Home / Topik / Lingkungan / Tanah yang Pendiam

Tanah yang Pendiam

Tanah yang Pendiam
3

Zaman dahulu kala, ketika bebatuan masih basah karena kabut, manusia hidup rukun di bawah pemerintahan Tanah, tuan mereka. Tanah menyebar bagaikan permadani di seluruh kerajaan dan menopang kehidupan. Dia merawat rakyatnya, memastikan mereka selalu diberi makan dengan baik dan bahagia. 

Meskipun Tanah hanya bisa berbicara melalui perbuatannya, manusia menghormatinya dan memahami kewajiban mereka terhadap tuan mereka. Mereka selalu menutupi tubuhnya kecuali sebagian kecil tanah tempat mereka membangun rumah. Maka, kerajaan Tanah pun berkembang pesat.

Pada suatu malam yang gelap, terdengar siulan melengking menembus hutan. Manusia terbangun dan menyaksikan pemandangan yang mengganggu mereka. Pohon-pohon ditiup Angin, daun-daunnya berguguran dan pasir masuk ke telinga dan mata. Angin berderap kencang memasuki rumah mereka, meringkik seperti kuda, di punggung Angin ada penunggangnya, yaitu Kemarau.

Manusia tidak senang dengan kedatangan Kemarau karena mereka menyaksikaan kerusakan yang disebabkan oleh kudanya, Angin. 

Sekali melihatnya, mereka merasa kasihan pada Kemarau. Kemarau badannya kurus kering dan berbau seperti bangkai busuk. 

Manusia mengabaikan peringatan Tuan Tanah tentang daun-daun yang berguguran, karena mereka tidak percaya Kemarau yang lemah dapat membahayakan mereka.

Dengan datangnya Kemarau, kehidupan berubah drastis. Pohon-pohon kehilangan lebih banyak daun, hewan-hewan sakit dan mati. Kemarau menyadari bahwa manusia tidak menyadari bahwa dialah penyebab perubahan di kerajaan mereka sehingga dia memanfaatkan ketidaktahuan mereka dan mulai mengarang cerita. 

Kemarau memberi tahu manusia bahwa kerajaannya kehilangan semua yang hidup karena kejadian yang tidak dapat dijelaskan, itulah sebabnya dia membawa kudanya dan melarikan diri sebelum dia juga meninggal. 

Setelah manusia mempercayainya, Kemarau menghasut mereka untuk melawan Tuan Tanah dengan mengatakan lebih banyak kebohongan. Akibatnya, manusia disibukkan dengan kekhawatiran dan ketakutan sehingga mereka tidak mendengarkan peringatan Tuan Tanah lagi.

Mengikuti nasihat Kemarau, manusia menebang pohon dan membangun gudang-gudang besar. Mereka mengumpulkan semua buah-buahan, sayuran, dan rempah-rempah dari kerajaan mereka dan menyimpannya di gudang-gudang mereka. Mereka membunuh sebagian besar hewan yang tersisa, mengeringkan dagingnya, dan menyimpannya untuk digunakan di masa mendatang. Sejauh mata memandang, tubuh Tuan Tanah dibiarkan terbuka, tetapi tidak ada yang peduli karena mereka sibuk mendengarkan kebohongan Kemarau. Kuda Kemarau, Angin, berlari kencang mengibaskan permukaan Tanah hingga memenuhi udara dengan debu.

Semakin hari, kehidupan menjadi sulit bagi manusia. Mereka mulai jatuh sakit dan mati kelaparan karena persediaan makanan mereka menipis. Kemarau mengangkat dirinya sendiri sebagai Raja kerajaan mereka dan siapa pun yang menentangnya akan dihukum kelaparan hingga mati. 

Kerajaan mereka tampak persis seperti Kemarau, kurus kering, panas, gersang, dan berbau bangkai busuk. Ketakutan besar menimpa manusia karena kini mereka menyadari bahwa Kemaraulah penyebab kesulitan mereka. Manusia menyelinap pergi ketika Kemarau lengah dan memohon kepada Tanah untuk menyelamatkan mereka. Namun, Tanah terlalu lemah. Dia menderita penyakit yang disebut erosi.

Manusia duduk di tepi sungai yang kering dan menangis dengan sedih. Ketika air mata manusia membasahi dasar sungai yang kering, Tanah mendapatkan kembali kekuatannya sedikit. Dia mengasihani rakyatnya, maka dia menyuruh mereka mengumpulkan semua benih kering yang bisa mereka temukan dan menguburnya dalam-dalam di tubuhnya, di tempat yang tidak bisa diterbangkan Angin. 

Dia memberi tahu manusia bahwa mereka harus bekerja cepat sebelum Kemarau mengubah kerajaan mereka menjadi gurun dan tinggal di sana selamanya. 

Manusia berpencar ke mana-mana dan mengumpulkan benih sebanyak yang mereka temukan dan diam-diam menguburnya. Di tengah malam ketika semua orang tertidur, dengan seluruh kekuatan yang tersisa, Tanah mengulurkan tangannya ke langit dan memanggil hujan. Malam itu hujan turun sangat deras, Kemarau dan kudanya tenggelam di sungai yang mengalir deras ketika mereka mencoba melarikan diri.

Manusia sangat senang Tuan mereka mengalahkan kekeringan dan menyelamatkan hidup mereka. Mereka meminta maaf kepada Tanah dan bersumpah tidak akan pernah menentangnya lagi. 

Kehidupan kembali normal dan mereka hidup bahagia selamanya.

Cikarang, 28 Oktober 2025

Penulis

  • Resi Bujangga

    Resi Bujangga, seorang penulis cerita anak yang suka menyadur karya-karya klasik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image