Home / Genre / Chicklit / 20. Pesta Pasangan

20. Pesta Pasangan

MERAJUT MASA SILAM
1
This entry is part 22 of 34 in the series Merajut Masa Silam

Arya Daringin kembali ke sofa, tapi Ghea merasa harus mengatakan sesuatu. 

“Kenapa kamu tidak pergi ke acara pasangan bersamaku, Kangmas?”

“Apa aku perlu?” Dia mengejek, sambil memegang bantal di sampingnya.

“Yah, alangkah baiknya kalau Kangmas bisa pergi memenuhi undangan mereka.”

“Mereka tidak mengatakan itu wajib, kan? Lagipula aku tidak tertarik.”

“Apa maksudmu?” Ghea mulai marah.

“Yah, aku melihat ekspresi wajahmu waktu aku bialang tidak akan datang. Apa kamu benar-benar berpikir aku akan pergi bersamamu? Seberapa bodohnya kamu? Berpikir aku akan pergi bersamamu ke acara itu. Kita bukan pasangan, kalau-kalau kamu lupa itu.”

“Aku tidak melupakan itu! Aku juga tidak memintamu untuk datang sebagai suamiku atau—”

” Jadi kenapa kamu kecewa?” Arya Daringin menyela. “Oh, apakah ini bagian di mana kamu mencoba membuatku pergi dan merayuku untuk tidur denganmu sehingga kita bisa hidup bahagia selamanya?”

“Kamu gila!” Hilang sudah kesabaran Ghea.

Arya Daringin duduk tegak. 

“Ya, Ghea, aku tahu kamu di sini untuk suatu tujuan. Kalau tidak, kenapa kamu datang ke sini? Kenapa kamu mengikutiku ke sini? Jawab aku! Aku tidak ingin ada hubungan apa pun denganmu. Tidak peduli seberapa sering kamu muncul dalam mimpiku atau seberapa menggairahkan penampilanmu waktu keluar dari kamar mandi. Pernikahan ini tidak akan berhasil. Aku tidak menginginkanmu. Jadi, pergilah ke pesta. Mungkin salah satu dari lelaki malang di sana akan menganggapmu menarik dan tidur denganmu karena itulah yang kamu inginkan!”

Kata-kata Arya Daringin menusuk perasaan Ghea. Itu adalah kata-kata paling kasar yang pernah diucapkan seseorang kepadanya. Air matanya menggenang, dan perlahan dia berbalik, melangkah menaiki tangga dengan tenang. 

Dia tidak akan pernah melihatku menangis!

***

Aku seharusnya tidak mengatakan itu!

Sial! Aku seharusnya tidak mengatakan itu!

Arya Daringin memukul bantal beberapa kali dengan kepalan tinjunya karena emosi. 

Apa yang merasukiku? Itu adalah hal paling kejam yang bisa kukatakan kepada seseorang yang telah merawatku ketika aku tak berdaya.

Tapi aku tidak memintanya!

Arya Daringin melupakan nyeri di tubuhnya ketika duduk tegak. Dia tadinya mengira ini adalah permainan yang biasa mereka mainkan dan dia berharap Ghea akan membalas dengan caci maki seperti biasa. Tetapi Ghea malah pergi begitu saja. Dia bisa melihat bahwa Ghea terluka, padahal dia tidak pernah menyangka wanita itu bisa terluka.

Ghea biasanya membalas semua kata-katanya dengan tajam. 

Apa yang merasukinya?

Mengapa dia tidak membalas dengan cara yang sama? Mengapa dia diam saja? Dan mengapa aku merasa bersalah?

Mengapa aku merasa sangat bersalah?

Dia datang ke sini tanpa diundang! Semua yang terjadi padaku terjadi karena dia, jadi mengapa aku tidak boleh bersikap jahat padanya? 

Hari ketika Ghea memandikannya membanjiri ingatannya. Arya Daringin tidak tahu apa yang sedang dia lakukan dengan tangannya yang terus mengirimkan getaran ke seluruh tubuhnya. Dia tidak tahu apakah Ghea merasakannya juga, tetapi menurutnya wanita itu pasti sama merasakannya juga. Untuk sesaat, mereka bertukar pandang dan Ghea mengalihkan pandangan. 

Hari itu, Arya Daringin berjanji tidak akan pernah membiarkan Ghea memenyentuhnya lagi.

Sangat sulit untuk mandi dan membersihkan luka-luka sendiri, tetapi dia harus melakukannya. Dia tidak ingin perasaannya mengkhianati akal sehatnya.

Ghea telah mengambil alih segalanya. Pikirannya, perasaannya,  bahkan kamarnya! 

Kamar yang seharusnya dia tempati bersama wanita yang dia kehendaki. 

Sekarang Ghea telah menguasai segalanya. Arya Daringin bahkan tidak bisa tinggal di kamarnya sendiri. Dia harus berbaring di sofa yang tidak nyaman ini sepanjang hari.

Dua hari yang lalu, Arya Daringin ingin memilih baju dan kemudian dia melihat siluet Ghea melalui tirai tipis memakai handuk yang diikatkan longgar di sekeliling tubunnya. Caranya membungkuk sambil mengoleskan salep dari pergelangan kakinya hingga ke pangkal paha lebih dari yang bisa ditanggung Arya Daringin.

Mengapa dia tidak menutup pintu? Wanita itu bertekad menghancurkanku! Menghantuiku dalam mimpi dan kenyataan! Aku sangat menginginkannya. Aku takut sentuhan sekecil apa pun akan membuatku meledak. Maka aku menjauh sejauh mungkin! Aku tidak tahu apakah dia tahu apa yang sedang dilakukannya, tetapi aku rasa dia tahu.

Setiap kali Ghea membawakan makanan untuknya, cara Ghea membawa diri dengan anggun, dengan rambut yang terlihat lembap, membuatnya terlihat sangat menggoda ketika baru saja selesai mandi dan harus bergegas ke dapur. 

Arya Daringin menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Ghea telah mengubahnya menjadi pria jahat dan sekarang dia merasa bersalah. 

Apakah aku salah karena ingin melindungi diriku sendiri?

“Kangmas, aku pamit. Kangmas bisa mengurus semuanya sendiri, kan?”

Arya Daringin mengangkat kepalanya dan melihat Ghea berpakaian lengkap membawa tas bersamanya.

“Kamu membawa tasmu?” tanya Arya Daringin tanpa bisa menahan diri.

“Ya, acaranya lima hari! Aku membawa semua yang mungkin aku butuhkan. Sampai jumpa!’

“Tapi, ini belum malam,” katanya lagi.

Ringin, tutup mulutmu!

“Jadi?” tanya Ghea sambil mengangkat bahu dan Arya Daringin terdiam. “Lebih cepat lebih baik.”

“Apakah kamu , ehm … sudah memasak makanan?” 

Kedengarannya sangat bodoh.

Ghea mendengus. 

“Kangmas sudah besar, aku yakin Kangmas akan baik-baik saja. Kamu harus berhati-hati berhadapan dengan wanita yang punya maksud tertentu, bisa saja masakannya dibubuhi racun. Bukan begitu?” 

Setelah mengatakan itu, Ghea membuka pintu dan pergi.

Arya Daringin bergegas ke jendela dan menarik tirai, memperhatikan Ghea berjalan melewati hutan sampai akhirnya tak terlihat lagi.

Astaga! Ini akan menjadi hari terpanjang dalam hidupku! 

Arya Daringin jatuh telentang di sofa dan memejamkan matanya.

***

Beberapa jam kemudian, dia terbangun karena merasakan lapar yang luar biasa. Dia berhasil berjalan ke dapur. Dia belum pernah memasuki dapur seumur hidupnya. 

Arya Daringin membuka lemari. Dia mengenali setiap bahan makanan, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengolahnya. 

Mungkin aku bisa membuat teh.

Dia menyalakan kompor minyak tanah dan menaruh ketel berisi air di atasnya sambil menunggu air mendidih. 

Menunggu sungguh menyiksa!

Tepat ketika air dalam ketel mulai mendidih, dia menyadari bahwa dia tidak tahu di mana daun teh disimpan.

Arrrrgh! Siaaal!

Dia tahu apa yang harus dia lakukan. 

Arya Daringin mematikan kompor dan mengemas beberapa pakaian ke dalam tas. Dia akan pergi ke acara terkutuk itu sebelum mati kelaparan.

***

Ketika melangkah keluar dari perahu, hari sudah gelap. Tukang perahu menunjuk ke tempat acara yang tidak sulit untuk dikenali. Itu seperti pasar malam. Ada mawar dan bunga serta banyak cahaya obor dan api unggun di mana-mana, mengarah ke perkemahan yang sangat besar. 

Orang-orang berdiri di mana-mana, berdua atau bertiga, minum dan tertawa. Musik gamelan terdengar dari perkemahan besar yang berdiri agak jauh.

“Gusti Pangeran Arya Daringin!”

Dia mendengar seseorang memanggil namanya dan dia berbalik. Yusuf bersama dua pria tua berdiri di belakangnya.

“Ah, Lik Yusuf,” dia menyapa sambil tersenyum.

“Sungguh mengejutkan, kami tidak menyangka Gusti Pangeran akan datang.”

Yusuf tampak senang ketika Arya Daringin tersenyum dan mengangguk kepada pria-pria lainnya.

“Aku hanya tidak ingin mati karena bosan,” Arya Daringin.

“Ikutlah dengan saya. Saya yakin Gusti Putri Ghea akan kaget melihat Anda.”

“Tidak, tidak, belum saatnya, bolehkah aku makan dulu? Aku kelaparan.”

Yusuf tertawa lalu mengangguk. “Tentu saja, ikut saya.”

Arya Daringin mendesah dan mengikutinya.

Merajut Masa Silam

9. Drama dan Drama Lagi 1. Tenda Wanita
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 49

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 49

Resensi Buku: Bidadari Bermata Bening

Resensi Buku: Bidadari Bermata Bening

Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 1)

Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 1)

Syena: Perempuan Bernama Elang

Syena: Perempuan Bernama Elang

Gelap

Gelap

Antologi KompaK’O

Random image