Ghea menggigit bibir Arya Daringin, tangannya yang lain masuk ke dalam baju suaminya, membelai bulu dada. Otot-otot pria itu menegang ketika Ghea menggigit telinganya.
Arya Daringin menelan ludah dan meraih tangan Ghea. Lalu mereka berdua berhenti, bernapas serempak, saling pandang.
Di mata Arya Daringin, Ghea begitu cantik, membuatnya tenggelam dalam pesona istrinya, tetapi dia tahu dia mungkin akan melukainya. Ghea harus sembuh terlebih dahulu.
“Kau sangat cantik, Ghea. Aku begitu menginginkanmu,” kata Arya Daringin sebelum mendaratkan ciuman di antara belahan dadanya. Ghea menggigil.
“Tapi aku tidak ingin menyakitimu. Kau harus sembuh dulu.”
Ghea mendesah dan tersenyum, mencium telapak tangan Arya Daringin, lalu mengangguk.
Arya Daringin mencium kening Ghea dan menata selimut untuk menutupi tubuh Ghea. Tepat ketika dia akan berdiri, Ghea menangkap tangannya.
“Kangmas, tinggallah bersamaku.”
Arya Daringin tersenyum. Rasanya begitu indah.
Dia kemudiant berbaring telentang dan menutupi tubuhnya dengan selimut dan Ghea meletakkan kepalanya di dada Arya Daringin. Pria itu melingkarkan lengannya memeluk Ghea.
“Ini mimpi yang indah. Berbaring dengan Gusti Pangeran Arya Daringin yang terkenal keras kepala dan mau menang sendiri,” bisik Ghea menggoda, membuat Arya Daringin tersenyum.
“Aku mencintaimu apa adanya, Kangmas. Kamu melengkapi semua kekurangan dalam hidupku. Dan aku mencintaimu bahkan sebelum aku tahu aku punya seorang suami. Tepat seperti dalam mimpiku.”
Arya Daringin mengusap rambut Ghea yang halus dengan penuh kasih sayang.
“Aku juga mencintaimu, Ghea. Begitu besar dan dalam rasa cintaku padamu. Kamu telah menghancurkan tembok harga diriku. Aku menginginkanmu melebihi apapun yang pernah kuinginkan. Tetap saja aku bersedia menunggu sampai kau sembuh. Kau milikku, dan hanya milikku,” bisik Arya Daringin.
***
Pagi yang indah, mungkin pagi yang paling manis. Untuk pertama kalinya Ghea merasa bahagia. Dia jatuh cinta dan cinta yang dia rasakan membuat segalanya begitu indah.
Dia masih berbaring di tempat tidur. Lengannya sudah tidak sakit lagi. Masih sakit sedikit , tapi tidak seperti kemarin.
“Hai cantik.”
Ghea tersenyum ketika mendengar suara dari belakang punggungnya.
“Hai,” jawabnya, berbalik untuk berbaring telentang.
Arya Daringin membawa nampan yang ditaruh di meja di samping tempat tidur. Lalu dia membungkuk untuk mencium istrinya.
Rasanya semua terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Apakah ini benar-benar terjadi? Arya Daringin adalah benar-benar suamiku? pikir Ghea.
“Bagaimana lenganmu?” tanya Arya Daringin, duduk di samping Ghea dan memegang tangannya.
“Sudah lebih baik,” jawab Ghea sambil tersenyum.
Mereka terdiam saling pandang. Ghea tiba-tiba merasa malu dipandang seperti itu dan dia mengalihkan pandangan.
“Kenapa Kangmas menatapku seperti itu?” tanyanya, tidak berani menatap mata Arya Daringin.
Arya Daringin mendesah dan mencium telapak tangan Ghea
“Karena aku tidak tahu mengapa butuh waktu lama untuk menyadari betapa aku telah jatuh di bawah pesonamu. Kau bahkan terlihat lebih cantik di pagi hari,” jawab Arya Daringin
Ghea tersipu-sipu malu.
“Aku membawakanmu sarapan dan obat yang diberikan Munah. Kau harus duduk.”
Ghea berhasil duduk dan Arya Daringin menyerahkan secangkir teh kepadanya.
“Kita berangkat hari ini, Ghea. Besok acara pesta Ayahanda Sultan dan bagusnya jembatannya sudah selesai diperbaiki, siap untuk dilewati.”
“Wow! ”
“Aku tahu.”
Mereka harus berangkat tepat waktu.
Ghea benar-benar tidak sabar untuk pulang. Selain untuk menghadiri pesta yang diadakan sultan, juga untuk merayakan ulang tahunnya dengan suaminya.
Arya Daringin membelai pipinya, menatap matanya dengan mesra.
“Aku sudah tak sabar ingin memberi kejutan kepada Ayahanda Sultan dan mengatakan padanya bahwa aku jatuh cinta pada istriku.”
