Home / Genre / Romansa / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 43

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 43

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 44 of 59 in the series Cinta Kedua & Terakhir

“Adikku itu, Yah. Ya jelas dong. Kebanggaanku. Oiya. Tadi ayah nanya soal asisten. Apa ayah ada rekomendasi?” tanya Silvia sambil membersihkan mulut dan tangannya dengan tisu meja setelah minum segelas susu yang dibuatkan ibunya.

“Kalau kamu mau, Ayah ada satu orang wanita. Umurnya tidak jauh beda dari ibumu. Tapi kalau soal penampilan dia masih oke.”

Silvia melihat wajah ibunya berubah seketika. Dia dapat merasakan apa yang dirasakan ibunya. Dia jadi ingat masa lalunya, saat suaminya dulu mengatakan kalau penampilannya tidak jauh beda dari pembantu. Hanya kalimatnya yang berbeda, tapi Silvia dapat merasakan kesedihan yang dirasakan ibunya sama dengan yang pernah dia rasakan.

“Soal penampilan itu nomor dua, Yah. Yang terpenting itu kualitas dulu. Seperti Ibuku ini, Yah. Pintar, baik, dan juga penuh dengan kasih sayang.”

Silvia berdiri dari duduknya dan memangku pundak ibunya yang sedang duduk.

Rohana membalas rangkulan anaknya dengan memegang kedua tangan Silvia.

“Terima kasih, Anakku.”

Pak Herman hanya tersenyum melihat kedekatan ibu dan anak itu. Dia tidak ingin mengomentarinya. Yang dia inginkan adalah memastikan apakah Silvia menerima kandidat yang akan direkomendasikannya atau tidak. Harapannya adalah jawaban ya.

“Baiklah, Ayah. Aku akan menunggu orang yang ayah rekomendasikan itu hari ini jam delapan atau jam sembilan juga boleh. Aku sekarang berangkat dulu ya, Ayah?” Dia mencium kedua tangan orang tuanya.

Silvia berangkat ke kantor dengan para pengawal yang sudah bersiap-siap dari tadi.

Hari ini memang Dokter Dana tidak menjemput Silvia, karena ada tugas yang harus dia lakukan. Dia tidak bisa datang ke rumah sakit atau ke kantor.

Pagi ini orang yang dia suruh memata-matai Rani meneleponnya. Katanya Rani menemui seorang wanita di sebuah taman bermain.

Sayangnya foto yang dikirim ke ponselnya tidak memperlihatkan wajah wanita itu dengan jelas.

Dia segera menghubungi mata-mata yang dia kirim.

“Dapatkan wajah wanita yang ditemuinya itu, bagaimana pun caranya.”

“Baik, Bos.”

Dokter Dana menunggu dengan harap-harap cemas. Tidak lama berselang, akhirnya sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Dia pun segera membuka ponselnya, dan melihat foto yang sudah terkirim ke ponselnya.

Seketika matanya terbelalak melihat wajah perempuan yang di kirim anak buahnya. Dia pun segera menghubungi anak buahnya lagi. Satu kali panggilan langsung di jawab.

“Halo, Bos.”

“Kirim lokasi orang ini. Sekarang.”

“Baik, Bos.”

Tidak lama menunggu lokasi yang diminta Dokter Dana pun masuk ke ponselnya.

Dengan gerakan yang cepat dia segera menyambar kunci mobil yang ada di atas meja. Dia segera memasuki lift. Setelah sampai di parkiran, dia segera berlari ke arah mobilnya.

Sopir dan para pengawalnya di buat ternganga. Tapi para pengawal dengan sigap juga mengikutinya dengan mobil dari belakang.

Dokter Dana mempercepat laju mobilnya supaya dia segera sampai di lokasi yang dituju. Dia menjalankan mobilnya dengan penuh konsentrasi.

Tidak ada halangan apa pun saat di jalan raya membuat Dokter Dana dengan cepat sampai di lokasi.

Dia segera turun dan berlari ke tempat yang sudah ditunjuk oleh Google Maps.

Dia memutar kepalanya, ke kiri dan kanan. Hingga dia melihat seseorang yang tidak asing. Setelah melihat sekilas dia berpaling ke arah lain, lalu kembali melihat ke arah sebelumnya.

Ternyata benar. Orang yang sedang duduk di bangku taman itu, yang duduk berdampingan dengan Rani, ternyata memang dia.

Dia yang telah lama pergi dari hidupnya. Orang yang telah meninggalkannya dan Kaila demi sebuah karier dan kesenangannya sendiri. Dia adalah mantan Dokter Dana.

Sebenarnya dia telah melakukan hubungan terlarang dengan orang lain. Namun Dokter Dana tetap menerimanya walau dia telah berselingkuh darinya, karena Dokter Dana sangat mencintainya.

Dokter Dana berniat melamarnya saat anaknya lahir, karena laki-laki yang sudah menghamilinya tidak mau bertanggung jawab. Tapi setelah anaknya lahir, dia meninggalkan anaknya begitu saja.

Wanita itu tidak pernah menyusui Kaila. Bahkan dia tidak mau melihat wajah Kaila sedikit pun.

Dia mematung memandang wanita itu dengan jarak dua meter. Matanya terasa panas saat mengingat masa-masa indah bersamanya. Wanita cantik itu selalu bisa menumbuhkan rasa cinta di hati Dokter Dana.

Rasa rindu yang dulu memenuhi relung hatinya telah tergantikan dengan rasa cinta yang dalam kepada tunangannya , yaitu Silvia.

Para pengawal yang tadinya mengikutinya, kini sudah tiba dan berada di belakang Dokter Dana.

“Pergilah kalian. Berikan saya privasi!” perintah Dokter Dana tanpa menoleh ke arah mereka.

Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.

Wanita yang sedang duduk berdua sambil bercerita serius dengan Rani pun seketika terkesiap, saat pandangannya tertuju pada Dokter Dana.

Dia segera berdiri tanpa menghiraukan orang yang duduk di sampingnya. Dia berjalan santai tapi pasti menuju ke tempat Dokter Dana berdiri mematung.

Sesampainya di sana, mereka saling memandang. Cairan bening dari mata wanita itu keluar hingga membanjiri pipinya.

Sedangkan Dokter Dana menatapnya dengan tatapan mematikan. Dia sangat marah karena wanita itu pergi meninggalkan putrinya demi sebuah karier sebagai artis terkenal.

Sebenarnya tidak akan sulit bagi Dokter Dana untuk mencari keberadaannya. Namun dia sengaja tidak mencarinya karena dia tidak ingin memaksakan kehendaknya dan menghancurkan mimpi orang lain.

Setelah beberapa detik lamanya mereka hanya saling pandang, akhirnya wanita itu merebahkan tubuhnya ke pangkuan Dokter Dana.

Karena dorongan tubuhnya begitu kuat, Dokter Dana hampir terdorong ke belakang. Refleks saja dia memegang tubuh wanita cantik itu untuk menyeimbangkan lagi tubuhnya.

Dan itu terlihat seperti mereka sedang berpelukan karena saling mencintai dan merindukan. Padahal itu semua tidak benar.

Tak dipungkiri, dulu dia memang mencintai wanita itu. Tapi setelah kehadiran Silvia di hatinya, dia tidak pernah lagi merindukan wanita itu. Bahkan dia sudah melupakannya.

Sekarang saat bertemu dengan wanita itu, semua kenangan masa lalu kembali muncul di ingatannya. Bukan kenangan yang manis namun yang menyakitkan.

Dokter Dana tidak menyadari, bahwa dari tadi ada seseorang yang merekam pertemuannya dengan wanita itu sampai saat mereka berpelukan.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 42 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image