Home / Genre / Religi / Antara Kekayaan Sesungguhnya dan Memikirkan Kekayaan

Antara Kekayaan Sesungguhnya dan Memikirkan Kekayaan

Santri
1

Alkisah, ada salah seorang santri yang belajar pada seorang guru. Nama guru tersebut adalah Ustaz Abidin. Pada satu kesempatan, santri itu disuruh gurunya untuk belajar ke guru lain.

“Nak, sekarang engkau berguru pada seorang Ustaz ternama, yaitu Ustaz Abdullah dan timbalah ilmu sebaik-baiknya dari beliau. Katakan saja, bahwa engkau adalah muridku, Abidin.” Sambil mengambil secarik kertas yang sudah berisi alamat, “Ini alamatnya, nak.”

Muridnya pun mengangguk, sambil berkata “Baik ustaz.”

Keesokan harinya, sang murid menuju alamat seorang guru yang dituju yaitu Ustaz Abdullah. Sesampainya di tempat, sang murid terheran-heran dan terbengong-bengong.
Dalam hati berkata:

“Apakah ini tempatnya Ustaz Abdullah? Kalau iya, rumahnya mewah sekali.” Ia masih tak percaya.

Lalu, ia melihat secarik kertas yang berisi alamat tersebut. Ketika dilihat kembali, “Tapi memang benar ini alamatnya tidak ada yang keliru.” Ia berkata dalam hati.

Sambil sedikit ragu, ia memberanikan diri untuk mengkonfirmasi ke dalam rumahnya.

“Assalamu’alaikum.” Salam murid itu.

Dari dalam menjawab “Wa’alaikumsalam.”

“Apa benar ini rumahnya Ustaz Abdullah?” Tanya sang murid kepada orang yang keluar dari dalam rumah.

“Betul, ada perlu apa sama Ustaz Abdullah?” Jawab orang itu.

“Saya Saeful, muridnya Ustaz Abidin—untuk belajar ilmu agama kepada beliau.”

“Oh, baiklah tunggu sebentar.”

Setelah sang murid menunggu beberapa waktu, akhirnya Ustaz Abdullah pun menemuinya. Lalu, Ustaz Abdullah bertanya:

“Oh, ini Saeful, muridnya Ustaz Abidin?”

“Iya, ustaz.” Jawab sang murid.

“Ya, sudah. Sekarang Saeful tunggu disini, nanti ustaz akan nyuruh santri bagian dapur untuk menyiapkan makan siang. Setelah makan, ustaz akan kembali menemui Saeful,” kata Ustaz Abdullah sambil menawarkan makan siang dengan ramah.

“Baik, ustaz.” Jawab Saeful.

Ustaz Abdullah pun berlalu. Sementara Saeful menunggu di ruang tamu untuk makan siang.

Tak selang berapa lama, datanglah santri bagian dapur dengan membawa sepiring nasi, lauk tempe, daging ayam, sayur kangkung, tak ketinggalan sambal terasi, juga segelas air putih yang disiapkan di atas nampan untuk Saeful.

Setelah makan siang, Ustaz Abdullah menghampiri Saeful lagi sambil berkata:

“Nak Saeful, sekarang kembali dulu saja dan temui Ustaz Abidin, dan sampaikan kepadanya jangan mengejar-ngejar dunia terus. Tak akan ada ujungnya bila terus-terusan mengejar dunia. Hati, pikiran, dan tenaga akan lelah, sebab dunia bukan untuk dikejar hingga tersimpan di dalam hati.”

Mendengar perkataan Ustaz Abdullah tersebut, Saeful pun kembali terheran-heran dan bergumam dalam hati:

“Bukannya terbalik?, Ustaz Abidin kan tidak punya apa-apa, disebelah mana-nya Ustaz Abidin mengejar-ngejar dunia? Lha wong beliau tak punya apa-apa. Justru dia Ustaz Abdullah yang mengejar-ngejar dunia, rumahnya saja besar begini.”

Akhirnya, Saeful pun kembali untuk menemui gurunya dengan sedikit rasa kesal, bahwa gurunya disebut mengejar-ngejar dunia oleh Ustaz Abdullah.

Sesampainya di kediaman Ustaz Abidin, Saeful datang dengan perasaan yang bercampur aduk. Kesal, marah, sedih dan tidak enak.

Tak lama, Ustaz Abidin bertanya kepada muridnya, Saeful. “Nak, sudah bertemu dengan Ustaz Abdullah?”

“Sudah ustaz.”

