“Impian adalah kumpulan gagasan yang terealisasi entah segera atau nanti”
Aachen-Jerman
Mata Hans berbinar mendengar pemberitahuan bahwa hasil rancangannya masuk nominasi sebagai rancangan terbaik pameran teknologi kedirgantaraan di negaranya. Tidak sia-sia hasil perjuangannya selama ini bersama teman-temannya. Serangkaian percobaan demi percobaan telah ia lakukan agar bisa seperti tokoh idolanya dari Indonesia, B.J. Habibie. Seorang insinyur yang telah berhasil merealisasikan pesawat rancangannya sendiri. Bahkan, teknologinya sudah diakui oleh tokoh-tokoh teknologi dari dunia barat dan seluruh dunia. Hans sangat bangga. Tak sabar ingin segera merealisasikannya. Langkah awal yang akan dikerjakan, dia ingin membuat percobaan dasar. Membuat helikopter mini.
Hans merasa senang. Sebagai seorang pemuda yang terlahir dari keluarga sederhana dan pekerja keras, Hans telah dikaruniai otak cerdas, bahkan sangat brilian. Kedua orang tuanya, Karl dan Helga, sangat keras mendidik serta disiplin dalam hal pendidikan. Mereka terapkan kepada dua anaknya, Hans dan Natasha. Bagi mereka, pendidikan adalah hal paling utama dari manusia. Tanpa sentuhan pendidikan, manusia takkan mampu menguak dan mengubah peradaban.
Hans sangat bersyukur, dia adalah satu dari beberapa pemuda yang memperoleh beasiswa dari pemerintah negaranya untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara gratis di salah satu universitas teknologi terbaik di Negara Bavaria yang juga alumni tokoh idolanya. Hans sangat bangga. Ada semangat membara agar dia bisa menyaingi karya lainnya, seperti tokoh idola kebanggannya. B. J. Habibie.
Dengan semangat tinggi, Hans membangun mimpi-mimpinya agar kelak menjadi seorang ahli teknologi juga.
Hari itu, menemui Müller, sepupunya di asmara. Mereka memang tidak satu kamar karena beda jurusan. Tetapi Müller sering membantu Hans. Dia takkan membiarkan Hans berjuang ataupun kepayahan seorang diri.
“Muller, lihatlah! Akhirnya aku akan mampu menyaingi tokoh idolaku!” seru Hans dengan mata berbinar. Dia memperlihatkan karya rancangannya yang sedikit mendekati sempurna. Rambut coklat keemasannya terlihat mengkilat tertimpa cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah atap terbuka ketika berada di ruang uji coba.
Müller merasa bangga pada Hans,“Wah, hebat kau, Hans! Aku harap kau akan sukses dengan proyek ini kelak!” seru Müller, kagum dengan sepupunya. Pengaruh tokoh jenius asal Indonesia itu telah membuat Hans menjadi menjadi salah satu calon ilmuwan teknologi terkemuka selanjutnya di Jerman. Nilai Hans tertinggi dari sekian peserta. Tidak hanya tertinggi, tetapi juga yang terbaik. Suatu prestasi yang sangat membanggakan.
“Tentu saja. Orang tuaku pun mendukungku agar aku bisa menjadi ilmuwan terkemuka. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.” Hans sangat bersemangat. Dua bola matanya hazelnya menatap jauh ke hamparan rumput di samping ruangan yang mereka gunakan untuk tes dan uji coba.
Rasa bangga Hans menyelimuti dirinya. Dia ingin dan ingin terus mengembangkan diri. Beberapa dosennya sangat antusias mendorongnya ketika akan mengikuti beberapa pameran internasional. Hans selalu ada di barisan terdepan. Dia akan membuktikan kepada kedua orang tuanya jika putra mereka kelak akan menjadi seorang tokoh terkenal yang disegani di Jerman. Tentu saja, dengan perjuangan dan kerja keras.
***
Akhir pekan menyapa, awal liburan kampus.Hans bersama Müller, sepupunya yang juga satu kampus dengannya, bersama-sama ingin pulang ke kampung halaman mereka di Frankfurt. Menaiki S-Bahn (Stadt Bahnhof), atau kereta api antar kota yang bisa menghubungkan dengan kawasan pinggir kota. Keluarga Hans tinggal di daerah pinggiran yang juga bagian dari suatu desa besar di Jerman. Tidak begitu besar juga tidak terlalu jauh dari kota. Hans merindukan suasana desa itu. Keluarganya pendatang. Setelah ayahnya pensiun, mereka memilih menepi dari hiruk pikuk perkotaan.
Dengan barang bawaan yang tidak begitu banyak, Hans dan Müller segera mengambil tempat duduk yang masih kosong.
Perjalanan di mulai. Kedua pemuda itu begitu santai dengan perjalanan mereka. Selama kurang lebih dua jam dalam perjalanan, mereka disuguhkan dengan berbagai pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Untung saja, saat itu sedang musim panas. Sehingga beberapa objek perbukitan yang mereka lalui tampak begitu indah. Hans lebih suka mengabadikan waktu itu dengan menulis beberapa catatan perjalanan serta mendokumentasikannya. Kegemarannya selain di bidang otomotif dan rancang bangun.
Beberapa artikelnya sejak masa sekolah menengah pertama pernah muncul di beberapa surat kabar nasional. Semuanya berisi tentang ide, gagasan, serta berbagai hal yang berkaitan dengan teknologi, pendidikan, serta catatan perjalanan.
Dilihatnya Müller yang ada di sampingnya sudah terlelap. Kepalanya bersandar pada kursi kereta. Hans hanya geleng-geleng kepala. Sepupunya itu memang terlihat sangat lelah. Sejak pagi-pagi dia sudah terbangun, mempersiapkan segala sesuatu sebelum keberangkatan mereka. Hans mendiamkannya.
Dia kembali menulis. Dalam tulisannya, ada ambisi besar yang ingin dilakukan agar namanya kelak abadi menjadi salah satu ahli teknologi mumpuni yang diakui. Tidak hnaya di negaranya, tetapi juga di kancah internasional.
Separuh perjalanan telah dilewati. Penumpang kereta mulai turun di tempat tujuan masing-masing. Masih satu jam perjalananan lagi mereka akan sampai di Frankfurt. Hans ikut menyandarkan punggungnya dan perlahan dia pun ikut terlelap. Menjemput mimpi indah.
Tak terasa, matahari sudah tergelincir berpindah tempat menuju peraduan lainnya. Hans dan Müller turun dari kereta dan menuju ruang tunggu di depan. Ayah Hans, Karl, akan menjemput putra dan kemenakannya itu.
“Sebaiknya, kau beristirahat dan menginap di rumahku dulu, Müller. Kita bisa berenang di sungai di dekat hutan Taunus. Seperti yang kita lakukan dulu,” kata Hans penuh semangat. Begitulah Hans. Untuk melepas kejenuhan dia akan mendatangi tempat-tempat alam, melepas kepenatan. Terutama kepenatan pikiran, agar pikirannya kembali segar. Tak jarang, beberapa ide rancangannya pun terinspirasi dari sepasang burung yang dilihatnya terbang di dekat hutan pinggiran kota.
“Oh, baiklah. Aku akan mengabari orang tuaku dulu.” Müller tersenyum. Dia mengetik pesan kepada orang tuanya melalui telepon genggamnya.
Tidak berapa lama, sebuah mobil datang. Hans berseru, “Ayahku datang menjemput kita. Lihatlah!”
Seorang pria paruh baya datang mendekati mereka. Karl, adalah ayah Hans. Di usianya yang sudah memasuki setengah abad dia masih terlihat kuat. Wajahnya ramah disertai senyum khas yang selalu.
Hans menyambut dan menghambur ke pelukan ayahnya. “Aku merindukan Ayah.”
“Aku juga, Nak.”
“Ayah, terima kasih sudah menjemput kami.” Hans mengurai pelukannya dari Karl. .
“Selamat datang, Müller. Senang melihat kalian kembali.” Karl memeluk keponakannya.
“Terima kasih, Paman Karl.” Müller pun memeluknya. Karl membantu membawakan barang-barang mereka ke dalam mobil. Kedua pemuda itu mengikutinya dari belakang.
Di dalam mobil, Hans bercerita panjang lebar kepada ayahnya, jika di tahun kedua pendidikannya dia akan mengikuti pameran teknologi rancang bangun kedirgantaraan. Karl begitu senang mendengar cerita dari putranya jika hasil rancangannya menjadi nominasi rancangan terbaik.
“Ayah sangat bangga padamu, Nak. Ayah yakin, kelak kau akan menjadi salah satu tokoh teknologi penting di negara ini,” ucapnya pada Hans, bangga.
“Terima kasih, Ayah. Semua ini juga berkat didikan dan perjuangan ayah dan ibu. Aku sangat bangga dengan kalian.” Senyum Hans makin mengembang.
“Setiap orang tua pasti akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Jangan pernah berhenti bermimpi dan berusaha menjadi yang terbaik.”
“Tentu saja, Ayah.” Hans sangat puas mendapat apresiasi orang tuanya.
Sepanjang jalan mereka becanda dan menceritakan banyak hal-hal yang dialami selama menjalani pendidikan. Tampak sebuah rumah terlihat dari jauh. Rumah itu berada di perbatasan desa di pinggiran kota. Itulah rumah milik Karl dan Helga, orang tua Hans.
Hans sudah tidak sabar ingin segera bertemu ibu serta adik perempuannya, Liona. Dia membayangkan gadis itu tengah berlari menyambut kedatangannya dengan wajah manisnya. Hans sudah tidak sabar. Kini mereka sudah semakin dekat rumah.










