Namamu memang tak pernah kuteriakkan dengan lantang
Tak pernah kutulis dalam bait karya
Tapi bersemayam diam di dada
Bergetar jiwa tiap kali disebut
Seperti belai angin menyapu luka
Membangkitkan gigil yang menggigit.
Aku mencintaimu
Dengan cara yang bahkan kamu tak pernah tahu
Dengan air mata yang disembunyikan di balik senyum
Dengan rindu yang tak bisa menjelma temu
Namamu adalah rahasia yang kupeluk dalam kesunyian
Tak kuasa kudekap
Tapi juga tak bisa kulepaskan
Sekeras apapun mencoba menggapai harap
Senja memeluk namamu dan menyimpan dalam pusaran rindu
Ada jarak yang tak bisa dilipat
Ada takdir yang tak bisa digugat
Lalu siapa yang mesti disalahkan
Jika kita lahir untuk dipertemukan
Tapi bukan untuk dipersatukan
Dan disanalah luka paling indah tumbuh
Bukan karena kebencian
Melainkan karena jiwa yang rapuh
Hingga cinta tak menemukan jalan pulang
Maka biarlah namamu tetap menjadi sepi paling laknat
Seperti doa yang tak punya alamat
Seperti cinta yang tak tahu diri
Tetap tinggal dan tak pernah mati
Namamu masih selalu kusebut saat sendiri
Senyummu masih terpatri dalam sanubari
Ragamu memang tak pernah bisa kumilikia
Tapi segala luah rahsa tentangmu tersimpan tak hendak kuganti
Sebagai bentuk cinta yang tak pernah usai
Kepada senja kuceritakan
Tentang cinta yang baru dimulai
Tapi harus dipaksa mati
Masih ada cerita yang ingin kubagikan
Masih ada pelukan yang belum sempat aku rasakan
Dan masih banyak mimpi bersamamu
Yang kudekap atas nama rindu
Mengingat namamu
Ada getar yang kembali datang seperti senja
Rona jingga hangat dan tampak menjanjikan
Bahwa esok asa kembali menyapa
Tapi ternyata tak semua kirana membawa harapan
Ada yang hanya menyilaukan
Juga membutakan
Lalu pergi meninggalkan
Membiarkanku meraba-raba
Di kegelapan yang kuciptakan sendiri
Namamu adalah kisah yang tak pernah menemukan akhir
Tentang diriku yang mencintai seperti fakira
Bukan karena bodoh
Tapi karena terlalu ingin percaya
Bahwa cinta bisa mengubah segalanya
Atas nama cinta aku menutup mata
Membutakan hati atas prasangka yang terang
Meredam intuisi yang berteriak dalam diam
Terus mencintai bersama doa yang tak pernah putus kupanjatkan
Meski tak pernah selesai pula ceritanya
Kisahku melalang kehilangan empunya
Aku mencintaimu seperti bumi mencintai hujan
Meski berulang air menghanyutkan
Tetap kuberikan seluruh ruang hati
Berharap kebaikan akan menuai budi
Tapi yang datang adalah badai
Dalam naif kubertahan
Karena cinta telah membungkam logika
Dia hanya tahu caranya berharap bukan caranya pergi
Hingga pada akhirnya cinta yang buta membawa prahara
Meninggalkan lelah tak berkesudahan
Meninggalkan tanya yang tak terjawab
Serta luka yang tak pernah sembuh
Memaksaku duduk diantara reruntuhan harapanku sendiri
Menatap langit yang masih menyimpan ribuan tanya dalam hati
Masih adakah sapa yang tersisa
Namamu masih bersemayam di hati
Membuatku sadar bahwa mencintai
Adalah kerelaan hati membiarkanmu pergi
Karena cinta tak bisa memaksa tinggal
Cinta tanpa arah adalah labirin kecewa
Menyadarkan bahwa mencintai dengan mata tertutup
Bukanlah suatu keberanian
Melainkan ketidaksiapan untuk menerima kebenaran
Senja masih memeluk namamu dalam sepi
Gulir masa tak mampu menumbuhkan benci
Hanya diam memeluk kecewa
Melanjutkan perjalanan sambil menikmati setiap luka
Bagiku namamu dan luka yang kau tinggalkan adalah candu
Yang terus membuatku terbelenggu
Dalam pelukan senja kulanjutkan perjalanan
Sambil terus melangitkan namamu
Berharap jawab atas muara rindu
Meski kutahu senja tetap akan membisu
Magelang, 06 September 2025
#puisipanjang











