu ngikut kuliah ke sana toh, Geng?” tanyaku sambil menunggu struk tanda terima transaksi keluar.

“Ndak, Mbak. Aku pengen merantau, cari duit yang banyak. Gantiin bapak biar istirahat. Kasihan, sudah tua.” Sugeng berbicara sambil sesekali memainkan pulpen di depannya. Ada nada sedih dalam perkataannya, itu membuatku terharu.

“Aamiin, Geng. Semoga cita-citamu tercapai. Fokus aja belajarnya, jangan aneh-aneh. Semangat, yo!” Aku memberi semangat seiring Sugeng meninggalkan konter Bank Link tempatku bekerja lima bulan ini.

Sejak kecil aku sudah diasuh Bulik Sekar—adik ayah. Ibu sudah pergi entah ke mana. Aku bahkan tak terlalu ingat wajah ibu. Hanya saja, saat tahu dia meninggalkanku, aku tidak terlalu merindukannya … yang penting aku punya ayah yang menyayangiku. Meskipun untuk itu harus melalui beberapa drama dalam kehidupan kami.

Ayah sangat pendiam. Bicara seperlunya dan hanya yang penting-penting saja. Misalnya, “Ini uang buat beli buku.”

“Ini uang SPP.”

“Pulang sekolah langsung pulang.”

“Jangan bikin orang tua khawatir!”

Hanya berupa instruksi-instruksi singkat yang membuatku lama-lama terbiasa … ayah memang seperti itu. Hal itu berlanjut sampai aku naik ke kelas dua SD.

Ada saat di mana aku mulai membandingkan ayah dengan ayah teman lainnya. Kenapa mereka bisa begitu akrab? Bercanda seperti tak ada pembatas. Sedangkan ayah? Jangankan tertawa bersama, bahkan saat ayah memanggilku jantungku rasanya berdetak lebih cepat. Entah karena takut, atau hanya karena tak terbiasa.

Sampai terjadilah drama yang pertama. Suatu ketika, pak guru memberi kami tugas kelompok. Waktu itu satu kelompok anggotanya empat orang, salah satu anggota kelompokku namanya Sugi. Sugi mengusulkan untuk mengerjakan di rumahnya karena dekat dengan sekolah jadi bisa segera dikerjakan mengingat tugas itu harus dikumpulkan besok.

Aku tidak pernah singgah ke mana-mana setelah pulang sekolah. Biasa langsung pulang ke rumah. Tapi hari itu aku merasa, gak papa mungkin, ya, langsung ke rumah Sugi tanpa pulang ke rumah dulu untuk minta izin. Soalnya jaraknya lumayan, sedangkan pergi pulang aku jalan kaki kala itu.

Jadilah aku dan teman-teman mulai mengerjakan tugas. Sampai setelah Ashar tugas kelompok selesai. Sesuai kesepakatan, Sugi yang akan membawanya ke sekolah besok. Kemudian aku dan teman lainnya berpamitan untuk pulang.

Saat di jalan menuju rumah, aku melihat ayah dan bulik berboncengan naik sepeda dari arah yang berlawanan. Samar-samar aku bisa mendengar ayah memanggil, “Menik! Menik!” Sambil sesekali melambai, memastikan aku melihat mereka.

Langkahku terhenti saat melihat ayah memarkir sepeda di pinggir jalan dan menghampiriku.

“Kamu, nih, ke mana aja toh, Nduk? Kok gak bilang mau main.” Bulik terlihat khawatir sambil memelukku. Ayah hanya berdiri sambil menatapku.

“Tadi ada tugas kelompok, Bulik. Tugasnya dikumpulkan besok.” Aku bicara dengan takut-takut sambil melirik ayah. Ayah masih tak bersuara, tapi sorot matanya sudah lebih dari kata-kata, aku merasa bersalah.

“Ayo pulang.” Hanya itu yang keluar dari mulut ayah. Meski masih terlihat marah, tapi aku bisa merasakan kekhawatiran ayah. Akhirnya aku pulang dibonceng ayah, sedangkan bulik pulang dengan jalan kaki.

