Beranda / Non Fiksi / Menulis Novel: Memoles Tag Dialog

Menulis Novel: Memoles Tag Dialog

Menulis Novel 20260910
1

Dialog biasanya dibaca dengan cepat. Itulah sebabnya dialog mampu mempercepat ritme dalam sebagian besar adegan. Bahkan pembaca yang biasanya suka melompati blok-blok eksposisi akan berhenti ketika menemukan dialog. Biasanya, di situlah aksi berlangsung atau sesuatu sedang terjadi.

Namun, sekalipun kita hanya membaca bagian dialognya, kita tetap bisa dengan mudah melewati tag dialog—terutama jika tag tersebut hanya berupa pola seperti “katanya” atau “ucapnya”. Memang, tag semacam itu seharusnya nyaris tidak terasa. Kalau kita sudah tahu siapa yang sedang berbicara, kita bahkan mungkin tidak lagi memperhatikannya.

Masalahnya muncul ketika kita melakukan revisi sambil melewati bagian-bagian tertentu dari novel. Karena dialog begitu penting, seharusnya kita memberinya perhatian lebih, bukan malah mengabaikannya. Jadi, ada baiknya meluangkan sedikit waktu untuk memastikan setiap dialog memang layak membuat pembaca berhenti dan membacanya.

“Katanya” dengan Keterangan yang Berlebihan

Salah satu penyuntingan yang paling sering kami lakukan adalah menghilangkan kata keterangan dalam tag dialog.

Periksa kembali setiap tag dan pastikan kata keterangan yang kamu gunakan memang memiliki alasan yang kuat untuk berada di sana. Tanyakan juga: adakah cara yang lebih baik untuk memperlihatkan maksud kata keterangan tersebut melalui adegan atau dialog itu sendiri?

“Dasar anak menyebalkan,” katanya dengan nada merendahkan.

Bandingkan dengan:

“Sekarang aku tahu dari siapa DNA menyebalkan diwariskan dalam keluarga ini.”

Pada contoh kedua, sikap merendahkan tidak perlu dijelaskan lewat kata “dengan nada merendahkan”. Sikap itu sudah terasa dari perkataannya.

Menghindari Kata “Katanya”

Aturan praktis yang sering kita dengar adalah: “Jangan gunakan tag seperti ‘katanya’ kalau tidak benar-benar diperlukan.”

Namun, kita juga bisa terlalu jauh dalam menghindari tag dialog. Ini terutama mudah terjadi ketika kita menyunting novel sedikit demi sedikit, tanpa membaca ulang seluruh bab dalam satu kesempatan.

Kata “kata” sebenarnya sama sekali bukan masalah. Justru, kata ini begitu umum dan tidak mencolok sehingga biasanya hampir tidak terasa oleh pembaca. Sebaliknya, terlalu berusaha menghindarinya dengan hanya menggunakan tag berupa tindakan bisa membuat prosa terasa kaku dan seperti daftar aktivitas, karena secara teknis kita hanya menumpuk satu kalimat pendek setelah kalimat pendek lainnya.

“Ini gila.”

Zahra mengusap rambutnya dengan jemari.

“Ini bukan gila.”

Keiko melipat tangan dan memasang wajah masam. “Beginilah dunia yang kita tinggali sekarang.”

Bayu berdehem.

“Apa kita harus membicarakan ini sekarang? Zombie-zombie itu hampir berhasil menembus pintu.”

Perhatikan betapa kakunya bagian tersebut.

Keadaan menjadi lebih buruk karena ketiga dialog muncul berturut-turut. Sekarang, mari kita tambahkan satu-dua potongan deskripsi di antara dialog tersebut. Dengan begitu, kita bisa menyamarkan kenyataan bahwa tidak ada tag “katanya” sama sekali.

“Ini gila.” Zahra mengusap rambutnya dengan jemari. Sesuatu yang berat kembali menghantam pintu dan membuatnya tersentak. Tentu saja Keiko tidak ikut terkejut. Dia memang tidak pernah begitu.

“Ini bukan gila.” Keiko melipat tangan dan memasang wajah masam. “Beginilah dunia yang kita tinggali sekarang.”

Mungkin memang begitu, tetapi bukan berarti mereka harus menyukainya.

Bayu berdehem. “Apa kita harus membicarakan ini sekarang? Zombie-zombie itu hampir berhasil menembus pintu.”

Masih terasa agak kaku, tetapi tidak terlalu kentara karena teks lain di antara dialog-dialog tersebut membantu menutupinya.

Sekarang, mari kita lihat bagian yang sama dengan menambahkan satu tag “katanya” dan melakukan beberapa penyesuaian kecil.

“Ini gila.” Zahra mengusap rambutnya dengan jemari. Sesuatu yang berat kembali menghantam pintu dan membuatnya tersentak. Tentu saja Keiko tidak ikut kaget. Dia tidak pernah kaget.

“Ini bukan gila,” kata Keiko. “Beginilah dunia yang kita tinggali sekarang.”

Bayu mengernyit. Mungkin memang begitu, tetapi bukan berarti dia harus menyukainya. “Apa kita harus membicarakan ini sekarang? Zombie-zombie itu hampir berhasil menembus pintu.”

Masih belum sempurna, tetapi alurnya terasa lebih mulus.

Dalam kasus Bayu, kita juga menggunakan pikiran batin untuk mengurangi kebutuhan akan tag dialog. Dengan begitu, kita tetap bisa menunjukkan siapa yang sedang berbicara tanpa harus menggunakan tag action yang terasa kaku.

Tentu saja, ini bergantung pada satu hal: sudut pandang yang kamu gunakan sudah dibangun dengan jelas, sehingga pembaca memahami bahwa pikiran batin tersebut adalah milik Bayu.

Perhatikan Juga

Karena tadi kita sudah membahas soal pikiran batin, sekalian saja kita lanjut ke sana.

Internalization atau penggambaran pikiran batin adalah cara yang bagus untuk menyertai dialog tanpa harus terus-menerus memakai “kata” atau petunjuk tindakan. Tapi bukan cuma itu. Pikiran batin juga bisa memberi kita informasi tentang karakter sekaligus situasi yang sedang mereka hadapi.

Pikiran batin yang ditulis dengan baik bahkan sering kali bisa menyelamatkan dialog yang terasa kaku.

Kenapa?

Karena kita membawa kembali kata-kata itu ke dalam kepala tokoh.

Itulah yang benar-benar mereka lihat, rasakan, pikirkan, dan alami—bukan sekadar apa yang ingin dijelaskan oleh penulis kepada pembaca.

Jadi, ketika menemukan blok deskripsi atau eksposisi yang panjang dan bercampur dengan dialog, coba periksa lagi.

Berapa banyak bagian itu yang sebenarnya bisa disampaikan lewat pikiran tokoh?

Dan jangan berhenti di situ. Lihat juga apakah ada informasi lain yang bisa kita selipkan tanpa menambah terlalu banyak kata.

Dengan begitu, pikiran batin bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus: membantu mengalirkan adegan sekaligus memberi pembaca informasi tentang karakter dan situasi.

Lumayan, kan? Satu pekerjaan dapat bonus satu.

Keluarkan Saja

Sekarang kita lihat sisi sebaliknya.

Kadang-kadang kita membuat tokoh memikirkan sesuatu yang sebenarnya akan jauh lebih efektif kalau diucapkan keras-keras.

Ini terutama berguna dalam adegan ketika perawi terlalu lama berada di dalam kepalanya sendiri dan kita perlu membuatnya lebih banyak berinteraksi dengan tokoh lain.

Bayangkan tokoh kita sudah tiga halaman penuh berpikir.

Dia memikirkan masa lalu.

Dia memikirkan masalahnya.