Ghea tersenyum. Rasanya sangat menyenangkan bisa tersenyum karena bahagia.
“Bahkan saudaraku akan terkejut. Aku tidak peduli sama semua orang. aku hanya ingin dunia tahu bahwa aku jatuh cinta padamu. Jadi cepatlah, aku yang harus memandikanmu kali ini.”
Ghea tertawa terbahak-bahak.
“Tidak mungkin, Kangmas!”
“Oh, sayang! Ini saatnya pembalasan dendam! Kau ingat apa yang kau buat aku mengalami mandi yang paling memalukan?”
“Aku tidak sekejam itu, tahu. Kangmas keras kepala dan aku bisa sangat penurut, tidak seperti Kangmas.”
Arya Daringin tersenyum dan menggeram pura-pura kejam.
“Kita lihat saja nanti, sayang,” jawabnya, lalau merengkuh Ghea ke dalam pelukannya dan mendaratkan sejuta ciuman di dahi istrinya.
***
Beberapa jam kemudian, setelah mengucapkan selamat tinggal kepada semua orang, mereka kembali ke pondok . Tepat ketika perahu menyentuh pantai, Arya Daringin menggendong Ghea dalam pelukannya, membuat Ghea sangat terkejut.
“Aku ingin membuktikan kepadamu bahwa aku bisa lebih peduli daripada dirimu, sayang,” katanya.
Ghea tertawa dan melingkarkan lengannya di leher Arya Daringin yang kekar agar tetap seimbang ketika suaminya mengeluarkan mereka dari perahu.
“Kangmas sadar, nggak? Tidak semuanya harus menjadi ajang adu ketrampilan, Kangmas.”
“Katakan saja kalau kau tidak menyukainya,” jawab Arya Daringin ketika akhirnya merkea berada di luar perahu.
“Aku tidak menyukainya,” jawab Ghea keras kepala.
“Kalau begitu aku akan menjatuhkanmu ke dalam air!”
Ghea berpegangan erat di leher Arya Daringin sambil tertawa ketika Arya Daringin pura-pura mengancam akan melepaskan cengkeramannya.
“Tolong, tolong! Baiklah, aku suka! Aku suka!”
“Kau bilang apa?”
“Aku suka.”
“Bagus!” ucap Arya Daringn dan dia keluar dari air, lalu dengan hati-hati menurunkan Ghea ke pasir pantai.
Ghea hendak menjitak kepalanya, tetapi dia menghindar hingga membuat Ghea hampir kehilangan keseimbangan. Dengan sigap Arya Daringin menangkap Ghea dan menariknya ke dalam pelukannya. Tangannya Arya Daringin dengan erat melingkari pinggul Ghea, menarik Ghea merapat padanya.
Ghea merasakan napas panas Arya Daringin menyapu wajahnya ketika pinggul mereka bersentuhan dan jarak di antara mereka menghilang.
“Aku menginginkanmu,” bisik Arya Daringin. Dia dia menunduk untuk menyentuh bibir Ghea. Itu adalah ciuman yang penuh gairah, keras dan dalam, membuat Ghea menginginkan lebih dan lebih lagi. Bibir mereka terasa hangat membara, saling pagut, saling gigit, saling basuh dengan lidah basah.
Ghea merasa tersesat, di dunia ini yang hanya ada dia dan Arya Daringin dan dia tidak ingin kembali. Tubuhnya bereaksi ketika dia ku mencelupkan tanganku ke rambut suaminya…
Saat itu terdengar suara batuk-batuk dan mereka melambat. Napas keduanya memburu cepat.
“Maaf Gusti Putri, Gusti Pangeran, tapi kita harus pergi sebelum terlambat.”
Ghea tersipu malu ketika mendengar suara Musri, tapi Arya Daringin tidak melepaskannya, dia malah mendaratkan lebih banyak ciuman di leher Ghea sebelum mengembuskan napas ke telinga Ghea.
“Maaf soal itu, sayang. Kita akan melanjutkan apa yang telah kita mulai nanti.”
Ghea tersenyum dan menjilat bibir.
“Kangmas masuklah, aku akan bergabung dengan Kangmas sebentar lagi.”
“Baiklah.”
Arya Daringin bertukar basa-basi dengan Yunus sebelum masuk.
Tinggalh Ghea dan Musri.
“Ya Tuhan! Gusti Putri! Anda berhasil! Saya tidak percaya Anda benar-benar berhasil menjinakkan Gusti Pangeran!”
Ghea tersenyum.
“Diam, Mang!”
“Saya sangat senang, sekarang saya dan keluarga saya bisa tenang. Terima kasih banyak! Benar juga apa yang mereka bilang.”
Ghea tertawa.
“Apa yang mereka bilang, Mang?”
“Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang wanita.”
Ghea tertawa.
“Tunggu sebentar, aku akan berkemas.”
“Baik, Gusti Putri.”










