Home / Fiksi / Cerbung / 16. Dua Sahabat Kecil

16. Dua Sahabat Kecil

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
This entry is part 17 of 21 in the series Sebiru Langit Casablanca

Keesokan harinya, Karima berjalan-jalan sendirian. Ia ingin sekali melihat dan mengenal tempat itu, karena ini pertama kalinya ia pergi ke tempat kelahiran ibunya. Karima gadis kecil pemberani. Dia tidak pernah takut terhadap rintangan apapun. Dari kecil, orang tuanya mengajarkannya agar tidak takut pada hal apapun kecuali pada Tuhannya.

Karima bernyanyi-nyanyi kecil sepanjang jalan dan menyapa orang-orang yang dijumpainya meski dia tak mengenalnya.

“Gadis kecil yang sangat manis dan baik,” celetuk seorang wanita yang tersenyum saat disapa  Karima.

Di tangannya dia memakai gelang khas Berber pemberian neneknya. Gelang itu memiliki simbol Yaz, seperti huruf Y terbalik, huruf dari alfabet Tifinagh yang melambangkan  manusia bebas. Selain itu juga sebagai simbol rumah dan keluarga.

Tak jauh dari tempatnya.  Yazid dan Ismail kembali bermain bola dari gumpalan-gumpalan salju. Keduanya saling melempar. Hingga tanpa sengaja mengenai kaca salah satu rumah yang tak jauh dari sana.

Pranggg!

“Ismail, ayo lari! Kita harus sembunyi!”

Suara itu terdengar keras dan membuat keduanya ketakutan. Pemilik rumah keluar dan melihat apa yang sedang terjadi.

“Hei…siapa yang sudah memecahkan kaca rumahku ini. Keluarlah! Atau aku akan panggilkan pihak berwajib agar menangkapmu!”

Dia melihat kedua anak itu berlari di antara hamparan salju. Mengejar mereka tetapi sia-sia. Anak-anak sudah tidak tampak. Sia-sia sudah pengejarannya.

Yazid dan Ismail terdiam  di dalam persembunyian mereka. Keduanya menutup mulut rapat-rapat. Mereka masih melihat pemilik rumah mondar-mandir mencari pelaku, tetapi tak membuahkan hasil.

“Huh!Dasar pengecut! Tidak berani keluar!”

Akhirnya pemilik rumah masuk kembali. Yazid dan Ismail keluar dari persembunyian mereka dan berjalan menuju tempat tinggal mereka. Sambil berlari-lari.  Tiba-Tiba saja…

Bugh!

Yazid menabrak seseorang hingga terguling.

“Aduh!” teriaknya.

Yazid menoleh. Ternyata seorang anak perempuan yang ia tabrak. Dia segera menolongnya. “Maafkan aku. Ayo aku bantu berdiri!”

Bocah lelaki itu mengalirkan tangannya kepada si anak perempuan. Dia menerima ukuran tangan Yazid.

“Kau tidak apa-apa, kan?”

Gadis kecil itu menggeleng.

“Kau tinggal di mana?” lanjutnya bertanya.

“Tidak jauh dari sini.”

“Bolehkah aku mengantarmu?”

“Tentu saja boleh.”

“Baiklah! Aku akan memanggil temanku dulu.” Yazid memanggil Ismail dan segera mengantar gadis kecil itu.

“Aku Yazid dan ini sepupuku, Ismail. Namamu siapa?”

“Aku Karima.”

“Kau dari sini juga?”

“Tidak. Aku sedang liburan bersama orang tuaku.”

“Oh, begitu.”

Tak berapa lama sampailah mereka di rumah yang Karima tuju. “Yazid, Ismail, masuklah dulu! Kita akan minum coklat panas dan roti.”

“Terima kasih, Karima. Kami harus kembali.”

“Aku punya sesuatu untuk kalian.” Karima mengeluarkan gelang khas Berber miliknya dan memberikannya kepada Yazid dan Ismail. Tidak hanya itu, dia juga memberikan gelang berukir  lainnya.

“Terima kasih, Karima. Kami pergi dulu ya,” ucap Yazid.

“Baiklah, Yazid. Sampai bertemu lagi.”

***

Beberapa hari kemudian

Hicham masih memanaskan mobilnya. Hari itu mereka akan kembali ke Casablanca karena liburan sekolah telah usai. Karima membantu Yasmin memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Neneknya tak ketinggalan  membawakan oleh-oleh untuknya.

“Berhati-hatilah di jalan,” pesan nenek Karima kepada mereka semua.

“Baik, Ibu. Terima kasih,” jawab Yasmin.

Mereka bersiap berangkat. Nenek Karima ditemani paman  dan bibinya mengantar kepergian mereka. Karima memeluk neneknya erat. Ghaida, sang nenek sangat menyayangi cucunya itu.

“Kelak kau akan jadi gadis cantik yang cerdas seperti ibumu,” kata neneknya sembari mengurai pelukan.

“Terima kasih, Nek.”

Mereka meninggalkan tempat itu menuju kota Casablanca yang bisa ditempuh selama kurang lebih dua jam.

Tak jauh dari tempat mereka, Yazid dan orang tuanya pun sedang bersiap menuju bandara internasional Rabat. Hari ini mereka akan kembali ke Malaga.

Mereka menyewa taksi yang sudah dipesan sebelumnya. Yazid melambaikan tangan kepada keluarga dan juga sepupunya, Ismail. “Kelak kita akan bertemu lagi Ismail. Aku berjanji akan kembali ke Ifrane.”

“Aku yakin kau pasti akan datang lagi kemari Yazid.”

Perjalanan Yazid dan keluarganya lancar tanpa kendala. Namun, di tengah perjalanan, taksi yang membawa mereka mogok. Orang tua Yazid panik karena penerbangan tak lama lagi. Pemilik taksi meminta maaf atas insiden tak terduga itu.

Mereka akhirnya keluar dan menghentikan  satu per satu mobil yang lewat untuk dimintai pertolongan. Tak ada yang berhenti. Batas kesabaran mereka hampir habis. Saat itulah mobil yang dikendalikan Hicham melintas. Karima yang mengenal Yazid menyuruh ayahnya untuk menghentikan mobil mereka.

“Ayah, itu temanku! Sepertinya mereka sedang kesusahan. Ayo kita tolong mereka!”

Hicham segera menepikan mobil. Karima keluar dan memanggil Yazid, diikuti Hicham dan  Yasmin.

“Yazid …!” teriaknya. Yazid menoleh.

“Karima.”

“Sedang apa di sini?”

“Taksi yang kami tumpangi mengalami kerusakan. Padahal penerbangan tinggal dua jam lagi,” jawab ibu Yazid dengan muka muram.

“Mari kami antar ke bandara. Kebetulan kami akan menuju Casablanca!”

“Maaf merepotkan.”

“Tidak mengapa.”

Hicham dan Yasmin membantu memasukkan barang-barang mereka ke bagasi. Hicham dan Mehdi, ayah Yazid duduk di depan. Sementara Yazmin dan Huwaida, ibu Yazid duduk di tengah. Yazid dan Karima duduk di belakang. Bagasi lumayan besar dan bisa memuat banyak barang. Sepanjang perjalanan, keakraban begitu tampak. Mereka bercerita satu sama lain, termasuk Yazid dan Karima.

Yazid memperlihatkan gelang pemberian Karima. “Kelak kita akan bertemu lagi, Karima.”

“Iya, Yazid.”

Hicham mengantar mereka hingga bandara. Mehdi dan istrinya berterima kasih telah ditolong oleh mereka.

“Insya Allah suatu saat kita akan bertemu,” ucap Mehdi.

“Insya Allah.

Yazid dan orang tuanya kembali ke Malaga. Sedangkan Karima kembali ke Casablanca.

Sebiru Langit Casablanca

5. Salju di Ifran 7. Kenangan

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image