Dia menilai orang di depannya.

Dia mengingat kejadian tadi pagi.

Dia mempertimbangkan kemungkinan terburuk.

Dan pembaca mungkin mulai berpikir:

“Oke, terus kapan dia ngomong sama orang lain?”

Nah, mungkin sudah waktunya beberapa pikiran itu dikeluarkan menjadi dialog.

Teknik ini juga berguna untuk memperbaiki adegan yang polanya seperti ini:

Satu-dua baris dialog → paragraf panjang eksposisi atau pikiran batin → satu-dua baris dialog lagi → paragraf panjang lagi → begitu terus.

Kalau berlangsung terlalu lama, adegannya bisa terasa seperti dua percakapan yang berjalan bersamaan: satu di luar kepala dan satu lagi di dalam kepala.

Kadang, kita hanya perlu mengubah sebagian pikiran itu menjadi percakapan sungguhan. Bukan cuma percakapan dengan diri sendiri. Percakapan dengan orang lain.

Dan sering kali, adegannya langsung terasa lebih hidup.

Ancaman Kosong

Ada satu jenis dialog yang sering luput ketika kita melakukan revisi: dialog kosong.

Masalahnya, dialog seperti ini sangat mudah dilewati saat membaca ulang karena sebenarnya tidak ada yang benar-benar “salah” dengannya.

Dialognya terdengar natural. Percakapannya masuk akal. Memang bisa saja mengatakan hal seperti itu.

Tapi pertanyaannya adalah:

Apakah dialog itu membantu adegan?

Kalau tidak, mungkin kita tidak membutuhkannya.

Contohnya:

“Hai, Zahra,” kata Bayu sambil meletakkan senapannya.

“Hai, Bayu.”

“Kamu menemukan peluru tambahan untuk shotgun kaliber dua belas itu?”

“Ya, ketemu.” Sally merogoh tas punggungnya dan mengeluarkan sebuah kotak. “Isinya juga hampir penuh.”

Sekilas, tidak ada yang aneh.

Tapi ada dua bagian yang sebenarnya bisa kita buang:

“Hai, Bayu.”

dan

“Ya, ketemu.”

Keduanya tidak memberikan informasi baru. Kita bisa langsung memangkasnya dan sedikit mengutak-atik dialognya.

Hasilnya:

“Hai, Zahra,” kata Bayu sambil meletakkan senapannya. “Kamu menemukan peluru tambahan untuk shotgun kaliber dua belas itu?”

“Iya.” Zahra merogoh tas punggungnya dan mengeluarkan sebuah kotak. “Hampir satu kotak penuh.”

Jauh lebih ringkas.

Dan yang penting, adegannya tetap terasa natural.

Jangan salah paham: bukan berarti setiap sapaan harus dibuang dari novel.

Kadang “Hai,” “Apa kabar?” atau “Terima kasih” memang punya fungsi. Mungkin karakter sedang menunjukkan kesopanan, kecanggungan, kedekatan, atau justru ketegangan.

Yang perlu dipertanyakan adalah:

Apa fungsi kalimat ini?

Kalau jawabannya cuma “Ya… memang orang biasanya ngomong begitu,” mungkin kalimat itu bisa dipertimbangkan untuk dipotong.

Dalam fiksi, kita tidak punya ruang sebanyak percakapan di dunia nyata.

Kita ingin percakapan terasa nyata, tetapi bukan berarti harus menyalin semua bagian percakapan nyata—termasuk basa-basi yang sebenarnya tidak membawa cerita ke mana-mana.

Jangan Biarkan Dialog Berhenti

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah di mana kita meletakkan tag dialog.

Sering kali, cara paling mudah adalah menaruh tag di belakang.

“Kita harus pergi sekarang,” kata Keiko.

Tidak ada masalah dengan pola seperti ini.

Tetapi kalau setiap dialog dalam satu adegan menggunakan pola yang sama:

“Kita harus pergi sekarang,” kata Keiko.