“Apakah ada pesan darinya untukku?.” Saeful hanya terdiam, karena merasa tidak enak kepada gurunya.

Lalu, Ustaz Abidin menengok dan melihat raut wajah Zainal seolah tahu ada yang ia sembunyikan.

“Katakan saja, jangan sungkan.”

Akhirnya, Saeful pun mengatakan apa yang sudah dikatakan Ustaz Abdullah

“Katanya, ustaz jangan terus-terusan mengejar dunia, karena takkan ada habisnya. Hanya akan membuat lelah hati, pikiran dan tenaga, apalagi bila disimpan dalam hati.” Sambil sedikit sungkan dan khawatir akan menyinggung gurunya.

Setelah mendengar pesan itu, Ustaz Abidin terdiam sambil menundukkan kepala. Sementara Saeful, semakin tidak enak karena t’lah menyampaikan pesan tersebut.
Tak lama, Ustaz Abidin pun menangis.

Melihat gurunya menangis, Saeful berkata:

“Ustaz, maaf kalau pesan ini membuat ustaz tersinggung. Memang aneh Ustaz Abdullah sudah membolak-balikkan fakta.”

Tak lama, Ustaz Abidin membalasnya “Memang benar Saeful, memang benar apa yang Ustaz Abdullah. Kau tahu siapakah beliau?”

Saeful hanya menggelengkan kepala.

“Beliau adalah kakakku. Seringkali beliau menasihatiku seperti itu. Namun, barangkali aku yang membandel. Sebab, seringkali pula aku tak mendengarnya.”

Ustaz Abidin ini adalah seorang nelayan. Rupanya—apabila sedang melaut, pikiran dan hatinya ingin menjadi kaya raya seperti kakaknya, Ustaz Abdullah. Kala pulang dari melaut, hatinya selalu gundah dengan keadaannya saat ini. Kadang, batinnya terucap kata-kata yang mendikte Allah:

“Ya Rabb, apakah engkau tak tahu kondisiku?, kapankah aku seperti Abdullah? Segerakanlah diriku seperti Abdullah, Ya Rabb”

Dalam mencari rejeki di tengah laut, seringkali Ustaz Abidin tak diniatkan karena Lillah, melainkan ingin menjadi kaya. Hatinya selalu terpeleset karena dunia, sementara pikirannya selalu terjebak pada keduniawian. Kali ini, nasihat kakaknya akan didengarkan.

Dunia beserta isinya tak akan menjadi tujuannya, melainkan hanya menjadi sarana saja dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Setelah itu, Ustaz Abidin berkata kepada Saeful:

“Nak, sekarang pergilah kembali ke Ustaz Abdullah. Ajak teman-temanmu yang belajar disini untuk menimba ilmu kepadanya. Pesan sudah aku terima dengan hati ikhlas dan rida. Aku akan merenungi dan introspeksi diri. Selama ini, aku belum pantas menjadi seorang guru apalagi ustaz.”

Saeful pun kembali rumah Ustaz Abdullah dengan membawa sembilan temannya. Kali ini, Saeful benar-benar mondok untuk belajar ke Ustaz Abdullah. Saeful dan teman-temannya, adalah seorang yatim dan fakir yang sudah beberapa tahun dididik agama oleh Ustaz Abidin.

Ustaz Abdullah adalah seorang ahli hikmah—yang ilmunya sudah mumpuni. Guru dari segala guru, dan dalam mengajar, beliau menggunakan tata bahasa yang luwes dan mudah dipahami.

Dalam ilmu hikmah, ada dua ilmu puncak, yaitu, ilmu sabar dan ilmu ikhlas. Kedua ilmu itu adalah inti dari segala inti ilmu. Disana banyak sekali keutamaan yang dapat membersihkan hati dari segala macam penyakit duniawi.

Dari sabar dan ikhlas—kita sebagai manusia dapat mempelajari bagaimana dunia bukanlah tujuan, melainkan sebuah sarana—sehingga dari keduanya, dunia dan akhirat dapat tercapai. Itulah yang didapatkan oleh Ustaz Abdullah yang mana, Ustaz Abidin tidak mendapatkannya.

Dan, suatu hari nanti, apabila Saeful dan teman-temannya sukses, ia berjanji tak akan melupakan gurunya, dan bertekad akan membuat gurunya, Ustaz Abidin, bahagia. Sebab, Ustaz Abdullah bagaikan lautan ilmu dikala Ustaz Abidin pergi ke ke tepian laut untuk mencari ikan sebagai nelayan.

Tangerang, 14 Mei 2025

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image