Apa tujuan utamamu khotbah Jum’at ini, hai debu?
“insya allah saya ingin audiens lebih tercerahkan
menjadi lebih tenang dan bersyukur dalam menjalani kehidupan
yang kini kian penuh tantangan zaman, aamiin”
putar langkahmu
kembalilah ke rumah, dan salin ulang niatmu
sebab kau mencoba mengambil alih posisi -Ku
setelah itu, melangkahlah lagi dengan lebih bening dan syahdu
langkah awalmu menuju rumah -Ku kau tertipu
mencoba kangkangi hidayah sebagai buah khutbahmu,
apakah kau ilah manusia atau Aku Tuhan Semesta?
tapi getar ruhmu yang terus bergeliat di sudut hati,
memaksa -Ku untuk mengecupmu berulang kali,
lagi dan lagi,
memberimu paham apa itu delusi ikhlas dan apa itu lillah sejati
mendekatlah kepada -Ku, dan jangan pernah terjerat menggantikan Aku
karena hidayah hanya milik -Ku, dengan kuasa penuh di tangan -Ku saat ingin Kubagi ke siapapun, dengan atau tanpa perantara siapapun
dalam hening sosok yang memang cuma debu ini kembali melangkah,
senyap sekaligus riuh,
“Allah Sang Terbesar, dan aku memang cuma debu
yang benarkah masih genap sebutir?”
“Bismillah…” ucap sosok debu dengan nada yang lebih ringan
kembali melangkah menuju rumah Tuhan
dengan hati yang tak lagi rawan
dengan jiwa yang lebih gagah, dengan asa yang lebih rupawan
“tiada daya dan upaya hanya Engkau,
duhai Telaga Segala Rindu
kau saksikan si bodoh ini mengucap asma -Mu
mencoba melakukan yang terbaik sekuat mampu
mengajak sebanyak mungkin manusia: menuju -Mu
dan setelahnya
biarlah cukup hanya Engkau sebaik pengakhir perkara
sedang hamba, tak lebih, hanya setitik perantara
bagi muara kesegalaan -Mu”
Allah, ampuni hamba
yang tak juga paham cara
: mencintai -Mu, dengan cinta yang harusnya cuma cinta saja
dengan cinta
yang benarkah itu semua adalah cinta?
Andalas-Jawadwipa, Tahun Kontemplasi Diri.









