Sekolah kembali ramai. Karima masuk kembali seperti biasa. Hari itu dia sangat bahagia karena bertemu dengan teman-teman barunya. Tentu saja kelasnya juga baru. Dia masih jadi satu dengan Nouhaila. Kelas Karima adalah kelas pilihan.
Guru mengajak murid-murid berdoa sebelum memulai pelajaran. Setelah itu ia meminta kepada murid-muridnya untuk menceritakan pengalaman menarik selama liburan. Karima menceritakan pengalaman liburannya tempo hari saat le Ifran bersama orang tuanya. Dia sangat senang karena memiliki teman baru bernama Yazid.
Jam sekolah berlalu. Hari ini murid-murid kelas baru pulang lebih awal. Karima berjalan bersama teman-temannya kembali ke rumah. Ibunya terkejut mendapati putrinya sudah kembali.
“Kenapa pulang secepat ini?”
“Masih awal masuk, Bu. Guru-guru akan ada rapat. Jadi kami dibebaskan.”
“Oh, segeralah ganti bajumu dan makanlah!”
Karima menuruti ucapan ibunya. Dia segera berganti baju dan mencuci tangan. Gadis kecil itu segera mendatangi ibunya dengan membawa apel yang sudah ia kupas dan dipotong kecil-kecil. Karima tahu jika ibunya sangat suka buah apel.
“Ibu, ini apel untukmu. Makanlah!”
Karima bahagia karena sebentar lagi ia akan punya adik. Yasmin tengah mengandung beberapa bulan. Sesekali ia mengelus perut ibunya yang kian membesar.
“Terima kasih, Sayang.” Yasmine menerima buah di wadah yang sudah diletakkan Karima di meja. Sementara Karima masih saja berputar-putar mencari sesuatu.
“Apa yang kau cari, Nak?” tanya Yasmin.
“Buku favoritku, Bu. Aku lupa menaruhnya.”
“Mungkin di perpustakaan kecilmu. Bukankah kau suka membaca lama di sana.”
Wajah Karima berbinar. “Oh, iya. Mengapa aku lupa?”
“Pergilah!”
Karima menuju perpustakaan kecilnya. Yasmin melanjutkan pekerjaannya merajut. Ia memang memiliki ketrampilan merajut dan menjahit baru. Beberapa karyanya pernah menjadi pemenang lomba fashion. Dari sana hasil karyanya mulai dikenal, meskipun sebenarnya dia melakukan itu hanya sebagai hobi untuk mengisi waktu luang. Ternyata justru malah menjadikan itu semua jalan tambahan keuangannya bersama sang suami.
Yasmin bangkit dan menuju kamar kecil. Namun, tiba-tiba saja perutnya sakit. Dia berteriak memanggil Karima.
“Karima…tolong…!” Yasmin sudah terdidik lemas. Ada genangan air keluar dari sela-sela kakinya.
Karima segera berlari ke arah suara ibunya. Dia melihat ibunya sudah bersimbah darah. Segera menelepon ayahnya.
Hicham segera pulang dan membawa istrinya ke rumah sakit.
Usia kandungan Yasmin memang sudah cukup bulan untuk melahirkan. Ia segera dilarikan ke unit gawat darurat oleh Hicham. Beberapa saudara dan kerabat juga ikut membersamainya.
Dokter memberitahukan bahwa Yasmin harus dioperasi karena bisa membawakan janin yang dikandungnya. Semuanya setuju. Tiada henti semuanya berdoa demi keselamatan Yasmin. Termasuk Karima. Ia ingin adik dan ibunya sehat tak kurang suatu apapun.
Detik demi detik berlalu begitu lambat bagu Hicham. Tim dokter masih melakukan operasi untuk istrinya. Hingga akhirnya tiga jam berlalu. Dokter keluar ruangan. Peluh tampak membanjiri wajahnya. Dia mendekat ke arah Hicham.
“Tuan Hicham. Maafkan kami. Istri Anda sudah dipanggil Allah kembali.”
Tubuh Hicham seketika lemas luruh ke lantai mendengar keterangan dokter. Semua yang ada di sana tak kuasa membendung kesedihan. Air mata Hicham deras mengalir. Ia tak kuasa melihat istri dan bayinya yang telah berpulang saat dibawa keluar dari ruang operasi.
Karima yang mendengar kabar itu juga tak kuasa menahan tangisnya. Baru beberapa jam lalu ia masih mengupaskan apel untuk sang ibu, tetapi tanpa ia tahu ternyata itulah terakhir kalinya dia harus berpisah dari ibunda tercinta. Karima menangis dalam pelukan sang nenek yang telah datang dari Ifran sejak beberapa jam lalu. Dia mencoba menenangkan dan menguatkan hati cucu tercintanya.
“Allah lebih sayang ibumu. Dia adalah ahli surga. Ibumu adalah ibu yang baik dan istri yang berbakti. Kau pasti akan meneruskan jejak ibuku kelak.”
Karima mengangguk. Dia segera berwudhu dan mengambil Al-Qur’an. Membacakan doa untuk ibu dan adiknya yang telah tiada.
Kenangan demi kenangan bersama sang ibu bermunculan. Tangis Karima mereda, meski sesekali terdengar isak tangisnya masih tertahan.
***
Hari-hari Karima berlalu tanpa kehadiran sang ibu. Kini sang nenek menemaninya di sana bersama sang ayah. Terkadang, saudara-saudaranya dari kedua belah pihak datang untuk bermain dan menghiburnya. Karima










