Mereka menyerbu masuk ke gubukku, tak mengerti siapa aku. Sebutan “penyihir” terucap dari setiap lidah mereka sambil mengangkat obor tinggi-tinggi. Tak seorang pun tahu bahwa kata penyihir sebenarnya berarti wanita bijak.
Jasper merah mengilap, obsidian hitam berkilau, dan celestine biru pucat terhampar di rak kayu yang dibuat dengan penuh kasih oleh mendiang suamiku.
Bertengger di antara kristal-kristal itu adalah botol-botol-botol bubuk kulit kecoak madagaskar, bunga daun seribu, dan mahkota dewa kering. Salep kompring dan gemitir. Ditujukan untuk tujuan pengobatan, benda-benda itu dianggap sebagai pernak-pernik kejahatan.
Hatiku menjerit ketika mereka membanting benda-benda itu ke lantai dengan kapak dan palu mereka. Sebuah kapak kecil menghantam cermin pengintaiku, pecahan-pecahan kaca berhamburan di lantai, tempat tidur, dan mejaku. Tulang-tulang ramalan, bertuliskan rune, dilempar ke tanah dan dihancurkan di bawah sepatu bot yang berat.
Mereka memaksaku keluar dari rumahku, Putri Purbararang di antara mereka, seringai menghina menghiasi wajahnya yang cantik jelita ketika dia meneriakkan perintah untuk membakarku di tiang pancang.
Kebun-kebunku diinjak-injak, Buni putihku tercabut dari akarnya. Buah-buahnya yang kecil berwarna putih pada tangkai merah, hitam di bagian tengahnya, beracun dan hanya dimaksudkan untuk dikagumi. Namun mereka mengklaim bahwa aku telah mencuri mata orang mati dan menyihirnya ke dalam tanaman ini.
“Apa alasannya?” teriakku, tahu betul mereka menganggapku jahat dan berbahaya. Aku ingin mendengar tuduhan palsu dari sang Putri dan para penyembahnya. Aku telah membantu para pria itu mengatasi rasa sakit mereka, meringankan para wanita dalam persalinan mereka, namun di sinilah mereka menuduhku melakukan kejahatan.
Dalam kekacauan yang penuh dengan sorak sorai gembira, mereka menyeretku ke hutan dan mengikatku ke pohon di tengah malam. Saat api mulai menyala, aku teringat permintaan Putri sebelumnya untuk bantuan atas gangguan pernapasannya.
Katak-katak di kolamku seharusnya bisa menyembuhkannya. Dia hanya perlu makan empat katak kecil. Tapi dia menolak makan, menolak mendengarkan penjelasanku. Banyak yang telah disembuhkan dengan cara yang kusampaikan kepadanya, mencoba menunjukkan bukuku yang berisi pengobatan kuno. Namun, dia tetap menolak bantuanku.
Mereka membunyikan lonceng, mengejekku, dan melemparkan lilin yang kubuat dari malam lebah, dan pisau ritual yang mereka klaim digunakan untuk ritual pembunuhan. Meskipun menyerupai pedang, pisauku suci dan tidak boleh digunakan untuk memotong. Jenggelot-jenggelot milikku dilemparkan ke dalam api, membuat mereka menjerit.
Ketakutan kolektif menyebar di antara kerumunan, sehingga mereka memastikan keputusan mereka benar.
Terakhir, datanglah bunga burungku, kelopaknya menyerupai burung-burung kecil. Tentu saja mereka berargumen bahwa aku telah menjebak dan memantrai burung sungguhan. Mereka juga melemparkannya ke dalam api, mengklaim itu akan melepaskan burung-burung.
“Betapa kejamnya,” kata mereka, “memperlakukan makhluk hidup dengan cara seperti itu.”
Ironis sekali, pikirku dan hanya tertawa, menambah ketakutan mereka dan mengobarkan amarah mereka.
Aku berseru, meninggikan suaraku di atas derak api—
“Aku akan segera berkobar di perapian kalian. Kalian akan melihatku di bara api pipa dan tungku dapur kalian yang berasap. Tarianku di langit akan terlihat di siang hari dan terpantul di bulan di malam hari. Malam ini tak akan terlupakan!”
Saat asap merayapi tubuhku, memasuki lubang hidungku, paru-paruku terbakar, dan kulitku melepuh merah, api berkobar lebih tinggi ke langit malam.
Aku tak peduli.
Setelah kehidupan ini padam, kehidupanku selanjutnya baru dimulai.
23 Agustus 2025











