Setelah Dokter Dana melepaskan pelukannya, Silvia menyerahkan benda berukuran kecil berwarna putih itu kepada Dokter Dana.
Setelah melihat dua garis merah melintang di benda itu, seketika Dokter Dana membuka senyumnya lebar-lebar dan berucap Alhamdulillah.
Dia melakukan sujud syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala. Melihat kebahagiaan suaminya, Silvia sampai menitikkan air mata.
Di saat dia menghapus air matanya yang menitik di sudut mata, samar-samar Silvia mendengar deringan suara ponselnya yang tergeletak di tempat tidurnya.
Dia mengambil ponsel dan melihat nama yang tertera di ponselnya. Keningnya berkerut melihat nama orang yang sedang menghubunginya. Ternyata mantan mertuanya.
Hatinya bertanya-tanya, ada apa gerangan mantan ibu mertuanya menghubungi dia? Sebelumnya jika orang itu menghubunginya, sudah pasti ada kesalahan.
Tak mau terlalu lama tenggelam dalam penasarannya, dia pun menggeser layar ponsel.
“Halo, Assalammualaikum, Bu,” ucap Silvia dengan sopan.
“Wa’alaikummussalam, Nak. Apa Ibu mengganggumu Nak?”
Wah, surprise sekali mantan mertuaku ini memanggilku anak dengan lembut, pasti ada maunya,’ batin Silvia. Tapi biarlah, mungkin Ibu memang sudah berubah karena anaknya sekarang di penjara.
Dia pun akhirnya berpikiran lapang dan menjawab dengan senang hati.
“Tidak, Bu. Ada apa Ibu menghubungiku? pa Ibu sehat-sehat saja?” tanyanya sopan.
“Alhamdulillah, Ibu sehat, Nak. Bagaimana dengan keadaanmu? Apa kamu dan seluruh keluargamu sehat, Nak?”
“Alhamdulillah, Ibu. Kami sekeluarga sehat.”
“Mm…, Nak.”
“Ya, Bu.”
” Begini, Nak. Ibu mau minta tolong sama kamu, apa boleh, Nak?”
“Boleh, katakan saja, Bu? Apa yang bisa aku bantu.”
“Nak, apa kamu bisa membebaskan Pazel dari penjara, Nak?” pintanya dengan lirih.
Silvia berpikir sejenak. Dia tidak tega mendengar suara memelas dan seperti menahan tangis dari mantan mertuanya. Bagaimana pun dia adalah orang yang pernah menjadi mertuanya.
“Baiklah, Bu. Aku akan mencobanya sebisaku, Bu.”
Seketika tangis Bu Rohana pecah.
“Terima kasih, Nak, kamu memang anak yang baik. Ibu menyesal telah menyakiti perasaanmu,” ucapnya di sela-sela tangisnya.
“Sudahlah, Ibu. Itu semua sudah masa lalu. Aku sudah melupakannya,”ucapnya ramah.
Dokter Dana yang sudah berdiri di sampingnya pun bertanya sambil memeluknya. “Siapa, Sayang?”
“Bu Rohana. Beliau ingin aku menolong anaknya supaya bisa keluar dari penjara secepatnya. Kira-kira Mas bisa bantu gak, agar hukumannya dikurangi,” pintanya dengan lembut.
Karena suasana hatinya yang sedang sangat baik, Dana segera menyetujui untuk menolong Pazel agar bisa keluar dari penjara secepatnya.
“Kenapa tidak? Untuk istri tercintaku, aku akan kabulkan semua keinginanmu. Karena kamu sudah memberikan sesuatu yang sangat berharga untukku.”
Dokter Dana bicara dengan sangat gembira. “Tapi sebelum itu, kita akan memberitahukan kabar gembira ini kepada seluruh keluarga kita. kita juga akan bagi-bagi hadiah kepada panti asuhan.”
“Hehe, terserah kamu, Mas. Aku mengikut sa….” Silvia tidak jadi melanjutkan kalimatnya, karena perutnya terasa mual. Dia segera berlari ke kamar mandi lagi.
Dokter Dana merasa cemas melihat Silvia yang tidak menjaga langkahnya.
“Hati-hati, Sayang.”
Setelah selesai mengeluarkan isi perutnya yang hanya cairan berwarna kuning, perutnya merasa lega. Dia kembali ke tempat tidurnya di bantu Dokter Dana.