“Kenapa?” kata Bayu.

“Karena mereka sudah datang,” kata Zahra.

“Siapa?” kata Bob.

Lama-lama terasa seperti mesin yang sedang mengeluarkan kalimat.

Dialog → tag.
Dialog → tag.
Dialog → tag.

Membosankan.

Jadi, sesekali ubah posisinya. Bukan untuk sekadar pamer variasi, tetapi untuk membantu ritme.

Anggap tag dialog seperti koma besar. Letaknya bisa menciptakan jeda, tekanan, atau perubahan energi dalam sebuah kalimat.

Coba perhatikan tiga versi berikut:

Zahra mengerutkan kening. “Tidak. Artinya kita tidak akan pernah keluar dari sini hidup-hidup.”

Atau:

“Tidak. Artinya kita tidak akan pernah keluar dari sini hidup-hidup,” kata Zahra.

Atau:

“Tidak,” kata Zahra sambil mengerutkan kening. “Artinya kita tidak akan pernah keluar dari sini hidup-hidup.”

Semuanya benar.

Tetapi rasanya berbeda.

Pada versi pertama, tindakan Zahra muncul lebih dulu dan kemudian dialognya menghantam.

Versi kedua terasa lebih datar dan langsung.

Versi ketiga memberi kita jeda setelah kata “Tidak”, sehingga kalimat berikutnya mendapatkan tekanan lebih besar.

Nah, kalau kita sedang menulis kalimat yang merupakan punchline, kejutan, atau momen “DUM-DUM-DUM!”, posisi tag bisa sangat menentukan.

Kadang hanya dengan memindahkan tag beberapa kata saja, efek dramatisnya berubah.

Bukan Cuma Apa yang Dikatakan, Tapi Bagaimana Mengatakannya

Ini bagian yang sering dilupakan.

Saat merevisi dialog, jangan hanya melihat apa yang dikatakan tokoh.

Perhatikan juga bagaimana kalimat itu terdengar ketika dibaca.

Sebuah dialog bisa saja ditulis dengan sangat baik. Pilihan katanya tepat. Informasinya penting. Karakternya juga masuk akal.

Tapi kalau penempatan tag dan jedanya mengganggu aliran narasi, seluruh halaman bisa terasa berat.

Kadang kita tidak perlu menulis ulang dialognya.

Cukup memindahkan tag. Atau menghapusnya. Atau menggantinya dengan sedikit tindakan. Atau memasukkan satu pikiran batin.

Perubahan kecil seperti itu kadang sudah cukup untuk membuat adegan terasa jauh lebih lancar.

Jadi, ketika melakukan revisi, jangan cuma bertanya:

“Apakah dialog ini bagus?”

Coba tanyakan juga:

“Apakah dialog ini mengalir?”

Karena dialog yang bagus bukan hanya soal kalimat yang terdengar keren. Dialog yang bagus juga tahu kapan harus berhenti, kapan harus diberi jeda, kapan harus dibiarkan berdiri sendiri, dan kapan sebuah “kata Zahra” justru merupakan pilihan terbaik.

Pada akhirnya, kita tidak sedang berusaha menghapus semua tag dialog. Kita juga tidak perlu mencari sinonim untuk “kata” sampai kamus ikut kelelahan.

Yang kita cari adalah ritme yang terasa alami.

Dan kalau pembaca bisa mengikuti percakapan tanpa pernah merasa terganggu oleh tag, berarti kita sudah melakukan pekerjaan kita dengan baik.

Pertanyaan untuk direnungkan saat revisi: Seberapa besar perhatian yang biasanya kamu berikan pada tag dialog? Apakah kamu suka memvariasikannya, atau justru sering menggunakan “katanya”? Dan pernahkah kamu menghindari “katanya” hanya karena ada yang bilang bahwa penulis “tidak boleh” terlalu sering menggunakannya?

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *