Maafkan puisiku menggelitik
meretas saraf amarah pendukung fanatik
lakon-lakon utama teater politik
negeri ini melimpah ruah cendekiawan
bijak berperi pun berbudi pekerti
serasi melilitkan dasi
narasi tentu merdu dalam orasi
selaras segala manifestasi
sayangnya negeri kini teramat lugu
bermain-main dengan boneka lucu
menjadi perisai para berandalan
badut sebagai andalan
apakah kita rela sepolos ini
menjabat posisi relawan tanpa pamrih
tampuk tinggi pemeran utama raih
ragam kenikmatan sebanyak buih
sedangkan kening kita masih perih
sebab teramat lama mengernyitkan dahi
memikirkan rumus penyelesaian hutang-piutang,
garam yang habis,
anak yang menangis,
cibiran tetangga yang sinis
sayangnya negeri ini terlalu lugu
seorang lakon berseru ke semua penjuru:
menangkan kembali ketika pemilu!
sementara baru kemarin lusa menyandang jas baru
ah… ya
panggung sandiwara begitu kentara
berebut kuasa dan takhta
ia kurang cakap memilih kata
sayangnya negeri ini terlalu lugu
rakyat jelata banyak berkorban jiwa raga
asalkan amplop diterima
asalkan dapat membeli kopi dan gula
Bogor, 25 September 2025
Wijatmoko Bintoro Sambodo