Silvia merasa sangat lemah setelah muntah beberapa kali. Akhirnya dia meminta untuk diresepkan obat oleh suaminya.
“Mas, apa kamu bisa meresepkan obat untuk menghilangkan mualku?”
“Tidak, Sayang. Dalam trimester kehamilan, kamu tidak boleh sembarangan minum obat. Kamu hanya boleh minum multivitamin untuk ibu hamil, dan juga susu formula untuk ibu hamil. Mas akan suruh orang untuk membelinya.”
Dokter Dana segera menelpon seseorang untuk membeli semua daftar yang sudah dikirimnya. Lanjut dia pun menelpon Papa dan mamanya, juga mertuanya dan tidak ketinggalan ibu kandung Silvia.
Semua orang yang dihubunginya histeris bahagia menyambut kehadiran calon anggota baru keluarga mereka.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ketokan pintu. Dokter Dana segera beranjak dari tempat tidur menuju pintu, untuk membukanya.
Ternyata Bibi Sani yang datang membawakan bubur ayam yang di minta Dokter Dana tadi, sebelum menghubungi keluarganya.
“Terima kasih, Bi.” Dokter Dana mengambil nampan bubur ayam yang dibawa oleh Bi Sani.
“Iya, Tuan. Saya kembali ke dapur dulu, Tuan.”
“Oya, Bi. Tunggu.”
“Ada apa Tuan?” Bi Sani berbalik saat Dokter Dana memanggilnya lagi.
“Kita akan kedatangan calon anggota baru, Bi.”
“Maksudnya, apa Nyonya hamil, Tuan?”
Bi Sani bertanya dengan gembira.
Dokter Dana mengangguk sambil tersenyum.
Bi Sani terlonjak bahagia dan berucap, “Alhamdulillah…. Selamat, Tuan. Selamat, Nyonya.”
“Terima kasih, Bi,” ucap Dokter Dana dan istrinya serentak.
Dokter Dana kembali menutup pintu dan segera menyuapi istrinya. Silvia hanya memakan sedikit saja.
Dokter Dana juga tidak mau terlalu memaksa, sebab dia mengerti kalau selera ibu hamil memang seperti itu.
Tidak lama kemudian, datanglah keluarganya satu persatu membawa semua banyak kado dan kebutuhan ibu hamil dan bayi.
Silvia tidak kuat untuk berdiri, dia hanya berbaring di tempat tidur.
Bu Sulastri menghampirinya dengan wajah sumringah, “Sayang bagaimana keadaanmu? ” Sambil mengusap kepala Silvia.
“Aku baik, Ma. Cuma agak mual dan pusing aja.” Silvia berusaha untuk duduk.
“No, no, no. Kamu gak usah banyak bergerak, Nak. Kamu berbaring saja. Ini ada vitamin yang paling bagus Mama bawakan buat kamu.”
“Terima kasih, Ma.”
“Sama-sama, Sayang. Kamu sudah memberikan kebahagiaan yang sangat luar biasa buat kami, Nak. Kamu harus jaga kesehatan ya, Nak. Kamu sedang mengandung calon pewaris dua keluarga penguasa bisnis. Jangan sampai ada masalah dengan kesehatanmu dan janinmu ya, Sayang.”
“Iya, Ma,” ucap Silvia dengan lembut.
Sementara Pak Herman dan Pak Efendi segera berlari keluar karena ada laporan dari anak buah kepercayaannya bahwa ada seseorang yang tidak dikenal yang datang untuk memberikan sebuah paket berupa kado namun tidak tertera nama pengirimnya.
“Siapa kamu!” Bentak salah satu bodyguard.
“Tanya saja baik-baik,” ucap Pak Herman dengan bijak.
“Benar. Ini adalah hari yang baik, kita juga harus berbuat baik kepada semua orang. Dan kamu. Ambilkan bingkisan yang sudah disiapkan untuk dibagi-bagikan. Beri dia dua bingkisan untuk dibawanya pulang,” titah Pak Efendi.
“Baik, Pak,” ucap bodyguard tersebut. Dia berjalan menuju tumpukan bingkisan yang sudah tertata oleh para pekerja yang masih berkutat mengisi kantong-kantong yang masih kosong.








