Pukul dua dinihari, Ben terbangun karena perutnya sakit. Kepalanya berdenyut, terasa seperti baru saja dipaksa memimpikan seratus takdir yang saling bertentangan. Ia tahu ini adalah konsekuensi dari melompat ke Lubang Hitam Ingatan.
Ben terjebak dalam kontradiksi pengetahuan. Dirinya saat ini merasa tidak paham namun sekaligus pula paham. Ia tidak tahu di mana posisinya kini, namun ia tahu satu hal yang sangat pasti, yaitu bahwa dirinya: harus segera ke WC!
Terbungkuk-bungkuk dia berlari menuju WC. Ia harus segera ke sana. Tanpa ba-bi-bu, dia mengunci pintu WC serta memulai ritual pembersihan perut dengan amat serius dan penuh konsentrasi.
Tapi baru saja Ben melakukan pengeboman gelombang pertama ketika mendadak pintu WC dijebol dari arah luar. Kayu pintu pecah berlubang di bagian tengah, dan lubang itu seolah menganga dalam keheningan.
Dengan amat kaget Ben menoleh. Pemandangan di hadapannya membuat Ben hampir pingsan: jempol raksasa sebesar batang pohon kelapa muncul dari lubang jebolan pintu. Permukaan jempol itu pucat, penuh bulu kasar yang berminyak dan dihiasi tato semi-permanen berisi kata-kata motivasi yang kontradiktif. Urat-uratnya sebesar tali tambang terlihat bergerak di bawah kulit, diselingi satu jerawat batu sebesar kelereng yang siap pecah.
Jempol Setan itu menyeringai sinis, seperti melihat aib yang sangat familier. Kuku-kukunya panjang, tajam, dan berwarna hijau kekuningan. Tepat di pangkalnya terpasang sebuah cincin batu akik murahan yang memancarkan cahaya redup. Dari sela-sela gusi yang memar, menetes cairan kental hitam kehijauan yang berbau amis.
Saat menatap Ben, tubuh jempol setan tak berhenti berkedip. Siluet cahaya yang kelam namun sekaligus mengundang keinginan untuk disko terpantul dari bulunya.
“ROOAARRRRGGGHHH!!!” geram Si Jempol Setan. Suaranya terdengar berat, kuno, dan memuat resonansi kesepian kosmik. Ia maju perlahan, siap mencabik tubuh Ben yang terjengkang hingga ngangkang di atas WC saking kagetnya.
Sekuat tenaga Ben berteriak memanggil Ki Plenyun. Tapi lidahnya terkunci urat ketakutannya sendiri, menyulapnya jadi amat kaku dan tak mampu digetarkan. Jaringan otot di seluruh tubuh Ben turut membeku. Ia panik, bukan hanya karena Jempol Setan kian beringas menghampiri—siap mengunyah dirinya hingga menjadi ribuan serpih daging yang penuh saus darah—melainkan lebih karena ia merasa bahwa dirinya seperti sedang dihakimi oleh sesuatu yang seharusnya tidak nyata.
Apakah aku akan mati di sini? Di WC? Juga karena menjadi korban Jempol Setan? Alangkah amat tak kerennya!
Ben ingin berdoa, tapi dia ingat wejangan Pak Ustadz tentang makruhnya menyebut nama Tuhan di dalam WC. Haruskah dia merendahkan nama-Nya, hanya demi keselamatan jiwa pribadi? Begitu juga ketika Ben ingin melafal, “Numpang-numpang anak bagong lagi e’ek,” ajaran kakak pembina pramukanya waktu kecil dulu, dia justru merasa tak ikhlas.
Apa hebatnya berpura-pura jadi anak babi? Apakah hanya demi menyelamatkan diri dia harus hidup dari kepura-puraan? Mesti rela merendahkan diri menjadi anak dari hewan rakus, untuk kemudian kelak berubah kembali menjadi tikus kantor atau lintah darat penghisap buah lelah keringat masyarakat?
Bermacam-macam ingatan susul-menyusul di benak Ben dengan amat riuh, hingga akhirnya, sebuah ilham yang agak nakal-jahil berhasil membangkitkan semangatnya. Tubuhnya kembali rileks. Ditatapnya Jempol Setan yang terus menggeram seram di depannya dengan senyum sinis.
Seperti tahu disepelekan Ben, Jempol Setan meraung sejadi-jadinya, taringnya mencuat ke depan, bulu-bulu di sekujur jempolnya membayangkan kekejaman ribuan jarum baja yang siap menusuk bersamaan. Detik itu juga, ia melompat, mencoba mencaplok Ben bulat-bulat diiringi bunyi CPLAKK! yang menciutkan nyali.
Sigap Ben menghindar ke samping, lalu dengan penuh keyakinan dia acungkan jari kelingking ke arah jempol setan, dan….
WUZZZ…!!!
Suasana kembali senyap. Tak ada lagi Jempol Setan. Juga tak ada pintu WC yang jebol. Semua kembali normal seperti tak pernah terjadi apapun.
