Penulis bukan seorang desainer grafis/komunikasi visual dengan tambahan keahlian animator, hanya desainer ‘dua dimensi’ saja, akan tetapi izinkan penulis sedikit berpendapat mengenai film animasi bertokoh anak-anak Indonesia yang sedang viral ini.
Banyak dicerca karena animasi yang dinilai penuh kekurangan dalam berbagai hal, Merah Putih: One for All ini tentu saja sama seperti semua produk seni atau desain komunikasi visual lainnya, memiliki satu atau lebih tujuan. Apa tujuan yang ingin dicapai, dengan cara apa karya ini berusaha mencapainya, dan apakah berhasil tercapai?
Dalam dunia seni rupa dan desain, bukan desain salah atau benar yang dipertanyakan, melainkan tepat atau kurang tepat. Desain adalah sebuah ilmu yang fleksibel, bukan bidang yang absolut/mutlak atau pasti alias ‘harus begitu!’ Akan tetapi, semakin tepat penerapan desain, akan semakin tercapai tujuan komunikasinya.
Merah Putih dalam hal ini mungkin memiliki konsep dasar atau basic cukup mulia dan positif, memberi sumbangsih karya merayakan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Mengajak anak-anak hingga semua umur mencintai semangat kebersamaan dan cinta tanah air. Sayangnya, basic positif saja belum cukup.
Ada beberapa sisi negatif yang perlu menjadi koreksi bagi film Merah Putih, semoga bisa menjadi masukan berharga:
- Estetika atau bahasa awamnya keindahan-kepantasan-kelayakan barangkali tidak semua manusia memiliki standar yang sama. Yang bagus menurut penulis belum tentu bagus juga menurut Anda. Tipografi yang terbaca baik atau legible menurut Anda belum tentu legible juga di mata saya. Akan tetapi tentu ada estetika dasar yang akan disetujui/disukai semua penikmat desain pada umumnya. Apakah Merah Putih sudah memiliki estetika ini? Desain karakter dan latar visual masih kurang eyecatching, kurang ‘mulus’, kurang fleksibel dan lain sebagainya.
- Waktu pengerjaan. Desain yang baik bukan yang paling cepat atau instan, melainkan membutuhkan waktu dan pertimbangan sebelum ia siap ‘dilahirkan’. Sebesar apapun modal atau dananya, secerdas apapun sumber daya atau kreativitas manusianya, semua bisa jadi tak berguna/sia-sia apabila tidak cukup waktu. Menurut penulis pribadi, Merah Putih adalah karya yang seharusnya bisa lebih matang, sayangnya film ini dilahirkan/dihadirkan secara prematur, terlalu terburu-buru ingin menangkap momen tepat yang bisa jadi malah kurang tepat.
- Kesan pertama. Tentunya sebelum rilis, kreator wajib menikmati dulu/screening film yang telah ditelurkan dengan susah-payah. Apabila belum sreg, kesan pertama yang didambakan itu belum membuat calon penonton ‘jatuh cinta’, atau tidak ada ‘that’s it! moment’ yang seharusnya jadi pengikat pemirsa pada pandangan pertama, mustahil film ini akan jadi memorable.
Pada akhirnya, film yang seharusnya bisa jadi euforia besar dan pengisi momen 80 tahun Indonesia malah hanya akan berakhir sebagai bahan pembicaraan infamous, menjadi meme atau olok-olok netizen yang sayangnya mungkin saja melemahkan semangat para kreator. Sebagai seorang desainer yang juga pernah gagal atau melakukan kesalahan baik semasa kuliah maupun pada awal-awal berkarya, penulis tidak bermaksud mengecilkan hati para kreator film ini. Berusahalah terus memperbaiki proses desain, belajarlah dari animator-animator yang lebih berpengalaman, kelak Anda pasti bisa juga membuat karya baru yang kelak lebih tepat, lebih matang dan memukau, bermanfaat, berhasil membanggakan dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.
Semoga bermanfaat.
Jakarta, 17 Agustus 2025









