Home / Fiksi / Cerpen / Bukan Majnun

Bukan Majnun

Bukan Majnun
1


“Pada sepintas senja
Kala langit merah saga
Sepenggal angin meniup kerudungmu, Wahai
Sedetik hilang sadarku yang sejenak
Mengubahku jadi Majnun yang tanpa Laila.”


Laila membaca berulang-ulang, tetap saja tak ada petunjuk tentang siapa yang menyelipkan kertas berisi puisi itu ke dalam lokernya. Jika ini permainan untuk menyambut anak baru, oke lah. Laila tidak akan protes. Hanya saja, ini terlalu memalukan.

“Hei, kenapa?” tanya seorang senior yang kebetulan melihatnya terdiam di depan loker.

“Gak papa, Kak.” Laila segera mengunci loker dan bergabung dengan teman-teman lain untuk bekerja.

Hari ini toko pakaian tempat Laila bekerja ramai sekali. Tiap mendekati lebaran, toko ini tak pernah sepi pengunjung. Karyawan diharuskan bergiliran untuk lembur. Maklum, banyak orang yang mulai bersiap menghadapi hari raya dengan membeli baju baru. Malam itu Laila mendapat giliran lembur sampai jam 10 malam.

Saat Laila hendak membuka loker untuk berganti pakaian, lagi-lagi dia menemukan lipatan kertas berisi puisi.

“Penantian
hanya sejengkal jeda
Dari rindu
yang tertimbun doa
Debar ‘kan abadi bersama waktu
Hingga takdir
menjadikan kita satu.”

Lagi-lagi tak ada petunjuk. Laila tidak tahu harus bertanya pada siapa. Dia baru dua minggu bekerja di sana. Sama sekali tak ingin terlibat dalam hal apa pun yang berbau romantis. Setidaknya untuk sekarang. Karena itu dia sama sekali tak ingin peduli.

Laila ingin fokus bekerja untuk bisa membantu ibunya membayar sewa rumah yang menunggak sejak ayahnya pergi meninggalkan mereka. Dia tak ingin tahu kenapa dan untuk apa. Laila bahkan tak peduli sama sekali tentang itu. Baginya, itu semua tidak penting.

Karena itulah, Laila berusaha mengabaikan tentang surat puisi itu. Masalah hidupnya sudah terlalu banyak. Laila tidak ingin menambahnya lagi dengan masalah asmara yang tidak jelas.

“Loh, kok masih di sini?” Kakak senior yang tadi pagi menyapanya kembali memergokinya sedang terdiam di depan ruangan loker. Mereka berdua dapat giliran lembur di waktu yang sama.

“Ini udah mau pulang, Kak. Permisi, Kak. Saya duluan.” Laila buru-buru pergi sebelum Kak Indra—nama kakak senior itu—bertanya lebih jauh.

Laila tak ingin menambah beban pikiran. Kesulitan dalam hidupnya saja sudah begitu menyita waktu dan tenaga, mana ada tempat buat memikirkan hal lain yang tidak penting. Apalagi untuk mengira-ngira siapa pengirim puisi itu, itu sama sekali bukan kepentingannya karena dia tak peduli.

Keesokan harinya, Laila mendapat shift sore. Lagi-lagi dia berpapasan dengan Kak Indra di depan pintu masuk. Laila menyapa seperlunya dan segera menuju loker.

Dan seperti biasa, sebuah kertas terlipat dua sudah ada di atas tumpukan seragam kerjanya. Tak hanya itu rupanya. Ada yang membuat Laila lebih terkejut lagi, yaitu, beberapa lembaran merah yang menutupi sebagian seragamnya.

Dengan wajah tak percaya, dia buru-buru membaca tulisan di kertas itu.

“Majnun beruntung
dicintai Laila, hingga gila
pun aku ….
sangat beruntung
bisa melihatmu tersenyum
tanpa perlu kau melihatku jadi gila.

Gunakan uang itu. Kau bisa mengembalikannya saat keadaanmu sudah jauh lebih baik.”

Ttd.
“Bukan Majnun”



Gresik, 9 Maret 2025 23.09

Penulis

  • Zavny

    Hanya seseorang yang senang menulis.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image