Home / Genre / Chicklit / 8. Tawaran

8. Tawaran

The Lion of Giza 1600x900
2
This entry is part 9 of 11 in the series The Lion of Giza

Tanpa terasa, dua tahun sudah Hamzah menjalani suka duanya di Kairo. Sesekali, dia menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya. Setelah itu dia kembali lagi, karena baginya, waktu sangat berharga.

Pagi itu Professor Kamal memanggil Hamzah untuk menemuinya  di ruang kerjanya.  

“Duduklah, Hamzah. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Silakan, Prof.”

Pria yang memasuki usia senja itu pun menghirup napas sejenak sebelum melanjutkan, “Hamzah, aku punya penawaran bagus untukmu, aku harap kau tertarik dengan ini, tapi aku harus memastikannya dulu padamu.”

Tentu saja, ucapan Professor  Kamal membuat Hamzah bertanya-tanya, “Tentang apa, Prof?”

Pria itu kembali tersenyum. Gurat-gurat di wajahnya  menyerahkan kebahagiaan. “ Ada salah satu teman yang sedang butuh asisten di perusahaan tempatnya bekerja. Kebetulan, perusahaannya kini sedang membangun beberapa gudang dan gedung baru. Nah, di sini aku menawarkanmu untuk bekerja dengannya_ katakanlah ini magang dan sebagai latihan kerja nyata.”

Hamzah terdiam. Professor Kamal melanjutkan, “Aku berani mengajukan padanya, karena aku melihat kemampuanmu, tidak hanya prestasimu selama beberapa semester ini.”

“Ta_tapi, say belum ada pengalaman, Prof.”

“Tidak masalah, Hamzah. Nanti kau akan belajar banyak hal di sana. Justru mereka memang sedang mencari calon insinyur-insinyur baru yang bisa memajukan negara ini.”

Tanpa banyak berpikir, Hamzah menyetujui. “Baik, Prof.”

“Besok, datanglah ke rumah. Kita akan ke sana bersama.”

“Baik, Prof.”

***

Keesokan harinya

Tepatnya di hari libur, Professor Kamal mengajak  Hamzah ke  rumah salah satu sahabatnya. Dia memperkenalkan pemuda cerdas nan sederhana itu kepadanya.

“Mahfud, ini Hamzah, pemuda berprestasi dan pekerja keras yang sering aku ceritakan padamu. Dia layak menjadi bagian dari rencana spektakulermu. Semoga kau bisa bekerja sama dengannya,” puji Professor Kamal kepada  sahabatnya.  Sejujurnya, dia juga sangat bangga karena Hamzah merupakan satu-satunya mahasiswa yang terpilih di universitas itu.

Hamzah tertunduk. Dia merasa malu dengan sanjungan berlebihan yang diucapkan Professor Kamal. Sementara, pria yang dipanggil Mahfud tersenyum mendengar penjelasan Professor Kamal. Sejenak dia terdiam, mengamati gerak-gerik Hamzah.  Pemuda itu memiliki sesuatu yang membuatnya terasa memiliki aura kuat.

“Hamzah!” panggil Mahfud.

“Iya, Pak,” jawab Hamzah  seraya mendongakkan wajah. Keduanya bertatap mata sejenak. 

“Rasanya aku tak perlu bertanya panjang lebar tentang dirimu, Hamzah. Cerita dari sahabatku sudah mewakili semua tentangmu. Dan_ya, kau bisa mulai bekerja denganku besok, sore kau bisa kuliah.”

Kata-kata Mahfud membuat Hamzah terkejut. Tidak menyangka jika akan secepat ini.

Namun, Hamzah tersenyum dalam  hati,  merasa hal ini menjadi ujian pertama  sesungguhnya.  Sesuatu yang baru yang akan menjadi awal pembelajaran baginya. Kerja nyata yang sesuai dengan mata kuliah yang sesuai dengan jurusannya.

“Hamzah, kau sudah siap?”

Hamzah tersentak. Cepat-cepat ia kuasai hatinya. “Iya, Pak.  Insya Allah.”

“Jangan ragu, Hamzah. Jika kau ragu atau setengah-setengah saja menanggapi ini, maka hasilnya takkan maksimal. Tapi, jika kau sudah mantap dan yakin, aku yakin kau mampu.”

Hamzah mengangguk tanda setuju. “Baik, Pak. Saya akan lakukan yang terbaik.”

“Bagus, anak muda. Sekarang aku akan mengajakmu ke tempat kerja barumu. Bagaimana, Kamal?”

“Aku setuju.”

“Baiklah. Sekarang  kita ke sana. Ayo!”

Hamzah memulai pekerjaan barunya sebagai asisten salah satu pengawas   di perusahaan konstruksi yang dipimpin Mahfud. Hari pertama bekerja dia diberi pengarahan dan  juga pembekalan. Ada beberapa mahasiswa yang juga bekerja  di sana seperti Hamzah, mereka adalah Rayyan dan Syuaib.

Hamzah jadi satu tim dengan mereka. Pemuda itu sangat mudah beradaptasi dengan teman-teman barunya.

Rayyan berasal dari Luxor, sedangkan  Syuaib berasal dari Alexandria. Mereka merupakan mahasiswa pilihan yang telah disaring untuk ikut proyek yang akan digarap oleh perusahaan konstruksi pimpinan Mahfud.

***

London-Inggris

“Luke, aku sudah katakan bahwa aku akan segera pulang ke Mesir. Ayahku yang memintanya.”

Wanita itu terdiam usai mengakhiri kata-katanya.  Sedangkan pria yang dipanggil Luke tersenyum.

“Apakah sudah aku pikir matang-matang, Fathiya?” ucapnya penuh pengharapan.

“Sudah, Luke. Liburan kali ini aku akan kembali ke Mesir sementara waktu. Aku tidak bisa mengabaikan permintaan ayahku.”

“Baiklah, Fathiya. Aku takkan memaksa. Aku sadar jika kau pun memiliki keluarga di tempat jauh. Aku hanya memastikan kau baik-baik saja.”

“Tuhan selalu bersamaku, Luke. Jangan khawatirkan itu.”

Mengapa Fathiya tidak paham maksudku? Aku tidak ingin dia meninggalkanku dan berpaling kepada yang lain. Apakah aku harus mengikuti Fathiya? Ah, tidak! Aku tidak boleh terlalu mengontrol Fathiya jika tidak ingin kehilangannya.  Baiklah, Fathiya. Aku akan tetap menjaga hatiku untukmu.

“Tentu saja, Fathiya. Aku bersyukur mempunyai sahabat sepertimu.”

“Aku juga, Luke. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini.”

“Ah, tidak masalah. Kita adalah sahabat, bukan? Aku sudah lama mengenalmu. Jadi, jangan ragu ataupun sungkan jika kau membutuhkanku. Aku selalu ada untukmu.”

“Sekali lagi, terima kasih, Luke. Lusa aku berangkat. “

“Izinkan aku mengantarmu, Fathiya.”

Fathiya tersenyum. Dia sangat menghargai Luke yang selalu memberikan  perhatian kepadanya. “Baiklah, Luke. Aku tak bisa menolak.”

Dua hari kemudian, Luke mengantar Fathiya ke bandara pagi-pagi sekali. Gadis itu sudah siap dengan barang-barangnya. Sesekali, dirapatkannya jaket tebal yang membungkus tubuhnya. Satu syal rajut kini menghias leher jenjang pemilik wajah cantik nan ramah itu.

Luke datang bersama mobilnya. Pria asli Inggris itu segera  turun dan menyapa Fathiya yang sudah menunggu kedatangannya.

“Hai, Fathiya. Kau sudah siap?”

“Hai, Luke. Ya, aku siap.”

Tanpa banyak bicara, Luke membawakan barang-barang Fathiya ke dalam mobil. Disusunnya dengan rapi dan hati-hati. Luke kembali menutup bagasi mobilnya. Fathiya sudah berada di samping kemudi Luke. Gadis itu menyandarkan tubuh dan menghisap napas perlahan. Matanya terpejam. Ada kerinduan tersimpan di lubuk hati, setelah dua tahun dia tidak pernah pulang ke Mesir.

Ayah, Ibu, aku merindukan kalian.  Tunggulah, aku segera datang.

Luke memperhatikan cantik Fathiya selama beberapa detik. Bersamaan dengan itu, Fathiya membuka matanya. Luke merasa grogi. Ia kembali mengalihkan konsentrasinya untuk segera mengemudi.

“Fathiya, kita segera berangkat. “

“Baiklah, Luke.”

Luke mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota London yang masih sepi. Untung saja saat itu sedang musim panas, jalanan begitu lancar tidak mengalami hambatan. Berbeda ketika musim dingin. Salju akan menghambat laju kendaraan. Antrean kemacetan.

The Lion of Giza

. Ujian . Proyek Spektakuler
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Antologi KompaK’O

Random image