Plak! Plak!
Lagi-lagi terdengar suara itu dari kamar ibu. Bunyi benda terjatuh dan ‘bak’ ‘buk’ ikut mendominasi keributan malam itu. Suara teriakan dan tangisan ibu begitu menyayat, memohon untuk tidak menyakiti anaknya. Di kamarku, aku memeluk lutut makin erat.
Selalu begitu, setiap kali aku terkena masalah dengan orang sekitar selalu saja ibu yang kena. Aku hanya membela diri, salah satu anak bandel di sekolahku mengatakan ibuku pel acur, jelas aku tak terima, aku hantam kepalanya pake batu, apa aku salah? Meski orang kampung bilang itu memang pekerjaan ibuku, tapi itu kan dulu, sebelum aku ada, sebelum ketemu bapakku. Harusnya itu tak usah diungkit-ungkit. Kan ibu sudah tidak bekerja seperti itu lagi. Dulu memang aku sempat kecewa, tapi setelah melihat penderitaan ibu, bagiku ibu adalah jantungku.
Setiap pagi aku harus mendengar bapak berteriak-teriak memanggil ibu seperti orang gila. Bukan aku saja, semua orang kampung juga tahu tabiat bapak. Harusnya bapak tak usah pake mabuk-mabukan. Bukankah penghasilannya tak seberapa? Bukannya buat beli kebutuhan rumah tapi malah buat hal gak berguna.
Aku sering melihat ibu menangis tanpa suara, di sudut sumur ketika mencuci baju para pelanggan. Demi mendapat tambahan uang belanja ibu menerima jasa mencucikan pakaian. Itu karena bapak yang tak selalu ngasih uang, jadi ibu harus berusaha memenuhi semua kebutuhan rumah ini sendirian, tak lagi mengandalkan bapak.
Kasian ibu, harus menghadapi bapak yang jahat, masih juga harus memikirkan kebutuhan sehari-hari. Masih untung ada bantuan dari desa sehingga ibu tak susah memikirkan biaya sekolah. Ingin sekali aku membantu ibu mencari uang, seragamku saja masih putih biru, kata ibu aku harus lulus, biar kita gak susah lagi. Karena itulah aku giat belajar, peringkat dua bagiku sudah maksimal, yang penting aku bisa membuat ibu bangga.
“Awas kalo anak itu bikin masalah lagi, aku bunuh kalian! Ibu sama anak gak ada yang bener, dasar Su ndel!” Kata-kata itu begitu menusuk ulu hatiku. Ibu hanya diam sambil membereskan meja di depan rumah, aku melihat itu dari halaman, bapak tak melihatku berdiri di sana.
‘Dasar bapak gak berguna!’ aku berteriak, meski hanya dalam hati.
Malam itu aku sudah tertidur, lagi-lagi kudengar tangisan ibu hingga aku terbangun di malam buta. Rupanya bapak datang sambil mabuk seperti biasa dan mulai menghajar ibu. Suara ibu yang menyayat tak bisa begitu saja kuabaikan. Lebam di wajah dan tubuh ibu belum sembuh, bapak sudah mau menambahnya lagi.
Kekesalanku sudah terkumpul menyesakkan dada. Entah mendapatkan keberanian dari mana, tiba-tiba aku mendatangi arah suara itu. Bapak sedang menghajar ibu di halaman. Amarahku memuncak, aku berlari menghadang kaki bapak yang hendak menginjak ibu yang sedang kesakitan di atas tanah. Bapak terjatuh ke belakang, lalu melihatku seolah hendak menerkam.
“Anak sialan!” Teriak bapak sambil menghajarku. Aku yang kalah besar tak bisa berbuat banyak, meski begitu aku tak mau menyerah, meski sudut bibirku mulai terasa perih dan berdarah, aku harus melawan agar aku dan ibu selamat.
Entah dari mana bapak memperoleh pisau itu, pisau dihunus-hunuskan ke perutku, aku pun mengelak sebisaku, sambil mencari celah buat menyelamatkan diri. Tapi jika aku lari, aku takut ibu yang akan menggantikan posisiku, dihajar bapak. Bapak yang meski dalam keadaan mabuk masih bisa sangat buas jika itu untuk menyakiti aku dan ibu.
Bapak sedang di atas angin terlihat hendak menusukku, tapi ternyata ibu merangkak dan memegangi kaki bapak agar tak bisa mendekatiku. Itu sangat membahayakan ibu!
Benar saja, bapak meninju dan menendang perut ibu berkali-kali. Dengan gelap mata aku mendorong bapak sekuat tenaga. Bapak limbung lalu terjatuh dengan keras di atas bajak. Terdengar bapak merintih pelan, lalu diam. Tubuh bapak tertancap di sana.
Aku yang sedetik tertegun kemudian berlari hendak memanggil orang kampung, tapi ternyata mereka sudah berkumpul di area rumahku entah sejak kapan, karena mendengar keributan. Tapi tak ada yang berani mendekat saat melihat bapak sedang menghajarku dan ibu. Maklum saja sebagian dari mereka masih menganggap pertengkaran dalam keluarga itu urusan yang tak bisa dicampuri.
Pada akhirnya, ibu bisa terbebas dari bapak yang jahat. Belakangan baru aku tahu dari ibu, aku bukan anak kandung bapak, bapak menikahi ibu yang sedang mengandung aku, mungkin itu sebabnya bapak tak pernah dekat, malah seperti membenciku.
Semoga ibu bisa tersenyum, secantik dulu, sebelum bapak jadi jahat.
#Vi
Patih, 10 November 2022 19.12











