Beranda / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 67

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 67

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 68 of 68 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Ijab kabul pun berlangsung dengan khidmat.

Pak Herman merasa bahagia sekali karena dia menjadi wali nikah putri kandungnya. Sedangkan Bu Desi juga sudah tidak seperti biasanya yang sering mengeluh kesakitan. Sel kankernya sudah banyak berkurang.

***

Beberapa bulan kemudian.

Di sebuah tempat, tepatnya di dalam penjara, Pazel sedang merutuki nasibnya. Selama di dalam penjara, tidak sekali pun istrinya datang untuk menjenguknya. Hanya ibunya yang sering datang untuk memberi semangat kepadanya. Setiap kali dia menanyakan tentang tentang istrinya, ibunya hanya mengatakan kalau istrinya sedang membutuhkan banyak istirahat.

“Apa dia tidak bisa menjengukku, agak sekali saja, Bu?”

“Tidak, Nak. Kata dokter dia harus banyak istirahat. Sekarang kamu jaga saja kesehatanmu. Toh tidak lama lagi kamu juga akan keluar, Nak.”

“Iya, Bu. Saat aku keluar nanti, bertepatan dengan perkiraan Rima melahirkan. Tolong sampaikan pada Rima ya, Bu? Sampaikan salam rinduku padanya dan calon bayi kami. Katakan juga aku sangat menyayangi mereka. Aku berjanji, jika masa hukumanku sudah habis, aku akan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku tidak akan melakukan hal yang akan merugikan diriku sendiri lagi, Bu.”

Bu Rohana, tidak sanggup menahan isak tangisnya. Dia memegang tangan putranya. Setiap hari kerjanya hanya menangis.

Dia berpamitan dengan Pazel, karena waktu berkunjung sudah habis.

“Jaga kesehatanmu, Nak. Nanti Ibu akan datang lagi. Jangan lupa makan ya, Nak?”

“Iya, Bu. Ibu juga jangan lupa makan, dan jangan menangis terus, kalau Ibu terus menangis, aku juga ikutan sedih. Bagaimana aku bisa menjalani hariku disini, Bu?”

Dia terisak, tak bisa menahan tangis saat akan berpisah dengan ibunya. “Aku mau saat aku keluar dari sini nanti, Ibu dalam keadaan sehat, tidak kurang satu apapun. Dan Ibu boleh memakai semua uang yang ada di ATM-ku untuk keperluan Ibu dan Rima.”

Ingin rasanya Bu Rohana memberitahu tentang semua aset dan kartu ATM-nya yang sudah dibawa kabur oleh Rima, tapi itu pasti akan menambah beban pikiran putranya.

‘Biarlah dia tahu saat dia sudah keluar nanti. Kalau aku beri tahu sekarang pasti anakku akan bertambah sedih, batinnya.

Saat ini dia tidak lagi mempunyai rumah. Rumahnya sudah dijual oleh Rima dan semua uang tabungan Pazel juga dikurasnya dan dibawa kabur bersama pacarnya. Sekarang terpaksa Bu Rohana tinggal dikontrakan dengan berjualan nasi uduk untuk menyambung hidupnya.

Hari ini dia ada rencana akan menghubungi Silvia untuk memohon agar membebaskan putranya.

Begitu sampai di kontrakan, dia segera menghubungi nomor Silvia. Silvia sedang berbahagia bersama Dokter Dana. Dia juga memboyong ibunya untuk tinggal di kediaman Dokter Dana.

Hari ini, saat bangun tidur kepalanya terasa berat. Perutnya mual.

“Sayang, kenapa belum bangun? Tidak biasanya kamu bangun kesiangan,” ucap Dokter Dana yang sudah rapi dengan pakaian kantornya. Dia menyerahkan urusan rumah sakit ke kepala rumah sakit yang beberapa bulan lalu dilantiknya. Sedangkan dia sendiri fokus untuk mengembangkan bisnis ayahnya dan beberapa perusahaan yang baru dibelinya.

Dia mengecup kening istrinya. Silvia menggeliat lalu dia segera berlari ke kamar mandi.

Perutnya terasa mual. Dokter Dana segera memberikan testpack kehamilan saat dia keluar dari kamar mandi. Karena dia seorang dokter, dia tahu gejala apa yang sedang dialami istrinya.

Saat menerimanya Silvia merasa sedih karena selama dua tahun pernikahannya dengan mantan suaminya Pazel, dia tidak pernah hamil. Walaupun dari hasil pemeriksaan terbukti bukan dia yang tidak subur, namun hatinya masih ragu kalau dia benar-benar bisa hamil.

“Apa mungkin aku bisa hamil, Mas? Sebab, selama dua tahun aku menjalani pernikahan bersama mantan suamiku, tidak pernah ada tanda-tanda kehamilan.”

“Percayakan saja kepada Alah Yang Maha Kuasa, Sayang. Jika Allah mengizinkan kita untuk memiliki buah hati, maka tidak ada kata tidak mungkin.”

“Tapi, Mas jangan berharap dulu, ya? Sebab aku juga belum yakin.”

“Aku sangat berharap, Sayang. Tapi kalau memang belum ada, berarti belum waktunya. Lagi pula kita kan baru beberapa bulan menikah.”

“Lalu bagaimana jika aku tidak pernah hamil, Mas? Apa kamu akan selingkuh atau berpoligami, atau Mas akan menceraikan aku?”

Dokter Dana berjalan kearah belakang Silvia, dan memeluknya sambil mengelus perut istrinya.

“Kalau kamu tidak hamil, maka kita akan adopsi anak, itu pun jika kamu mau. Jika kamu tidak mau, maka aku berkesempatan untuk selalu berdua dengan istri tercintaku ini selamanya, tanpa ada yang mengganggu,” bisikan Dokter Dana membuat Silvia merasa menjadi seorang permaisuri raja yang sangat dimanja oleh rajanya.

“Terima kasih ya, Mas. Karena aku merasa sangat dicintai oleh, Mas.”

“Aku memang sangat mencintaimu, Sayang.”

“Aku juga, semoga saja harapan kita untuk memiliki seorang anak terwujud ya, Mas, kalau begitu, Mas tunggu di sini, aku mau tes urin dulu,” ucap Silvia sambil memegang pipi suaminya dengan lembut, setelah dia membalikkan badannya sehingga berhadapan dengan lelaki tampan yang lebih tinggi darinya itu dan membuat dia sedikit agak menengadah.

“Aku ikut,” rengek Dokter Dana seperti anak kecil.

“Tunggu di sini saja, Mas. Baju kamu sudah rapi. Nanti malah keciprat air atau urin lagi. Kan gak lucu, kalau Mas ke kantor ada aroma gak sedap.”

Dokter Dana sebenarnya masih mau mengikuti ke kamar mandi, namun Silvia menghalanginya dan segera mengunci pintu.

Dada Dokter Dana berdebar-debar menunggu hasil dari tes urin yang dilakukan oleh Silvia. Dan akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba.

Silvia keluar dari kamar mandi dengan menunjukkan wajah yang lesu.

Dokter Dana segera memeluknya dan berkata dengan lembut. “Tidak apa-apa, Sayang. Kita akan berusaha lagi.”

“Setelah Dokter Dana melepaskan pelukannya, Silvia menyerahkan benda berwarna putih berukuran kecil itu kepada Dokter Dana.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 66

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *