Home / Non Fiksi / Tutorial / Menjadi Penulis: Mengapa Ada Buku yang Lebih Sulit Ditulis daripada yang Lain

Menjadi Penulis: Mengapa Ada Buku yang Lebih Sulit Ditulis daripada yang Lain

Menjadi Penulis 20251212

Kita jatuh saat belajar berjalan. Lutut lecet saat mencoba tetap di atas sepeda. Banyak makanan gosong sebelum kita memasak makanan yang layak dimakan.

Menjadi lebih baik dalam sesuatu datang dengan kesalahan dan terkadang rasa sakit. Menulis pun begitu.

Namun, itu tidak mengurangi rasa frustrasinya.

Awal-awal mengerjakan novela Kidung Bocah Udik sekadar pengisi waktu—oke, dua tahun—yang merupakan kisah tentang proses tumbuh kembang di wilayah konflik. Aku  sedang berusaha keras, mencoba hal-hal baru dan menantang, dan separuh waktuku ingin membuang naskah itu keluar jendela dan mengerjakan sesuatu yang lain.

Tapi aku tidak bisa, karena aku menyukai ceritanya dan ingin menulisnya sebagaimana mestinya.

Yang berarti aku perlu berkembang sebagai penulis dan menguasai beberapa aspek genre yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Sekarang orang-orang menyebutnya slice of life dan/atau coming of age. Dulu aku menyebutnya kisah kehidupan.

Aku menciptakan ketegangan seksual yang tidak dimiliki novel untuk para remaja, menjadi berani dan seksi tetapi tetap setia pada audiens remaja.

Meskipun cerita ini hanya memiliki unsur romantis—bukan romansa sejati—aku harus melatih diri untuk menggali lebih dalam tokoh dan hubungan daripada yang biasanya aku lakukan.

Ini hal yang baik, karena tokoh yang lebih baik menghasilkan buku yang lebih baik, tetapi bagi seorang penulis yang berorientasi pada plot sepertiku, aku melakukan banyak kesalahan dan banyak menulis ulang. Aku juga banyak membaca buku-buku yang memiliki ciri-ciri serupa, yang merupakan bagian yang menyenangkan.

Ini merupakan perjuangan berat sepanjang jalan.

Aku menyebutnya novel masa pertumbuhan.

Ini adalah buku-buku yang harus kita lalui dengan susah payah untuk tumbuh sebagai penulis.

Yang mencegaku menjadi gila adalah mengetahui bahwa mendorong diri sendiri adalah bagian dari perkembangan sebagai penulis, dan masa pertumbuhan biasanya berat. Bukan berarti aku payah, atau aku tidak bisa menulis tentang coming of age, atau buku itu jelek, hanya saja aku perlu mengasah keterampilan sebelum mendapatkan buku yang aku inginkan.

Tidak peduli seberapa baik Anda mengetahui sesuatu, selalu ada ruang untuk berkembang dan hal-hal yang perlu dipelajari. Itu berlaku dua kali lipat untuk proses kreatif seperti menulis.

Jika Anda sedang berjuang melewati masa-masa sulit dalam menulis novel, jangan putus asa. Mungkin sekarang terasa berat, tetapi akan membaik dan Anda akan menjadi penulis yang lebih baik. Untuk membantu, berikut beberapa hal yang aku lakukan:

  1. Membaca novel yang membahas hal-hal yang ingin aku tingkatkan atau pelajari dengan baik
  2. Mendorong diri keluar dari zona nyaman dan mencobanya meskipun aku khawatir itu tidak akan berhasil
  3. Mencari pembaca beta yang lebih ahli/lebih familiar dengan hal-hal ini daripadaku. (Seperti mencari penulis dalam genre baru yang mungkin ingin Anda coba)
  4. Mengizinkan diriku untuk gagal total
  5. Menyadari bahwa aku perlu beberapa kali mencoba—atau lebih dari beberapa kali mencoba—untuk melakukannya dengan benar.
  6. Menerima bahwa mungkin aku tidak akan langsung berhasil sekarang, dan ini bisa menjadi buku yang perlu aku kerjakan lagi kapan-kapan.

Hanya waktu yang akan menentukan bagaimana eksperimen ini akan berakhir, tetapi aku berharap yang terbaik. Ini bukan buku pertama yang membuatkufrustrasi dan ini tidak akan menjadi yang terakhir. Dan setiap buku setelah ini akan menjadi lebih baik karena pengalaman ini.


Jawa Barat, 12 Desember 2025

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image