Beranda / Fiksi / Cerbung / 1. Hujan di Musim Kemarau

1. Hujan di Musim Kemarau

Musim Semi di Tarburg
This entry is part 2 of 7 in the series Musim Semi di Tarburg

“Kau serius?” Tamtam bertanya sekali lagi untuk meyakinkan kawannya. Mereka sedang berada di sebuah lounge terkenal di Tarburg.

“Kenapa tidak? Lyra cantik, ramah, yang pasti dia penuh pesona.” Basha terkekah saat mengatakan itu. Wajahnya memerah, malu.

“Bukankah dia sedikit … sombong?” tanya Tamtam lagi. Dia mengenal gadis itu sebagai putri bangsawan keluarga Lilac—keluarga tersohor di Tarburg—yang dikenal angkuh.

“Tidak, tidak. Dia tidak pernah seperti itu. Kami berteman baik. Bahkan sangat baik. Dia membuatku jatuh cinta.” Basha mengatakannya seperti sedang memerankan tokoh dalam teater Scene Burk, yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya. 

“Kau terlalu cepat mengakuinya, kawan.” Tamtam tersenyum sinis.

Bagaimanapun dia tidak akan bisa mengerti kenapa kawannya bisa segila itu pada gadis seperti Lyra. Baginya, Lyra terlalu angkuh, semaunya, dan suka memperlakukan Basha semena-mena. Tamtam tidak melihat gadis itu tertarik secara romantis kepada Basha. Basha sendiri lah yang merasa begitu. Tamtam—bahkan teman lainnya— melihat jika Basha hanya diperbudak untuk memenuhi segala keinginan Lyra. Sayangnya, hanya Basha, satu-satunya orang yang tidak menyadari hal itu.

Beberapa hari berikutnya, mereka kembali berjumpa, lalu Basha kembali bercerita.

“Lyra menolakku.” Basha berkata dengan wajah murung.

“Apa kubilang …. Ini ke dua kalinya, kan, dia menolakmu? Dasar, tak jera juga kau.” Tamtam tampak kesal melihat Basha yang seperti orang bodoh. “Sudah, lupakan saja gadis itu. Aku akan mengajakmu ke pesta bangsawan pekan ini. Duke Laurent mengadakan jamuan makan malam pekan ini. Kau harus ikut.” Tamtam bersikeras.

“Ah, aku tidak dalam kondisi yang bisa beramah tamah dengan orang lain.” Basha berkilah. Suasana hatinya memang sedang tidak baik-baik saja. “Bisa-bisa aku malah mengacaukan pestanya.”

“Bagus juga kalau begitu. Kau jadi ada kegiatan sebagai sasaran pengejaran para pengawal di kastil Laurent.” Tamtam tertawa keras, tak peduli Basha yang tersenyum pahit.

Pada kenyataannya, di pesta itu Basha justru melihat pemandangan yang merontokkan hatinya sekali lagi. Dia melihat Lyra berdansa mesra dengan seorang Duke muda, Kristoff. Mereka bercengkrama sepanjang malam, tanpa peduli pada Basha yang remuk redam. Lyra bahkan memalingkan wajahnya saat Basha tersenyum padanya. Basha kembali merasa hancur.

Tamtam yang melihat itu tentu saja tidak tinggal diam. Dia kerahkan segala kekuatan dan usahanya untuk mengalihkan perhatian kawan baiknya dari si pembuat patah hati.

Butuh 23 pesta, 15 pertemuan dengan para gadis rekomendasi Tamtam sampai akhirnya Basha menemukan sesosok gadis yang membuatnya perlahan-lahan melupakan Lyra. Namanya Zelia.

Sebagai seorang putri bangsawan keluarga Zeth, Zelia sangat mandiri. Ayahnya seorang profesor di bidang fisika. Pernah diisukan mempunyai alat canggih yang sedang dirahasiakan keberadaannya. Tetapi seiring berjalannya waktu serta banyaknya hal besar yang terjadi di kota, isu itu tenggelam dengan sendirinya. Zelia sendiri seorang guru di sekolah menengah pertama khusus putri. Dia bercita-cita ingin mendirikan sekolah dengan kurikulum modern, di mana nantinya wanita akan leluasa untuk bisa mendapatkan hak dan kewajiban yang sejajar sebagai sesama manusia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Basha mulai menyukai Zelia. Mereka sering pergi ke pameran lukisan, ke perpustakaan, lalu makan malam romantis yang diakhiri dengan kecupan perpisahan di depan gerbang kediaman keluarga Zeth. Basha menyukai kesederhanaan serta kemandirian Zelia. Gadis itu pun menyukai Basha yang jujur dan apa adanya. Sampai di suatu musim semi ke dua perjalanan asmara mereka, Basha melamar Zelia.

“Ya, tentu saja … aku mau,” jawab Zelia dengan tersenyum lebar. Basha yang sedang berlutut tampak berkaca-kaca sambil memasangkan cincin yang sudah dipersiapkan sejak dua minggu yang lalu ke jari kekasihnya.

Sayangnya, ada yang tidak senang mendengar berita itu. Lyra meradang, dia merasa harus mendapatkan Basha kembali.

Lyra membuang gengsinya dengan berusaha menghubungi Basha setelah kepulangannya. Rupanya, beberapa bulan yang lalu, Duke Kristoff telah melakukan penyerangan terhadapnya karena cemburu. Hal itu cukup membuat gadis itu trauma hingga dia harus menenangkan diri di sebuah pulau milik keluarga di luar kota. Kini saat dia kembali dan mendengar berita itu, ada perasaan tidak rela menghantui egonya. Lyra tidak ingin kehilangan seseorang yang pernah memujanya, mencintainya tanpa syarat, dan begitu mengejarnya—meskipun berkali-kalI ditolak—kini berpaling begitu saja. Dia baru menyadari jika dia tidak ingin kehilangan sosok yang seperti itu. Hingga puncaknya, dia merasa Basha-lah yang telah mengkhianatinya.

“Aku membuat pesta barbeque untuk merayakan kepulanganku, bisakah kau datang? Sendiri saja, itu lebih baik.” Sebuah permintaan yang disampaikan lewat telepon kepada Basha.

Pria itu setuju. Lyra merasa punya kesempatan untuk membuat Basha kembali menginginkannya.

“Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah mempunyai Zelia. Kita akan menikah. Lagi pula, aku setuju datang sekaligus untuk memberimu undangan.” Itu jawaban Basha saat Lyra memintanya untuk kembali seperti dulu.

Lyra marah, tentu saja. Dia membanting semua barang di dekatnya, berharap Basha menarik kembali penolakannya—seperti Basha yang dahulu menerima semua sikapnya. Sayangnya, itu tidak lagi menggoyahkan Basha. Dengan tenang pria itu melangkah keluar yang diikuti pandangan para tamu keluarga Lilac, meninggalkan Lyra yang masih saja mengamuk, sampai beberapa orang berusaha menenangkan.

Basha memang pernah mencintai tanpa syarat, menjaga cinta itu dengan baik, sabar menunggu sampai gadis itu akan menerima ketulusan bagaikan hujan di musim kemarau. Sayangnya, Lyra tidak pernah memberinya kesempatan. Dia tak pernah memperdulikan perasaan Basha dan membiarkannya menguap begitu saja. Karena itulah Basha yakin, pilihannya sudah tepat.

Musim Semi di Tarburg

Musim Semi di Tarburg . Mengetuk Pintu Neraka

Penulis

  • Zavny

    Hanya seseorang yang senang menulis.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *