Jika belum membaca bagian pertama, silakan buka terlebih dahulu opini dalam tautan berikut….
- Worth it: Sesuatu yang disebut worth it oleh seseorang seringkali dianggap paling layak. Jika gak layak di matanya, lantas dianggap gak worth it. Apa yang worth it di mata orang lain belum tentu worth it di mata kita, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi Orang-orang Percaya pasti sangat worth it di mata Tuhan. Bahkan kematian Orang-orang yang dikasihi-Nya (Orang Percaya) saja berharga di mata-Nya (Mazmur 116:15). Jadi jangan pernah menganggap atau mengatakan diri saya atau dia gak worth it. Diri kita sangat berharga di mata-Nya.
- Nepo Baby: Tentu Anda sudah tahu makna istilah nepotisme seperti dalam istilah ‘KKN’ yang pernah ‘ngetren’. Nepo baby adalah istilah anyar untuk orang-orang terkenal yang (hanya) mengandalkan status orang tua atau keluarga demi meraih posisi atau kesuksesan mereka saat ini. Jika mereka ngekor atau mengandalkan koneksi demi status sosial/pekerjaan, kita gak perlu merasa iri atau bahkan ikut-ikutan mengaku punya hubungan keluarga dengan Si Anu atau Si Itu. Kita juga bisa jadi para nepo baby, namun berbeda dengan manusia, kita adalah para nepo baby-Nya Tuhan. Mari kita andalkan Tuhan saja dalam segala urusan kita. Jangan pernah malu menjadikan-Nya ‘Konco Utama’ alias andalan nomor satu kita.
- Ghosting: Kata ghosting cenderung dimaknai negatif (pengabaian kepada teman/kekasih yang selama ini akrab/didekati, misalnya chat tidak dibalas, hubungan putus tiba-tiba, gantung status sepihak tanpa penjelasan). Bukan hanya teman, malah seringkali kita juga merasa di-ghosting oleh Tuhan. Misalnya, kita lama berdoa, permintaan kita sungguh mendesak, namun Tuhan gak jawab-jawab/kabulkan, lantas kita menuduh-Nya ghosting, PHP (Pemberi Harapan Palsu) dan lain sebagainya. Beda sekali, ‘ghosting’ Tuhan dengan ghosting-nya manusia. Apa yang kita kira ghosting ternyata sebuah penantian yang berujung pada jawaban-Nya. Jawaban-Nya tidak selalu ‘ya, oke, baiklah’. Kadang, jawaban-Nya ada pada kata ‘tidak, bukan, belum waktunya’. Penulis lebih suka menyebut penantian itu sebagai ‘Lord’-ing, daripada menantikan jawaban ala ghost alias seperti ‘hantu’, yang gak jelas kapan dan bagaimana. Jadi, mari kita bersama-sama ‘Lord-ing’ dengan penuh pengharapan.
- Self Love: Di balik ‘kelelahan’ mencari perhatian orang lain/berharap banyak dari sesama, tren ‘mencintai diri sendiri’ terkesan positif dan perlu dilakukan, asal tentu saja tidak berlebihan. Jika sedikit-sedikit beralasan ingin self reward, me time dan sebagainya, keseringan memanjakan diri sendiri dengan keinginan-keinginan yang kurang perlu (misalnya makan enak, jalan-jalan plus belanja, nonton atau main game berjam-jam dari pagi sampai malam), seseorang rentan terjerumus pada pemuasan ego semata-mata. Pokoknya saya berhak bahagia, I deserve to be happy – kurang-lebih begitulah alasannya. Kebahagiaan bagi diri sendiri memang menyenangkan, namun hanya untuk sementara. Banyak hal-hal baik seperti sikap selfless dan empati hingga rela berbagi jadi terlupakan. Kadang malah berimbas kepada keluarga; kurangnya kasih-sayang, pengeluaran membeludak hingga terjepit utang-piutang. Tuhan terlebih dulu telah mencintai kita sebelum kita ada, sejak dalam rahim ibu telah dipersiapkan-Nya kisah setiap manusia. Mencintai diri tentu masih perlu, asalkan kita ingat batasan-batasan serta yang terutama: Tuhan mencintai kita tanpa syarat, no matter what.
Masih sangat banyak istilah lain di dunia maya perlu kita ketahui dan pelajari. Bukan berarti ikut-ikutan menggunakan sebelum tahu maknanya, Tuhan tentu rindu kita dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan, setelah merenungkan agar tidak terhanyut dalam derasnya arus informasi.
(bersambung ke Kehidupan Kristen: Mengenal Istilah-Istilah Kekinian di Dunia Maya dan Bagaimana Menyikapinya (Part 3) – KompaK’O )









