“Girls, kita berhasil. Ini untuk kelulusan dan untuk awal kehidupan kita yang baru.” Bestie-ku, Ciara, mengangkat gelas anggurnya untuk bersulang.
Aku mengangkat gelas anggurku bersama keempat gadis lain di meja. Kami berada di sebuah restoran lokal di New Haven, Connecticut setelah menyelesaikan semester terakhir kami di Yale.
Kami telah saling mendukung di setiap musim selama dua tahun terakhir sama kami berempat berjuang untuk lulus dengan gelar Magister di bidang bisnis.
Selama masa studi pascasarjana kami, kami telah menjalin persahabatan yang akrab. Kami saling membantu melewati malam-malam yang panjang dan makalah tesis yang menyakitkan kepala, tetapi akhirnya kami semua lulus.
“Eh, aku tidak tahu apa yang kalian lakukan selama dua tahun terakhir ini, tapi aku menjalani hidupku,” bantah Carly.
“Ya, muntah di toilet,” kata Bree dengan nada jijik, dan Carly hanya mengangkat bahu.
“Nah, di sinilah kehidupan sosialku berakhir. Begitu sampai di rumah, papaku menjadikanku robot korporat kecilnya,” kata Erin dengan wajah cemberut.
“Ya ampun, jangan sampai aku membahas mamaku,” gerutu Morgan. “Dia menjadikanku akuntan pribadinya. Aku akan ngomong ke dia, ‘Mom, aku susah payah mendapatkan gelar MBA di Yale bukan untuk menjadi akuntan restoranmu.’”
“Ugh. Gitu, deh, namanya keluarga,” Erin memutar bola matanya.
Aku duduk diam sementara mereka semua mengeluh, tetapi aku memutuskan untuk tidak ikut campur sampai Ciara menatapku.
“Bagaimana denganmu, Milla?” tanyanya, memaksaku untuk ikut dalam percakapan ini.
“Eh, sama. Pulang untuk mengurus bisnis papaku,” jawabku singkat.
“Seseorang di kelompok ini benar-benar perlu menegur keluarganya dan cukup berani untuk pergi dan menempuh jalannya sendiri,” kata Carly.
Aku tidak membalasnya. Karena sementara semua teman-teman pascasarjanaku pulang ke perusahaan dan bisnis keluarga kecil mereka, bisnis keluargaku agak … bagaimana aku mengatakannya?
…Berbeda.
Tentu, keluargaku adalah konglomerat yang sukses mengelola perusahaan di New York City, tetapi … bisnis kami tidak sepenuhnya sah.
Coba lihat.
Keluargaku adalah keluarga Mafia. Papaku, Matteo Bertelli, dalam segala kemegahannya, adalah seorang don. Dia menjalankan operasi kejahatan terorganisir yang sangat kuat dan kaya di dalam dan sekitar wilayah New York City. Mafia ada dalam darahku.
Kakek buyutku datang dari Sicilia, Italia. Melihat peluang di Amerika, dan menjual alkohol selundupan. Dia membangun bisnisnya dari nol dan mulai mengendalikan orang-orang di sekitarnya.
Beberapa dekade kemudian, nama keluarga kami masih berpengaruh. Tentu saja, alih-alih alkohol selundupan, kekayaan berasal dari perdagangan narkoba dan senjata.
Aku tumbuh dengan konsep itu sebagai hal yang normal, tetapi papaku selalu melindungiku dari sebagian besar urusan ilegalnya. Aku menjalani kehidupan yang baik dan normal tanpa kesulitan menjadi seorang putri mafioso.
Tapi aku tidak bisa menceritakan semua ini kepada teman-teman kuliahku. Bahkan, tidak ada yang tahu. Itu salah satu aturan Mafia. Tidak seorang pun boleh diberi tahu. Itu rahasia keluarga, rahasia yang hanya boleh dibagikan di dalam lingkup bisnis.
Itu membuatku sulit untuk dekat dengan orang lain, tapi kurasa aku memang selalu pandai menjauhkan mereka. Bahkan orang-orang yang mengira mereka mengenalku pun sebenarnya tidak benar-benar mengenalku, dan kelompok teman-teman ini tidak ada bedanya.
Setelah pukul sepuluh lewat, aku meninggalkan restoran, kembali ke tempatku untuk menyelesaikan pengepakan barang-barangku untuk perjalanan kembali ke New York besok pagi.
Dengan lalu lintas normal, aku bisa sampai rumah dalam dua setengah jam, tetapi itu sudah cukup jauh sehingga aku bisa menemukan diriku sebagai diriku sendiri dan bukan hanya sebagai Bertelli.
Namun, nama keluarga bukanlah sesuatu yang bisa kulepaskan. Ketika aku kembali ke rumahku di Long Island, aku akan kembali ke semua hal yang begitu mudah untuk dihindari saat kuliah.
Tidak semuanya buruk, jangan salah paham. Namun, ada kalanya keluargaku terasa sedikit membuat sesak napas. Senang rasanya bisa bertemu mereka selama liburan dan bisa pergi setelahnya. Kali ini, aku akan kembali untuk benar-benar pulang. Tapi setidaknya kali ini, aku bisa menunjukkan kemandirianku.
Atau, setidaknya, mencoba.
Keesokan paginya, aku memasukkan sisa barang bawaanku yang sudah dikemas ke dalam BMW-ku dan memulai perjalanan sejauh sembilan puluh mil ke selatan menuju rumah keluarga. Rumah papaku berada di Brookville, lingkungan kelas atas di Long Island. Rumahnya adalah sebuah mansion yang terletak terpencil di lahan seluas beberapa hektar.
Properti itu selalu menjadi tempat yang sempurna baginya untuk mengadakan pertemuan pribadi atau untuk melarikan diri kalau perlu. Selain itu, mustahil bagi FBI untuk mengintai rumah kami tanpa terlihat mencolok, karena mereka harus melewati gerbang di awal jalan masuk.
Ketika aku sampai di rumah keluargaku, aku memasukkan kode untuk gerbang. Gerbang itu terbuka sehingga aku bisa memasuki jalan masuk yang melengkung.
Tidak lama kemudian aku disambut oleh rumah besar itu sendiri. Rumah itu rumah batu yang indah dengan jendela besar dan menara. Mansion yang merupakan benteng pribadi papaku.
Mobilku bukanlah yang satu-satunya diparkir di depan rumah. Orang-orang yang biasa hadir seperti Sergio, penasihat papaku, selalu ada. Juga kakak tiriku, Ricardino, yang menolak dipanggil dengan nama lain selain Dean, pada dasarnya masih tinggal di sini bersama papa.
Papaku telah membebankan tanggung jawab kepadanya karena dia adalah satu-satunya putra papaku dari satu-satunya pernikahannya selama dua puluh tahun.
Dean sebelas tahun lebih tua dariku dan merupakan wakil papa. Suatu hari kelak, dia akan mengambil alih bisnis keluarga, dan seluruh hidupnya dia mempersiapkan diri untuk peran itu.
Meninggalkan semua barangku di mobil, aku berjalan ke ruang depan.
“Halo!” aku berseru ke ruangan besar itu sambil berjalan menuju ruang tamu.
Dean muncul dan memberiku senyum lebar.
“Hei!” sapanya sebelum mendekatiku dan memelukku. “Bagaimana wisudamu?” tanyanya, melepaskan pelukannya untuk melihatku.
“Senang akhirnya selesai juga,” kataku jujur sambil mendongak menatapnya.
Dean pria yang ramping tapi berotot, dengan warna kulit zaitun dan mata cokelat khas keturunan Italia.
“Pasti. Butuh waktu lama bagimu untuk lulus,” godanya sambil membawaku ke dapur.
Yah, tidak semua orang bisa seperti Dean Bertelli.
Dia lulus dalam lima tahun dengan gelar dan sertifikasi di bidang Hukum Bisnis. Semua yang dia lakukan adalah untuk mendapatkan persetujuan papa.
Aku tidak yakin mengapa dia bekerja begitu keras untuk itu.
Koki pribadi keluarga, Martha, sedang menyiapkan makan siang untuk keluarga, dan kami mencuri beberapa biskuit dan potongan keju dari hidangan di meja dapur. Martha sudah menjadi koki keluarga kami sejak aku bayi. Umurnya pasti sekitar lima puluhan, tetapi di mataku dia tidak pernah tampak menua.
Dia menatap kami berdua karena mencuri makanan, tetapi kemudian tersenyum padaku.
“Milla, aku senang ada perempuan lain di rumah ini lagi. Dan perempuan yang sangat berprestasi pula. Selamat atas gelar mastermu.”
Aku berterima kasih padanya, kemudian menoleh ke Dean.
“Di mana Papa?” tanyaku.