“Baru tahu ada setan yang ngajak suit,” gumam Ben sambil menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. Dengan penuh perasaan konyol dia keluar dari WC.
Tapi baru beberapa langkah Ben berjalan ketika dia terlonjak, dan langsung berlari kembali ke dalam WC dengan amat gugup.
Ben lupa cebok.
***
Saat Ben hendak keluar untuk kedua kalinya, dia dihadang oleh Ki Plenyun. Kakek guru itu berdiri di ambang pintu kamar mandi, memegang sehelai tissue gulung dengan tatapan mata yang kosong.
“Ah, Ki Plenyun!” seru Ben lega, menyadari ia masih hidup. “Dia tadi menyerangku di sini! Tapi aku berhasil mengalahkannya hanya dengan—”
Ki Plenyun memotong, suaranya pelan, datar, dan benar-benar tidak lagi mengandung tawa. Ini adalah Ki Plenyun yang lelah, kelelahan mental setelah terpapar kekacauan cerita Ben.
“Tentu saja ia menyerangmu, Ben,” kata Ki Plenyun, menghela napas. “Kau tadi hampir mati karena… keterkejutan.”
Ben mengernyit. “Keterkejutan? Bukan Jempol Setan?”
“Jempol Setan hanyalah wujud dari rasa bersalah pemuda itu—karena cita-cita jarinya terlalu tinggi,” jelas Plenyun sambil menatap jempolnya sendiri, seolah takut ikut terkutuk.
“Semua keanehan yang kau lihat di Jempol itu,” lanjutnya, “tato motivasi yang saling menipu, jerawat yang siap pecah, cincin batu akik murahan—itu semua gejala tekanan batin.
Bayangkan, jempol yang kerja seharian cuma buat scroll tiba-tiba diminta jadi simbol kesuksesan dan cinta abadi. Ya streslah.”
Plenyun kini terdengar seperti dosen sastra yang baru saja kehilangan akal sehatnya. Ia memandang Ben dengan sedih, seolah Ben telah mengkhianatinya. “Dia kehilangan jempol, lalu di alam bawah sadarnya, ia melihat sisa jarinya kabur mengejar karir mereka: telunjuk sibuk berpolitik, jari tengah sibuk di Amerika, jari manis sibuk kawin…”
“…dan kau tahu apa yang terjadi pada kelingking, Ben? Karena terlalu sering dipenggal dalam ritual yakuza, si kelingking itu akhirnya punya skill baru: Ia menjadi jagoan suit! Ia selalu menang. Saat kau mengacungkan kelingking, kau secara tak terduga mengingatkan si Jempol Setan bahwa kisahmu bukan lagi kisah horor, melainkan sebuah komedi tentang jari-jari yang berjuang meraih karir!”
Ben terperangah. Ki Plenyun telah mengambil improvisasi konyolnya yang dadakan itu, dan menganalisisnya sebagai plot yang logis.
“Kau mengacaukan kepalaku, Ben,” lanjut Ki Plenyun. Ia menghela napas, kini menatap gulungan tissue di tangannya dengan serius. “Aku yakin kita melompat ke Garis Waktu yang benar, tapi kini aku tak yakin lagi cerita mana yang harus diubah. Apakah kisah pemuda itu kehilangan jempol, atau cerita si kelingking yang hebat suit?”
Ki Plenyun tiba-tiba membanting tissue gulung itu ke lantai. Wajahnya kembali menyeringai gila, tapi kali ini bercampur frustrasi.
“Tidak! Cukup! Aku adalah Plenyun! Penjelajah waktu! Aku tidak akan kalah dari logika konyol cerita! Kita harus menemukan Pemuda itu sebelum ia terinfeksi oleh kisah kita sendiri! Sekarang, tunjukkan di mana Pemuda pemilik jempol itu berada, Ben! Aku tak mau lagi tahu tentang urusan WC, jari tengah, apalagi suit!”
Ben tersenyum kecil. Ia telah melihat kegilaan sejati di mata Ki Plenyun: kegilaan seorang ahli kosmik yang dipaksa menerima bahwa kekacauan paling dahsyat bukanlah waktu, tapi cerita.
“Baik, Ki,” kata Ben. “Aku akan tunjukkan. Tapi sebelumnya, kau harus tahu, Pemuda itu tinggal di kamar sebelah. Dan dia tidak kehilangan jempolnya. Dia hanya kehilangan cincin tunangan yang ia letakkan di jempolnya…”
Ki Plenyun mendengus, siap meledak.
“…sebab Jempol Setan itu, Ki,” sambung Ben, berbisik misterius, “adalah wujud dari kemarahan jari manis yang ingin cepat-cepat kawin.”
Ki Plenyun menjerit kecil. Suaranya pecah karena kebingungan. Ben sudah memenangkan permainan ini. Mereka tak lagi hidup dalam waktu. Mereka kini hidup dalam cerita Ben (Bersambung ke bab 4: Misi Kamar Sebelah: Ki Plenyun Terbirit-birit!)









