“Mereka couple goals banget, bikin iri! Cantik ceweknya, tampan cowoknya, sama-sama femes, kaya raya, baik hati pula! Pasti mereka bahagia!” Mungkin komentar semacam itu sudah sering kita dengar atau baca di media sosial. Atau sebaliknya, “Cewek cantik kok mau ‘sih sama cowok jelek gitu! Pasti mau uangnya doang!” atau, “Mau pansos kali ya, pasangan dadakan itu! Aroma cinlok banget.”
Lagi-lagi paruh akhir tahun 2026 diwarnai dengan kabar perceraian selebriti. Ada yang sudah menikah bertahun-tahun hingga memiliki anak, ada pula yang baru bersama beberapa bulan. Sebaliknya, ada pula selebriti yang baru merayakan ulang tahun pernikahan selama beberapa tahun, tetap bahagia bahkan setelah hadir anak-anak. Namun masih banyak pasangan publik figur yang belum dikaruniai keturunan tetap mempertahankan pernikahan, saling mengasihi-mencintai hingga kini. Juga hal yang ironis, mengapa couple goals yang sering wefie dan pamer kemesraan (PDA) malah rentan berpisah, sebaliknya pasangan ‘bak langit dan bumi’ malah awet, gak seperti dugaan semula banyak orang ‘ga matching alias ga cocok’?
Inilah beberapa pelajaran penting yang perlu pembaca muda (lajang) ketahui mengenai cinta dan pernikahan, sekaligus pengingat indah bagi pasutri yang sudah bertahun-tahun bersama (dan mungkin lelah atau bosan bertahan).
- Tak pernah mudah bagi seseorang memutuskan untuk menikah setelah saling menjalin hubungan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Sikap bucin berat atau super romantis hingga posesif bak di drakor-novel online bukan alasan kuat atau jaminan pernikahan pasti bahagia. Sebaliknya, banyak pasangan ‘biasa-biasa saja’, adem ayem, memiliki pernikahan yang jauh lebih bahagia karena mereka mau dan telah mengenal karakter pasangan masing-masing, saling menghormati privasi dan me time, tidak melulu bersikap protektif dan posesif. Kita perlu mengenal pasangan dan mengetahui bagaimana menyeimbangkan karakter dan kepribadian. Love him / her just the way he or she is atau cinta tanpa tapi sangat mudah dikatakan, namun akan sulit dijalankan apabila belum cukup waktu perkenalan serta belum ada penerimaan.
- Meskipun semua tahu menikah butuh biaya dan biaya itu barangkali bagi sebagian cukup mudah-murah atau sudah tersedia, bukan jumlah dan caranya yang terpenting. Bukan resepsi dan busana pengantin, bukan hidangan dan venue. Tidak seperti idiom ‘demi sekali seumur hidup’ atau ‘jadi raja-ratu sehari’ maka acara harus megah-mewah. Bukan the party bagian terpenting, melainkan after the party alias hidup selanjutnya (setelah resepsi). Percuma saja apabila diadakan mewah-besar-besaran hingga viral, heboh menarik perhatian dunia, diberi jempol like love dan views-nya bererot, namun ujung-ujungnya bercerai.
- Pasangan ideal bukan mereka yang secara kasatmata paling serasi ‘seperti apa yang orang lain lihat’ atau bahkan seperti ramalan-ramalan (astrologi, dll.) ‘Shio ini ‘mah ga cocok dengan shio itu’ atau ‘Pemilik horoskop A ga matching dengan pemilik horoskop B’. Semua teori-pendapat seperti itu boleh-boleh saja dibaca demi sekadar tahu, akan tetapi bukan untuk dijadikan pedoman mutlak. Jadi, jangan takut atau keder apabila teman-kenalan yang disukai ‘menurut teori kalian gak matching’. Yang menjalani dan merasakan Anda dan pasangan. Perbedaan sifat-kepribadian bahkan bentuk fisik bukan alasan perdebatan, melainkan untuk saling melengkapi.
- Calon pasangan seiman / memiliki kepercayaan serupa sangat perlu dipertimbangkan. Ada sangat banyak perbedaan dalam hidup mudah disatukan atas nama cinta kasih, akan tetapi masih ada beberapa perbedaan mendasar yang mampu mempengaruhi kebersamaan. Apabila tetap dipaksakan, bukan tidak mungkin ujung-ujungnya timbul hal kurang baik. Meskipun dalam beberapa kisah nyata pasangan berbeda keyakinan dapat berhasil / survive, alangkah baik jika keputusan untuk berumahtangga dapat dipertimbangkan dengan hati nurani paling dalam dan persetujuan keluarga kedua belah pihak.
- Ke mana-mana tidak selalu harus/wajib berdua. Idiom ‘together forever’ bukan dalam arti harfiah bak diikat-ikat seperti kangkung dijual di pasar, melainkan saling setia walau sedang jauh. Justru komitmen pasangan kita terbukti dan teruji saat sedang tidak bersama-sama. Rasa rindu menjadi pengikat sesungguhnya, jadi tidak perlu takut pasangan jatuh cinta pada lawan jenis lain atau malah posesif, cemburu berlebihan sehingga timbul rasa insecure.
Pernikahan bukan hanya untuk senang-senang belaka ala dongeng alias ‘live happily ever after’, namun juga bukan untuk ditakuti/dijauhi karena paham ‘marriage is scary’. Pernikahan yang indah tak selalu bebas problem, namun penuh cinta kasih dan kedamaian. Mampu menjaga hubungan baik (melindungi satu sama lain), mendewasakan, menumbuhkan setiap karakter anggota keluarga, menjadi tempat bertumbuh yang nyaman bagi pasutri dan generasi penerus.
Semoga bermanfaat.
Tangerang, September 2026









