Zhoya keluar dari hutan lama setelah van itu pergi. Dia lelah. Dia mencoba mengejar tetapi kehilangan van itu. Kini dia kembali ke mobilnya, bertekad untuk melapor ke polisi. Sesampainya di jalan, dia menyadari ada mobil lain yang terparkir di dekatnya, dan saat mengenali mobil itu, jantungnya berdebar kencang.
Dengan cepat, dia berlari ke arah mobil itu dan berteriak ketika mendapati seorang pria tewas di pinggir jalan.
“Ya Tuhan! Itu sopir Tatiana dan itu mobilnya. Di mana dia?”
Ketika berlari, dia mendengar telepon berdering di pinggir jalan. Dia berhenti dan mencarinya, lalu menemukannya. Dengan cepat, dia teringat cowok yang mencoba menolong mereka sedang memegangnya. Cowok itu telah diculik bersama Cinde.
Dia mengambil telepon itu dan menyadari ada panggilan masuk dari yang namanya Sam. Tangannya gemetar saat mengangkatnya.
Ia terdiam saat pria itu berbicara.
“Halo, bajingan, apa kau tidak akan kembali ke istana? Lihat, aku sudah capek dengan semua ini. Kau di mana?”
Bibir Zhoya gemetar. Haruskah dia menjawab?
Kalau dia bicara, dia mungkin akan ditangkap atas tuduhan pembunuhan dan penculikan. Kalau dia diam, dia bisa membantu Cinde sendirian, tapi butuh waktu.
Dia bingung.
***
Ketika Cinde siuman, suasananya gelap gulita. Dia tahu mereka masih bergerak.
Dia segera bangkit dan bergegas menghampiri sosok yang masih pingsan dan terbaring di dekatnya. Cinde mengasumsikan itu Zhoya. Karenaa suasana gelap, dia tak bisa melihat sosok itu mengenakan celana panjang dan kemeja.
Dengan cepat dia berlari menghampiri sosok itu dan menghempaskan diri ke atasnya.
“Zhoya, melek lu. Lu baek-baek aja, kan? Jangan berani-berani lu mati di muka gue.”
Sambil meraba-raba wajahnya, dia menyadari tangannya menyentuh sesuatu yang tak biasa dan benda apa yang ada di atasnya? Ikat pinggang? Zhoya mengenakan gaun, bukan celana panjang, kecuali kalau dia diikat pakai sabuk.
Cinde mulai membuka ikat pinggang itu, berharap bisa melepaskan Zhoya. Namun, tangannya beberapa kali menyentuh ‘benda tak biasa’ di bawah pinggang itu. Dia berhenti dan mencoba mengintip dalam gelap untuk melihat apa yang dipegang tangannya. Apakah para penculik menggembok dalam rok Zhoya atau—
Tiba-tiba sosok itu mendorongnya.
“Apa-apaan! Lu mau perkosa gue? Idih!”
Cinde kaget.
Oh tidak! Ternyata yang dia raba-raba cowok dan … astaga! Dia berkali-kali menyentuh jimat cowok itu.
“Maapin aye. Aye kirain Abang temen aye. Aye kagak … sumpah! Aye kagak niat anu.”
Jun mendesis dan berdiri, mengencangkan ikat pinggangnya.
“Dengerin, Mpok. Gue bukan temen lu dan tolong-tolong, jangan lu negelaba kaya gitu! Astaganagabonar!”
Cinder terdiam. Situasinya sudah cukup buruk, tapi dia masih punya malu.
“Maapin aye.”
Kalau ini bukan Zhoya, lalu siapa dia?
Tiba-tiba van itu berhenti.
Jun mendesah.
Perjalanan terasa lebih lama dari biasanya. Dia berjalan mendekati pintu masuk ketika pintu terbuka dan mereka bisa melihat dua pria yang tidak lagi berseragam polisi, melainkan wajah mereka ditutupi masker.
“Kerja bagus, Bang!” kata Jun, hendak berjabat tangan dengan salah satu dari mereka, tetapi orang itu mengerutkan kening dan malah menarik tangannya dan menyeretnya keluar dari van.
Jun kaget dengan sikap kurang ajar ini.
Apakah preman kampung ini lupa kalau Jun yang membayar mereka?