Sampai di rumah, ayah menyuruhku duduk. Dengan kecemasan tiada tara aku menurutinya. Aku pasrah—lagi-lagi—karena merasa bersalah.

“Maafin Menik, Yah.” Buru-buru aku minta maaf. Ayah masih diam, lalu tiba-tiba memelukku. Aku terkejut, tapi air mataku tiba-tiba pecah. Aku menangis sekjadi-jadinya.

Ayah menepuk-nepuk punggungguku. Lalu berkata, “Jangan ulangi lagi, ya. Kalau ke mana-mana Menik harus bilang dulu sama bulik, atau sama ayah. Janji?”

Aku mengangguk di pelukan ayah. Entah dari mana datangnya semua kesedihan yang seolah ditumpahkan secara bersamaan saat itu juga. Untuk sesaat aku sesenggukan di bahu ayah, sampai bulik tiba di rumah.

Meski ngos-ngosan, bulik tersenyum lega melihatku. Aku kembali menghambur ke pelukan bulik sambil menangis dan minta maaf. Bulik memeluk dan menghapus air mataku. Saat itulah aku baru merasakan, meski hanya dengan dua orang ini yang menyayangiku, aku sudah teramat bahagia. Sejak saat itu aku berjanji untuk jadi anak yang lebih baik.

Aku masih kelas tiga SD waktu itu, saat ayah tergopoh-gopoh datang ke sekolah hanya untuk mengantar bekal yang tertinggal. Sekolah sedang mencanangkan murid-murid hanya boleh makan makanan sehat dan tidak diperbolehkan jajan di luar. Jadi kalau tidak bawa bekal bisa-bisa nanti disuruh duduk di bangku paling depan agar bisa makan bersama bu guru. Aku tidak mau. Malu.

Karena itu ayah buru-buru mengantarkannya sekalian berangkat ke toko. Sebenarnya aku sudah kesal sendiri karena kelupaan, tapi saat tahu ayah mengantarkannya, aku senang. Ayah menyelamatkan hariku.

Banyak kenangan yang kini terasa begitu berharga. Ayah pernah memarahiku saat aku pulang sekolah sambil hujan-hujan.

“Kenapa gak nunggu hujan reda? Kalau nanti sakit, gimana?” Begitulah ayahku yang tak banyak bicara tapi begitu bawel saat aku kenapa-kenapa. Padahal aku sudah kelas lima waktu itu … tapi aku menyukainya. Bahkan hujan yang dingin tak mampu mengalahkan pelukan hangat ayah meski dibumbui omelan tanda sayang. Seperti itu saja … aku sudah merasa senang.

Sayangnya, tak lama kemudian ayah sakit. Aku masih terlalu kecil untuk tahu penyakit ayah waktu itu, yang jelas ayah tak lagi bisa mengantar dan menjemputku ke sekolah dan hanya berbaring seharian. Berkali-kali aku meminta pada Tuhan untuk menyembuhkan ayah dan berjanji untuk jadi anak yang baik, asal ayah sembuh. Tapi dua bulan setelah terakhir menjemputku di sekolah, ayah pergi untuk selamanya.

Aku shock! Duniaku seketika runtuh. Satu-satunya ‘rumah’ bagiku, seperti dirampas begitu saja. Aku tak ada ibu dan sekarang … ayah pun pergi meninggalkan dunia. Aku bahkan berjanji pada Tuhan, jika ayah tidak jadi meninggal, aku akan jadi anak penurut sampai aku dewasa. Ternyata, tak ada yang berubah. Ayah tetap pergi.

