Home / Fiksi / Cerpen / Variabel Terkasih Nenek Kora

Variabel Terkasih Nenek Kora

Variabel Terkasih Nenek Kora
1

“Ini di mana? Kenapa aku bisa nyampe sini?” Nenek Kora melihat sekitar dengan ekspresi linglung sekaligus panik.

Langkah yang tertatih kembali diam. Mata sayunya berkaca-kaca, sementara peluh sudah memenuhi dahi sejak lima menit yang lalu.

Jalanan di sekitar taman lansia memang teramat lengang meskipun berada di samping jalan raya. Nenek Kora termenung sambil berdiri, kecemasan membayang di wajah rentanya. Waktu mendekati senja saat dia kembali melangkah.

Tanpa sadar, kaki yang lemah membawanya ke depan sebuah pertokoan. Nenek Kora membaca tulisan besar di toko itu dengan mata basah. Saat itu dia merasa sangat beruntung karena sudah memenuhi permintaan Narti—salah satu cucunya—untuk belajar membaca. Kesediaannya untuk menuruti paksaan Narti ternyata sangat berguna.

Nenek Kora terduduk lelah di anak tangga depan toko yang tutup. Tubuhnya berkeringat, napas tersengal-sengal, kepala terasa berdenyut hingga beberapa kali ibu jarinya memijit pelipis kanan dan kiri. Aroma minyak angin menguar di udara, entah berapa kali tangan itu mengusap kening dan leher untuk sekadar menyegarkan napas yang sesak.

Hal yang diingat terakhir kali adalah saat dia sedang makan siang bersama salah satu teman, lalu mereka berpisah. Nenek Kora tidak ingat kenapa dia berada di sana dan harus ke mana. Ponselnya mati karena kehabisan baterai. Sebab itulah dia tidak bisa menghubungi keluarganya.

Wanita berusia 78 tahun itu menatap toko di depannya dengan mata mulai berembun. Tulisan besar di bagian atas toko membuat perasaan menjadi campur aduk. Kilasan-kilasan di masa lalu seperti berebut diputar ulang.

Praang!

“Pandu! Dasar anak nakal!” Nenek Kora memaki cucu laki-lakinya yang saat itu berumur delapan tahun.

Pandu yang sedang mengejar bola seketika berhenti dan melihat ke arah neneknya. Wajahnya terkejut saat melihat pot bunga sang nenek pecah. Buru-buru dia menghampiri Nenek Kora dengan berlari.

“Maaf, Nek. Gak sengaja.” Pandu membantu memungut pecahan pot dan hendak menumpuknya di halaman samping, tetapi Nenek Kora menepisnya. Pandu terpaksa menurut saat nenek Kora menyuruhnya pergi dengan kata-kata yang menyakiti hati.

Nenek Kora tidak terlalu mengerti kenapa dia begitu membenci Pandu. Apakah karena dia bukan cucu kandungnya? Bisa jadi, mengingat Pandu adalah anak dari menantunya bersama suami terdahulu … sebelum bertemu dan menikah dengan Budiman, putra Nenek Kora.

Pandu datang saat masih berumur lima tahun. Sejak awal bertemu, Nenek Kora sudah memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap Pandu dan ibunya. Meskipun Budiman yang saat itu sudah menjadi ayah sambung meyakinkan bahwa Pandu anak yang manis, tetapi sang nenek masih tidak bisa menerima kehadiran mereka dengan baik. Di matanya, Pandu hanyalah variable tak terlihat sekaligus mengganggu di waktu yang sama.

Di usia sepuluh tahun Pandu mengikuti banyak pelajaran tambahan di luar rumah. Nenek Kora menganggapnya terlalu banyak tingkah tanpa peduli dengan keluarganya.

Sekarang Nenek Kora baru menyadari, dia tidak pernah memberi cucunya kesempatan. Bahkan saat Pandu lulus sekolah dan memilih tinggal terpisah, itu masih dinilai sebagai tindakan egois. Baginya, Pandu dianggap bersikap semaunya sendiri dan tidak peduli dengan kebersamaan dalam keluarga. Jika dipikir ulang sekarang, sepertinya Pandu melakukan itu semua demi menghindari konflik di antara mereka.

Menyadari itu air mata Nenek Kora jatuh tak terbendung. Dia menelungkup di atas lutut lalu mulai terisak—dengan sepenuh hati—menyesali sikapnya yang kejam. Meratapi prasangka yang menyesatkan di masa lalu.

“Nenek! Nek?” Sebuah suara yang dikenalnya membuat kepalanya terangkat. Seorang pemuda muncul di hadapannya. Seseorang yang wajahnya sempat memenuhi ingatan Nenek Kora beberapa menit terakhir.

“Pandu … Panduu!” Nenek Kora berteriak sambil menangis. Kedua tangannya menyambut sang cucu yang memeluknya haru.

“Nenek kenapa hapenya mati? Kan tadi Kak Narti bilang suruh tunggu di kafe aja, Kak Narti yang datang jemput Nenek setelah ketemu sama Budhe Lastri, gak perlu keluar.” Pandu memeluk Nenek Kora dengan wajah lega. Sesekali ditepuk-tepuknya punggung sang nenek untuk menenangkan isakannya.

Kak Narti tidak mendapati nenek di kafe karena itu dia menelpon dan memintanya untuk ikut mencari. Nenek Kora masih menangis, seperti anak tersesat yang sudah bertemu ibunya.

“Aku gak nyangka bisa sesenang ini liat kamu. Aku bingung ada di mana. Aku duduk di sini juga karena baca nama toko yang seperti namamu …,” tutur Nenek Kora di sela isakannya. Pandu mengikuti pandangan nenek ke arah toko.

Di sana tertulis “PANDU PUTRA”. Laki-laki berumur 32 tahun itu tersenyum kecil sambil berusaha menenangkan sang nenek.

Pandu menghela napas. Selama ini dia memang merentang jarak dengan sang nenek, demi kenyamanan semuanya. Ikut banyak les, menyibukkan diri dengan kegiatan di luar, itu semua demi menghindari pertemuan dengan sang nenek. Semakin dia jarang di rumah itu semakin bagus, karena Ibu pun tidak bisa berbuat banyak, selain menangis dan berusaha untuk tidak membuat keadaan semakin parah.

Pandu sangat tahu kebencian sang nenek terhadap dirinya, tetapi dia tidak peduli. Saat ini dia hanya ingin membawa nenek pulang dan berjanji pada diri sendiri untuk lebih memperhatikan kesehatan Nenek Kora. Dia tidak mau demensia merenggut ingatan neneknya lebih cepat.

Gresik, 15 April 2025 01.41

Penulis

  • Zavny

    Hanya seseorang yang senang menulis.

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image