Home / Genre / Romansa / 27. Kembang Jintan, Sekali Lagi

27. Kembang Jintan, Sekali Lagi

MERAJUT MASA SILAM
This entry is part 29 of 34 in the series Merajut Masa Silam

“Bangun Sayang, kita sudah sampai.”

Mendengar suara Arya Daringin, Ghea membuka matanya. Mereka sudah menempuh perjalanan selama berjam-jam karena sekarang sudah agak gelap, tetapi kereta tidak bergerak. Ghea tersadar kalau ternyata mereka berada di depan keraton.

Pepohonan mengelilingi tembok keraton seperti pasukan besar yang mempertahankan benteng. Keraton itu indah meski dalam gelap. Tenang dan megah. Keraton itu mungkin melambangkan perlindungan dan rumah bagi banyak orang, tetapi bagi musuh yang paling berani pun akan gemetar karena gentar.

Ini pertama kalinya dia melihat sesuatu seperti ini dalam kehidupan nyata, kecuali di film-film kolosal. Keraton itu sangat sulit untuk dijelaskan. Sangat besar, sangat megah. Tidak seperti gedung pencakar langit atau bangunan modern lainnya, tetapi besar dan megah karena berada di puncak bukit. kira-kira seperti itu. Dan karena dibangun di di lereng bukit hingga ke puncak dibagi menjadi beberapa tingkat, kesannya sunggu luar biasa.

Ghea turun dan memegang tangan Arya Daringin setelah suaminya turun dari kuda. Beberapa abdi dalem keraton bergegas ke sisi mereka untuk membantu membawa tas-tas. Tepat saat itu Ghea melihat Lastri yang tampak begitu gembira ketika melihatnya.

“Gusti Putri!” serunya sambil berlari ke pelukan Ghea yang terentang.

“Aku sangat merindukanmu, Santi,” kata Ghea, mencium pipinya.

“Berhasil, Gusti?” bisik Lastri di telinganya.

“Ya, berhasil. Lebih dari yang kamu sangka,” bisik Ghea kembali dan Lastri terkikik.

Arya Daringin sedang berbicara dengan punggawa keraton dan memeluk beberapa dari mereka.

“Kemarilah, Sayang,” katanya pada Ghea, mengulurkan tangannya. 

Ghea mengedipkan mata pada Lastri yang tidak bisa berhenti menyeringai. Ghea meraih tangan Arya Daringin dan mereka berjalan bersama menuju dalem keraton.

***

Ketika memasuki gerbang utama yang melengkung, mereka melewati sebuah lengkungan gua dengan pintu-pintu kayu jati terbuka dan tertutup dengan suara yang mengejutkan di belakang mereka. Bunyi jeruji besi berat yang berdenting seperti dalam bangunan kolonial abad pertengahan, mengingatkan Ghea pada film-film sejarah.

Mereka berada di halaman terbuka seluas sekitar empat puluh lima meter persegi dengan beberapa halaman rumput, hamparan bunga yang dikelilingi di keempat sisinya dengan bangunan setinggi tiga lantai. Ghea tidak tahu dari mana datangnya cahaya, tetapi di mana-mana begitu terang sehingga sulit untuk mengatakan bahwa di luar gelap.

Beberapa pria duduk di meja, minum dan makan. Para musisi sedang bermain gamelan dan ketika mereka melihat Ghea dan Arya Waringin, sebagian besar dari mereka berdiri, tertawa dan bertepuk tangan menyambut pangeran mereka yang melepaskan tangan Ghea dan pergi untuk memeluk mereka satu demi satu.

Ghea mendengar Arya Daringin menyebut “Pakde” atau “Paklik” ketika menyapa mereka. Dian memperhatikan dengan penuh minat sambil berdiri di samping Lastri dan beberapa dayang-dayang.

“Nunung ada di mana?” tanya Ghea ke Lastri.

“Dia membantu menyiapkan makanan.”

“Siapa orang-orang itu?” tanya Ghea lagi.

“Mereka adalah saudara-saudara Sultan dan para penasihatnya, kebanyakan dari mereka adalah pembantu Sultan,” jawabnya.

“Tapi di mana Sultan?” tanya Ghea.

Lastri melihat sekeliling sebelum dia berhenti dan menunjuk dengan jempol tangan kanan. 

“Itu Sultan.”

Sultan bertubuh tinggi jangkung. Rambutnya putih dan memakai gelang perak di kepalanya. Liontin bersinar di tengah dahinya. Dia bertubuh tegap, tubuh seorang pria yang telah bertempur dalam ribuan perang. Perawakannya mengundang rasa hormat dan gerakannya menunjukkan keagungan.

