Kulangkahkan kakiku perlahan menyusuri jalanan di kota Gaza yang telah luluh lantak oleh beberapa serangan yang masih saja menggempur wilayah kami.Gedung-gedung hancur, termasuk tempat tinggal kami selama ini. Semua porak poranda. Rumah-rumah, gedung-gedung semuanya rata dengan tanah.
Air mataku tak terbendung manakala melihat sekolahku-lebih tepatnya universitas tempatku menuntut ilmu selama ini hanya tinggal puing-puing. Beberapa temanku telah syahid. Mereka tak takut dengan serangan dan gempuran dari kaum laknat yang ingin menguasai tanah kami.
Selama beberapa tahun ini aku tinggal di Indonesia. Salah satu negara yang selalu bersama bahu membahu membantu negaraku. Aku mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di sana. Di bidang pertahanan.
Dari dulu rasa kesetiakawanan Indonesia memang sudah sangat tinggi. Negara yang tak pernah gentar menghadapi tekanan manapun karena mereka adalah saudara kami, meski laut dan jarak memisahkan, itu tak menjadi masalah. Indonesia tetap bersama Palestina, negaraku. Aku pun disambut dengan sangat baik oleh orang-orang Indonesia yang tulus, ramah, baik hati dan juga dermawan. Sungguh tak bisa ku ungkap dengan pelbagai kata.
“Ziyad!” seseorang memanggilku. Aku menoleh dan membalikkan badan. Kulihat ada sesosok tubuh di sana menatapku dengan mata berkaca-kaca. Dia adalah Paman Abdurrahman. Salah satu kerabatku yang masih tersisa.
“Paman Abdo!” teriakku langsung berlari dan memeluknya erat. Kami berpelukan erat sekali. Seolah-olah tak ingin berpisah.
“Ziyad, kapan kau datang, Nak?” tanyanya sembari mengusap matanya.
“Baru saja, Paman. Sekarang Paman tinggal di mana?”
Dia menunjuk ke salah satu bangunan yang masih agak utuh. Mengajakku berkunjung dan beristirahat sejenak. Paman Abdo bercerita jika beberapa saudara dan kerabatnya syahid saat mereka tengah bersama-sama mengungsi. Allah sangat menyayangi mereka yang terlebih dahulu sudah kembali.
Aku bercerita tentang keadaanku selama di Indonesia. Aku mendapat perlakuan yang sangat baik dan ramah dari masyarakatnya. Masyarakat Indonesia yang heterogen membuatku bersyukur memiliki saudara-saudara seiman yanh jauh dan penuh empati. Kukatakan pada kerabatku yang lain jika aku sudah semester empat selama kuliah di Indonesia.
Mereka semua terharu ketika kuceritakan semua hal yang kualami. Ayah ibuku memang sudah syahid, termasuk beberapa tetangga, saudara, kerabat dekatku. Hanya tinggal Paman Abdo yang kumiliki sekarang.
“Ziyad, tetaplah di sini sementara waktu. Kau dengar tidak suara tembakan dan bom-bom itu masih saja terdengar. Kau takkan bisa keluar dengan selamat jika akan pergi sekarang. Tunggulah beberapa hari lagi.
Aku iyakan saja sambil mengajarkan bahasa Indonesia kepada beberapa anak yang juga berlindung dengan Paman Abdo. Seorang anak yang sudah yatim piatu, Ibrahim, bertanya, “Apakah aku bisa sepertimu, Kak Ziyad? Kami ingin sekolah di Indonesia dan kembali lagi untuk bela negara.”
“Pasti. Aku yakin kalian semua bisa. Kalian semua anak-anak hebat yang tak kenal takut. Pejuang-pejuang sejati pilihan Allah.”
Aku terus memotivasi mereka sebelum akhirnya satu ledakan besar mengguncang beberapa bangunan tak jauh dari kami. Keadaan genting dan mencekam. Anak-anak itu bertangisan. Paman Abdo rupanya telah membuat bunker bawah tanah untuk berlindung. Aku menyuruh mereka untuk masuk ke sana satu per satu.
Setelah aman, aku berpamitan kepada Paman Abdo akan bergabung relawan dari Indonesia yang ada di Gaza untuk menghubungiku. Saat yang tepat kunanti. Satu mobil melintas dan membawaku pergi ke perbatasan Mesir. Aku menemui teman Indonesiaku di sana.
“Ziyad. Perjuangan masih panjang. Aku tahu luka-lukamu masih tersimpan jauh dilubuk hatimu. Tapi cita-citamu untuk negaramu jangan sampai kendor.”
Satu anggukan berarti ya, tamda persetujuan. Namun tiba-tiba satu ledakan membawa tubuh kami melayang entah kemana. Aku tak ingat apa-apa lagi.











