Tengah malam. Cak Kadir sendirian. Rohmat asistennya sudah pulang duluan karena tak enak badan.
Cak Kadir bersiap-siap menutup warung sate ketika tiba-tiba hawa dingin merayap di tengkuknya, membuat bulu Milan—dia pendukung AC Milan, bukan AS Roma—berdiri.
Lampu di atas kepalanya berkedip.
Dipkedip satu kali. Dipkedip dua kali. Kedipdip tiga kali.
Lalu, dari ujung lorong yang menuju dapur, muncul sosok perempuan bergaun putih. Rambutnya panjang menutupi wajah. Kakinya tak menyentuh lantai.
Sosok itu melayang ke arahnya.
Cak Kadir langsung pucat, tapi mukanya tetap cokelat. Hanya lebih terang.
“H-hantu!”
Perempuan itu berhenti.
“Sebetulnya aku kuntilanak.”
Cak Kadir menelan ludah. “Kuntilanak?”
“Iya.”
“Bukannya kuntilanak biasanya ketawa cekikikan nada tinggi bikin sakit kuping?”
Perempuan itu menghela napas.
“Zaman sekarang masih ketawa cekikikan? Bikin tenggorokanku sakit. Terus batuk. Mana OBH Kombi saset mahal gara-gara ada lagunya.”
Eric mengerutkan kening.
“Tapi… kuntilanak termasuk hantu juga, tak’iye?”
“Betul.”
“Kenapa gak pesan sate dua ratus tusuk?”
“Kan dagangan kamu sudah ludes. Lagian aku hantu kuntilanak modern.”
Eric semakin bingung.
Sosok perempuan itu melayang mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah.
Cak Kadir mundur.
“J-jangan dekat-dekat! Kamu mau cabut nyawaku, tak’iye?”
Perempuan itu tertawa kecil.
“Nyama kamu?”
Cak Kadir mengangguk cepat.
“Iya! Bukankah kuntilanak biasanya mencabut nyawa manusia?”
Perempuan itu menatapnya dari balik rambut yang menutupi wajah.
“Buat apa? Itu tugas Izrail, Malaikat Maut.”
Cak Kadir garuk-garuk kepala. terdiam.
“Ya… nggak tahu.”
“Aku juga nggak tahu.” Perempuan itu mengangkat bahu. “Memangnya nyawa kamu bisa dipakai buat apa?”
Cak Kadir tersinggung.
“Hei, nyawaku ada harganya, tak’iye.”
“Berapa harganya?”
“…”
Perempuan itu menghela napas.
“Sudahlah. Aku datang bukan untuk mengambil nyawamu atau pesan sate dua ratus tusuk.”
Cak Kadir mengembuskan napas lega.
“Oh, syukurlah.”
“Aku datang untuk sesuatu yang jauh lebih penting.”
Cak Kadir kembali tegang.
“Apa itu?”
Perempuan itu mendekat, lalu berbisik dengan suara serak khas makhluk dari alam baka.
“Password Wi-Fi.”
Eric ternganga.
“Hah?”
“Password Wi-Fi warung”
“Kenapa?”
“Di alam kubur sinyalnyalagi jelek.”
Eric menatapnya beberapa detik.
“Hantu kok butuh Wi-Fi?”
Perempuan itu memasang wajah kesal.
“Kamu kira aku mau menghabiskan waktu tiga ratus tahun cuma buat nakut-nakutin orang?”
Dia mengeluarkan ponsel dari balik bajunya.
“Aku punya akun TikTok yang harus terus-terusan update content.”
Eric memijat pelipis.
“Ya Tuhan.”
Perempuan itu tersenyum.
“Bukan Tuhan. Aku.”
Eric menghela napas panjang.
“Password-nya apa?”
“Bukan aku yang kasih. Kamu yang kasih.”
Eric akhirnya menyerah.
“12345678.”
Perempuan itu terdiam.
“Serius?”
“Iya.”
“Pantas kamu masih hidup.”
“Kenapa?”
“Karena hantu hacker nggak tega ketemu password kayak gitu.”
Eric belum sempat menjawab ketika perempuan itu tiba-tiba melayang menembus dinding.
“Keso’on!” gema suara perempuan yang semasa matinya mempelajari bahasa-bahasa daerah.
Cak Kadir menghela napas lega.
Lalu terdengar suara dari balik dinding.
“Eh, Wi-Fi-nya nggak nyambung!”
Eric memejamkan mata.
“Ya ampun…”
Suara itu kembali terdengar.
“Kamu belum bayar biaya langganan ya, Cak?”