Sultan mengenakan jubah sutra yang menyapu lantai dan dia berjalan dengan penuh wibawa. Dia tampak kuat bahkan di usia tuanya. Dua orang pengawal berada di belakangnya mengiringanya berjalan menuju halaman. Matanya bersinar dalam cahaya dan semua orang membungkuk penuh hormat ketika dia mendekat. Bahkan Ghea menahan napas ketika melihatnya. Anehnya, Sultan tampak tak asing di matanya.

“Ayahanda,” Arya Daringin menyapa, nadanya terdengar resmi, berdiri tegak menunggu reaksi ayahnya.

Sultan berjalan ke arahnya, wajahnya tanpa ekspresi. Mereka saling menatap sebentar. Mendadak sunyi. Bahkan gamelan pun berhenti.

“Anakku!” 

Akhirnya Sultan membalas sambil tersenyum dan memeluk Arya Daringin yang kulihat akhirnya bernapas dan kemudian membalas pelukan ayahnya.

Ghea  menghela napas lega ketika gamelan berlanjut dan semua orang kembali melakukan aktivitas mereka yang sempat terhenti.

“Apakah selalu seperti ini di sini?” tanya Ghea pada Lastri.

“Ya, sering,” jawab Lastri. “Gusti Putri harus pergi  temui Sultan sebelum dia menanyakan Gusti Putri.”

Ghea mengangguk dan berjalan ke tempat suaminya dan Sultan berada. Dia berdiri di belakang Arya Daringin sampai Sultan melihatnya dan menjauh dari putranya.

Ghea membungkuk ketika Sultan mendekat ke arahnya

“Oh! Aku lihat kalian berdua masih bersama.”

“Ya, Ayahanda. Ini istriku yang cantik, Ghea,” kata Arya Daringin sambil memeluk pinggang Ghea

Sultan menatap mereka dengan curiga, lalu dia a tampak terkesan. 

“Kemarilah, Nduk Ayu! Kamu sudah mengalahkan dirimu sendiri.”

Sultan secara mengejutkan menarik Ghea lebih dekat dan memeluknya.

“Kakang, senang Kakang bisa datang,” Ghea mendengar seseorang berkata.

“Aku tidak akan melewatkannya, Dimas,” jawab Arya Daringin, dan tepat saat Sultan melepaskan pelukannya. 

Ghea melihat Arya Daringin dan seorang pria lain dengan tinggi dan bentuk tubuh yang sama dengan suaminya berpelukan. Kemudian Arya Daringin menjauh dan menarik Ghea lebih dekat padanya. 

“Wisang, ini istriku, aku yakin kamu pasti ingat,” dia memperkenalkan. Ghea menatap pria di depannya, napasnya tercekat. 

“Bagaimana mungkin aku bisa melupakan Ghea yang cantik, Kakang?” 

“Ghea, ini Arya Wisanggeni, adikku.” 

Ghea berdiri mematung saat pria itu meraih tangannya dan menciumnya, menatap Ghea dengan tatapan penuh arti. 

“Gusti Putri,” katanya sambil membungkuk. 

“Gusti Pangeran,” balas Ghea kaku. 

Pria gagah dan mengenakan jubah kerajaan yang megah adalah Waiz, kekasih gelapnya.

***

“Jadi, apa yang akan Gusti Putri lakukan?”

“Sejujurnya, Santi, aku tidak tahu.”

Lastri dengan cepat bergegas mengambil pakaian dari lemari. Dia sama gelisahnya dengan Ghea, atau bahkan lebih lagi. Bertentangan dengan apa yangh diharapkan Ghea, pesta akan dimulai malam ini. Dia berada di kamar dan Lastri mendandaninya.

“Tapi, saya bertanya-tanya, apakah Gusti Putri tidak bertemu dengan Gusti Pangeran Arya Wisanggeni sebelum pernikahan? Saya tidak mengerti bagaimana Gusti Putri tidak tahu mereka bersaudara,” lanjut Lastri.

Ghea baru ingat bahwa Lastri tidak tahu kalau dia adalah Ghea yang berbeda. Ghea yang dulu pasti tahu, tapi dia tidak tahu. Dia benci Ghea yang itu!

“Santi, sekarang tidak penting aku tahu apa tidak. Yang penting adalah bagaimana caranya aku memutuskan Waiz.”

Lastri menyisir rambut Ghea dengan hati-hati.

“Bisakah Gusti Putri melakukannya malam ini?” tanyanya.

“Aku … aku perlu tahu apa yang sedang direncanakannya, baru aku akan memutuskannya.”

Lastri tidak berkata apa-apa sambil memasang tusuk konde di rambut Ghea.

“Menurutmu, apakah aku harus memberi tahu suamiku?” 

“Saya tidak tahu, Gusti. Tapi saya rasa Gusti Putri harus memberitahu Gusti Pangeran Arya Daringin secepatnya.”f

Merajut Masa Silam

6. Sembuh 8. Waiz Ingin Bertemu
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image