Setelah kepergian ayah, aku mogok bicara selama sebulan. Kesedihan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya membuatku patah hati teramat hebat. Meski Bulik Sekar berkali-kali memberi pengertian bahwa ayah sudah di tempat yang lebih baik, sudah tidak sakit lagi, sudah bisa tersenyum, namun aku tetap larut dalam mode diam. Liburan kenaikan kelas kuhabiskan dengan berkabung

Tepat setelah peringatan empat puluh hari meninggalnya ayah, aku mulai bisa merelakan kepergiannya. Hal pertama yang aku lakukan adalah mendatangi Marni untuk menanyakan PR dan meminjam catatan pelajaran yang tertinggal, akibat seminggu tak masuk sekolah setelah libur panjang. Karena selama ngambek, aku tak ingin bertemu siapa pun, termasuk Marni. Bahkan saat dia datang untuk meminjamkan catatan, aku menolak menemuinya.

Besoknya, kupakai lagi seragam putih merah yang sudah lama kubiarkan tidur di dalam lemari. Aku harus sekolah, untuk bisa membuat ayah bangga di atas sana. Itulah harapanku saat itu.

Kini semuanya sudah berlalu. Meskipun sekarang pekerjaanku hanya menjaga konter Bank Link, aku berterima kasih karena ayah dan bulik Sekar memberiku bekal yang cukup hingga tak perlu merepotkan orang lain.

“Hayo, ngelamun!” Suara Marni tiba-tiba mengejutkanku. “Ngelamunin apa, toh, Nik?” tanya lagi. “Kok, kamu nangis?”

‘Benarkah?’

Reflek aku mengusap mata dengan ujung jari. Aku tidak menyadari jika kenangan tentang ayah mampu membuat mataku sebasah ini.

“Masa, sih?” Ngeles yang tak berguna memang, tapi tetap saja kulakukan. Jika aku ceritakan pada Marni sudah pasti pertahananku jebol seketika. Bisa jadi aku akan menangis lebih kencang.

“Kamu pasti lagi inget Paklik Wito, kan? Selalu begitu kalau dibiarkan bengong sebentar. Doakan saja, Nik, ayahmu pasti bangga lihat kamu sudah mandiri, punya usaha sendiri, sudah mau lanjut S2 lagi, apa gak keren?” ucapnya sambil menepuk bahuku. Aku hanya mengangguk sambil mengambil tisu untuk mengusap air mata yang ternyata masih saja merembes keluar.

Ya, lah. Marni pasti tahu siapa yang sedang kupikirkan, mengingat dia adalah sahabat masa kecilku.

Sesaat terngiang kata-kata Bulik Sekar di saat mengenang empat puluh hari kepergian Ayah.

“Nik, ayahmu orang baik. Meski bukan ayah kandung, tapi dia sayang tenan sama kamu. Bulik juga. Kamu ndak usah berkecil hati karena tidak ada ibu, dan sekarang ditinggal ayah. Kamu hanya perlu mikirin sekolah, biar ayahmu bangga, yo?”

Aku tak ingin berkata apa-apa kala itu, hanya mengangguk dan menangis.

Bulik benar. Ayah menyayangiku meski aku hanya anak sambung. Ayah menyiapkan dana untuk pendidikanku dengan sangat baik. Bahkan sepetak tanah ayah wariskan, yang kini menjadi pijakan atas usahaku sendiri.

‘Kita memang tak sedarah, tapi kasih sayang Ayah tak tertandingi sepanjang masa. Bahagia lah di sana, Ayah … karena aku juga bahagia mempunyai orang tua seperti Ayah.’

Gresik, 7 Oktober 2024 15.15

Penulis

  • Vi Vone

    Tentang penulis: Vi Vone merupakan perempuan yang besar di Surabaya, dan kini bertempat tinggal di tanah kelahirannya, Gresik. Seorang ibu rumah tangga yang mempunyai kesenangan menulis beberapa tahun belakangan ini. Baru tiga kali membuat buku antologi puisi bersama para sahabat literasi di dunia maya, dan dua buku cerita fiksi romance. Dia menyebut dirinya sebagai Penyintas Senggang. Keyakinannya adalah, "Apa yang ditulis dari hati akan sampai pula ke hati."
     

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image