Home / Genre / Young Adult / 14. Menginap

14. Menginap

PERCAYALAH PADAKU CINTA 1600x900
This entry is part 15 of 27 in the series Percayalah Padaku Cinta

Adam menggelengkan kepala untuk menjernihkan pikiran yang tidak-tidak. Dia benar-benar mencoba menjadi teman Cinta. Adam tidak bisa bersikap mesum padanya. Bahkan kalau dia tidak mengatakan keinginannya dengan lantang, dia yakin Cinta menyadarinya.

Adam mengulurkan tangan, telapak tangannya di atas meja.

“Bagaimana menurutmu?”

Cinta menatap tangannya itu, lalu menatapnya. Mata Cinta kemudian menerawang jauh sambil berpikir. Akhirnya, dia menepuk tangan Adam dengan tos mendatar. “Oke. Apa aku boleh mandi?”

“Tentu saja.”

Ya ampun Adam, jangan bayangkan dia di kamar mandi.

“Dan kamu tidak akan memberi tahu siapa pun?”

Adam berpura-pura menutup rapat bibirnya dengan ritsleting maya.

“Tidak seorang pun.”

Tepat ketika Adam mengira Cinta akan bilang ya, bahu Cinta melorot jatuh dan dia menggelengkan kepala.

“Aku tidak bisa. Aku tidak bisa terus-terusan menggoda orang asing.”

“Hei,” kata Adam, mencondongkan tubuh ke atas bilik untuk meraih tangannya.

Cinta tersentak, tetapi Adam menahan tangannya.

“Kau tidak menggoda dan aku bukan orang asing. Aku temanmu. Dan ya, aku temanmu yang menganggap kau sangat cantik, tetapi aku juga bisa bersikap baik.”

Pipi Cinta memerah karena pujian dan Adam harus menahan diri untuk tidak memberinya belasan pujian lagi. Adam terbiasa dengan cara cewek-cewek bersikap ketika dia menggoda mereka, tetapi kali ini rasanya berbeda. Kali ini dia tidak hanya memuntahkan kalimat demi kalimat bodoh untuk membuat seorang cewek terpesona. Kali ini dia serius dengan ucapannya.

Sial, dia mungkin akan mendapat masalah.

Tapi kemudian Cinta berubah ceria dan berkata, “Baiklah. Ayo pergi.”

Dan tiba-tiba malam yang menyebalkan menjadi jauh lebih baik untuk Adam.

Setelah dia setuju untuk pulang bersama Adam, seluruh suasana di McDonald’s tampak berubah menjadi keheningan yang tidak nyaman baginya. Adam tampak senang dengan keputusannya dan berhenti mengajukan sejuta pertanyaan. dDan meskipun Cinta senang bisa turun dari kursi interogasi, keheningan itu tetap saja aneh. Cinta tidak bisa tenang dalam situasi seperti ini. Kalau saja dia punya rumah untuk pulang, maka dia tidak akan berada dalam kesulitan seperti ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kebencian terhadap mamanya tumbuh ke tingkat yang tidak bisa dia abaikan.

“Kau siap?” Adam bertanya setelah kentang gorengnya habis. Dia mengedikkan bahu untuk menyingkirkan rambut kemerahan dari matanya. Itulah yang membuatnya tampak berbeda malam ini.

“Biasanya rambutmu digel,” kata Cinta saat kami keluar dari bilik.

“Aku pergi berenang malam ini jadi semuanya jadi berantakan,” kata Adam menyisir rambutnya dengan tangan.

“Kolam renang di rumahmu?” Cinta teringat surga halaman belakang yang luas dan megah ketika dia sarapan di sana. Ada perosotan, papan loncat, dan air terjun batu di salah satu ujungnya.

Apa itu benar-benar baru terjadi sehari yang lalu?

“Tidak, di danau,” katanya, mendorong pintu hingga terbuka dan menahannya agar aku bisa masuk lebih dulu. “Pesta danau, ingat?”

“Apa kamu bersenang-senang?” tanya Cinta.

Wajah Adam berubah dan dia menggigit bibir.

“Tidak juga. Aku tidak ingin mabuk dan hal-hal seperti itu tidak menyenangkan ketika kau nggak mabuk. Ditambah lagi, ada bajingan yang menghancurkan hati temanku dan dia tidak mau memberitahuku siapa, jadi itu menggangguku sepanjang malam.”

“Kamu teman yang baik,” kata Cinta, dan menyesal setelah pengakuan tersebut.

Cinta mencoba mempertahankan aura cewek tanpa emosi ini, setidaknya untuk melindungi hatinya sendiri. Dia benci Adam melihatnya seperti ini, tahu bahwa Cinta gelandangan dan menyedihkan.

Ya Tuhan, aku sangat membenci ini, pikir Cinta.

Mereka sampai di pikap double cabin Adam, Chevrolet Silvewraso empat pintu yang besar dan lebih tinggi dari biasanya kaarena abannya yang besar. Adam membunyikan kunci fob-nya dan kemudian bergegas membukakan pintu penumpang untuk Cinta.

Entah dia bersikap sopan atau dia pikir Cinta akan menggores pintu ketika mencoba masuk ke dalam mobil.

“Nggak kaya, ya?” kata Cinta sambil mendengus ketika naik ke mobil, menggunakan gagang pintu untuk mengangkat tubuhku ke jok kulit hitam.

Interiornya berbau seperti mobil baru, sesuatu yang sudah lama tidak dihirup Cinta.

Adam berdiri di sana, sedikit lebih pendek dari Cinta karena dia masih berdiri di tanah dan Cinta duduk di dalam mobil. Lengan Adam menahan pintu agar tetap terbuka dan Cinta berusaha untuk tidak melihat bisep Adam menekuk di balik kemejanya.

Orang-orang Motocross pasti banyak berolahraga.

“Ini hadiah,” katanya sambil menyeringai. “Untuk ulang tahunku yang ketujuh belas.”

“Aku dapat kue es krim di hari ulang tahunku,” kata Cinta, mengingat kembali hari ketika Dini membawanya pulang dari toko es krim tempat dia bekerja paruh waktu karena penjualan di pameran kerajinan sedang sepi.

Cinta cukup yakin mamanya mencurinya.

Adam mengamatiknya dan Cinta mengangkat sebelah alis.

“Kamu akan menutup pintunya?” kata Cinta, tetapi pintu itu tidak sekejam yang dia inginkan.

Adam benar-benar, sangat imut. Ugh.

Akhirnya, Adam menutupnya dan Cinta melihatnya menggelengkan kepala ketika dia berjalan memutari bagian depan pikap ke sisi pengemudi.

Seakan-akan dia tidak bisa memahamiku, Cinta menyeringai.

Bagus. Tidak seorang pun perlu memahamiku, karena begitu mereka mengetahuinya, mereka akan menyadari bahwa sama sekali tidak ada yang istimewa tentangku.

Cinta merasa keberadaannya di bumi terjadi secara tidak sengaja. Ketakutan terbesarnya adalah orang-orang akan mengetahuinya.

***

Adam mematikan lampu ketika mobilnya berbelok ke jalan masuk yang panjang, lalu dia menepi di ujung kanan garasi tiga mobil dan memarkirnya di luar.

“Pintu garasi terlalu berisik,” katanya. “Bisa membangunkan mereka.”

“Apakah kamu biasanya pulang selarut ini?” tanya Cinta, sambil melirik jam digital di dasbor.

Sekarang hampir pukul dua pagi.

Adam mengangkat bahu.

“Ya. Mereka tidak peduli, mereka hanya tidak suka dibangunkan. Papaku selalu bilang tidak ada masalah berarti di kota sekecil ini. Mamaku hanya menyuruhku bersumpah padanya seminggu sekali bahwa aku tidak akan menghamili seorang cewek.”

Adam tertawa dan Cinta mengangguk.

“Itu mungkin ide yang bagus. Aku adalah kejutan yang tak terduga untuk mamaku dan itu tidak berjalan dengan baik.”

“Ya?” kata Adam, wajahnya dibayangi cahaya lampu gerak di sudut garasi mereka. “Aku juga, tapi kurasa hasilnya baik-baik saja.”

Aku mengangkat alis. “Apakah mereka orang tua kandungmu?”

“Ya. Mereka menikah tepat sebelum aku lahir dan mereka masih bahagia sampai hari ini.”

“Hmm,” kata Cinta sambil menatap wajah Adam yang ganteng. “Aku rasa beberapa orang memang punya akhir cerita seperti dongeng.”

Adam mengangkat bahu dan tatapannya sedikit menggelap, atau mungkin Cinta hanya membayangkannya.

“Siap?” tanya Adam.

Cinta menelan rasa gugup yang bergejolak di perunya dan mengikuti Adam ke pintu belakang. Cowok itu memasukkan kode sandi ke papan tombol pintu dan pintu itu terbuka, lalu Adam langsung beralih ke panel alarm rumah di dinding di dalam dapur dan mematikannya juga.

Percayalah Padaku Cinta

3. French Fries 5. Kamar Adam

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image