“Hei, Bang! Apa-apaan, nih?” katanya, mencoba berdiri sampai pria lain itu meraih lengannya dan menutup matanya sementara pria pertama menyeret Cinde keluar.
“Apaan, sih? Ini gue, Bang. Emang skenarionya pake direvisi biar tambah seru, Bang?” Jun berbisik kepada pria menyeramkan yang menariknya tetapi dia tidak mendapat jawaban. Jadi ia pikir mungkin itu memang bagian dari rencana. Begitu tiba saatnya, dia yakin mereka akan melepaskannya.
***
Mereka berdua ditarik ke kursi yang berbeda sambil ditutup matanya. Cinde mengerang ketika kedua lengannya ditarik ke belakang dan kemudian diikat ke kursi. Begitu juga benda yang sama mengikat kakinya. Setelah itu, penutup mata dilepas dan dia bisa melihat di mana mereka berada.
Suasananya seperti rumah besar yang terbengkalai. Ruangan itu luas, kotor, dan sarang laba-laba berserakan di mana-mana.
Salah satu penculik menatapnya sambil mengisap rokok di antara bibirnya dengan kecepatan kereta api yang melaju setelah melintasan simpang rel. Meskipun wajah mereka tertutup masker, mata dan bibir mereka tetap terlihat.
Dia melihat ke samping dan terkejut melihat pria yang sebelumnya ingin membantu mereka malah diculik bersamanya.
Ups! Sungguh sial nasibnya.
Pria yang lain mengikat Jun ke kursi dan akhirnya melepas penutup mata.
Jun bingung. Apa-apaain ini dan ke mana mereka dibawa?
Mereka seharusnya pergi ke rumah yang bagus dan tertata rapi, bukan rumah yang jelek ini. Dan mengapa mereka menutupi wajah mereka dengan masker? Ini bukan bagian dari rencana.
Dia menatap wanita gadis yang sedang menatapnya, tampak lelah dan tak berdaya.
Kedua preman itu hendak pergi ketika dia berteriak kepada mereka.
“Di mana Janto? Biar gue ngomong ama dia,” perintahnya.
Kedua pria itu berhenti, bertukar pandang, lalu menatapnya.
Lalu salah satu dari mereka kembali menemuinya.
“Kau bilang apa?” geramnya, dekat dengan hidung Jun. Jun mengira bau dari mulutnya akan membuatnya pingsan, jadi dia menahan napas.
“Mundur dikit, nape? Bujubuseh! Lu bau banget!”
Detik berikutnya yang dia rasakan adalah tamparan keras yang membuat bibirnya berdarah.
“Apa-apaan Janto? Dasar brengsek.” Preman itu mendengus dan meninggalkannya.
Jun mengerang kesakitan sementara Cinde memperhatikan, sedikit bingung.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
“Ya, Putri!” Dia mengerang. “Maafkan saya, semuanya. Semuanya tidak seharusnya—”
Jun tersentak dan berhenti ketika kedua penjahat tadi masuk bersama dua orang lagi. Tinggal empat orang dan salah satunya berseragam polisi.
“Tolong, ini bukan rencananya dan bisakah kalian semua brenti main-main?” teriak Jun. Dia mulai kehilangan kesabaran.
Pemimpin geng itu adalah ternyata yang berseragam polisi. Dia tertawa dan berbicara kepada anak buahnya.
“Kenapa dia? Apa dia sedang pura-pura sombong atau macam mana?”
“Aku juga penasaran,” kata preman yang satunya lagi.
“Gayanya macam dialah yang kasih pekerjaan buat kita.” Salah satu pria itu menjawab.
“Kurasa kita harus melepas masker. Pastikan dia melihat, ini bukan permainan petak umpet,” kata pemimpin penjahat dan para preman melepas topeng mereka.
Ketika Jun menyadari bahwa wajah-wajah itu benar-benar asing, dia menelan ludah.
Pemimpin geng mendekat, membungkuk perlahan, dan berkata dengan nada kasar.
“Apa aku mirip Janto di matamu, hah?”
“Wadoh!” gerutu Jun lirih.
Mereka bukan orang-orang yang disewanya. Jun sadar kali ini dia benar-benar celaka!











