Home / Fiksi / Cerbung / 18. Latihan Militer

18. Latihan Militer

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
1
This entry is part 19 of 21 in the series Sebiru Langit Casablanca

Malaga, Spanyol


Beberapa tahun kemudian, Yazid tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.  Usianya kini menginjak dua puluh tahun. Dia baru saja menyelesaikan pendidikan menengah atasnya dan berkeinginan ikut wajib militer.

“Mengapa kau ingin masuk militer, Nak?” Mehdi bertanya kepada putra semata wayangnya itu.

“Aku ingin mendisiplinkan diri, Ayah. Itu tidak menutup kemungkinan bagiku untuk melanjutkan pendidikanku yang lain,” jawab pemuda itu dengan penuh rasa hormat kepada sang ayah.

“Baiklah. Apapun keputusannya, aku hargai itu.Turuti kehendak hatimu agar apa yang kau lakukan kelak akan  berguna. Tidak hanya untuk dirimu, tetapi juga untuk yang lain.

Beberapa hari kemudian, Yazid mengikuti wajib militer. Orang tuanya hanya bisa mendoakan dan berharap yang terbaik untuknya. Selebihnya mereka serahkan kepada putra mereka mengenai pilihan hidupnya.

“Lihatlah, putra kita sudah dewasa dan gagah. Aku sangat bangga dengan pilihannya. Berharap kelak dia akan menjadi salah satu orang yang berpengaruh dan berguna bagi masyarakat,” Mehdi berkata kepada istrinya.

“Kita hargai itu. Insya Allah apa yang menjadi pilihan Yazid, itulah yang terbaik,” timpal istrinya.

Yazid menjalani hari demi hari dengan penuh semangat, kedisiplinan, serta hari-hari yang penuh dengan tantangan. Masuk akademi militer harus berhadapan dengan konsekuensinya.

Suatu hari dia tengah beristirahat melepas penat usai latihan. Entah mengapa dia sangat merindukan masa kecilnya dulu. Dia sangat ingin kembali ke masa lalu di mana dia sering bermain bola dari salju bersama sepupunya, Ismail. Perlahan dia mengambil sesuatu dari lagi penyimpanan bajunya. Sebuah gelang berukir khas Berber yang diberikan seorang gadis kecil di masa lalu.

“Bagaimanakah dan di manakah dia sekarang? Pastinya dia lupa denganku, karena sekian tahun tak pernah bertemu,” gumamnya sendirian sambil terus memandangi gelang itu.

Yazid merindukan masa kecilnya yang indah. Dulu, Ifran adalah tempat paling ia suka saat kembali ke tanah kelahiran orang tuanya. Mereka pindah ke Spanyol karena ayahnya ditugaskan  di sana. Akan tetapi, dalam hatinya selalu tersemat  tanah air mereka. Ifran yang indah. Suasana ramah tamah dari penduduk sekitar membuat Yazid berlama-lama betah di sana.

Bayangan masa kecilnya bersama beberapa saudaranya terus membebaskan dalam benak. Ia tak melupakan itu.

“Yazid, kau melamun?” seorang rekannya bernama Rodrigo bertanya. “Sejak tadi kuperhatikan kau hanya melamun saja.”

“Tidak. Aku hanya lelah.”

“Hmm. Aku bisa merasakan kau  tengah merindukan seseorang. Bukan begitu?”

“Iya. Keluargaku.”

“Selain itu, apakah ada seseorang yang sudah mengisi ruang hatimu?”

Rodrigo seakan paham apa yang tengah dirasakan oleh Yazid.

“Tenanglah. Sebentar lagi kita akan selesaikan latihan militer ini. Aku pun merindukan suasana bersama keluargaku. Kau tahu? Aku memiliki keluarga besar, tetapi kami jarang bertemu sejak lama,” paparnya.

Yazid hanya tersenyum  mendengar ucapan Rodrigo. Ia ingin sekali kelak bertemu bisa dengan teman masa kecilnya, Karima. Rodrigo meninggalkannya sendiri. Dia keluar dari kamar.

Selama bertahun-tahun ia tak pernah lupakan sahabat kecilnya yang dulu bertemu saat akan kembali ke Malaga.

Bagaimana kabarnya di sana, Karima? Dan apakah kelak aku akan bisa dengan mudah mengenalimu? Kau pasti sekarang tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas. Aku yakin itu.

“Yazid!”seseorang memanggilnya.

“Iya. Ada apa?”

“Kau dipanggil komandan.Temuilah dia sekarang!”

“Baiklah”

Sesampainya di ruang komandan, Yazid mengetuk pintu.

“Masuklah!”

Yazid masuk dan berdiri di depan komandannya dengan hormat.

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Siap, Komandan!”

“Tapi ini agak sulit karena kau kutugaskan menjadi agen rahasia antar negara.”

“Maksudnya apa, Komandan?”

“Kau akan tahu nanti. Aku akan paparkan apa saja yang jadi misimu.”

“Apakah berbahaya?”

“Pekerjaan apapun pasti ada risikonya, Yazid. Tapi aku percaya dengan kemampuanmu.”

Yazid mengangguk tanda setuju.

Sebiru Langit Casablanca

7. Kenangan 9. Penyamaran

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image