“Beby!” teriak Silvia dengan sangat girang.
Seorang laki-laki bertubuh tegap, kulit putih, rambut diikat dengan rapi dengan pakaian yang rapi pula berdiri di depan pintu. Dia adalah sahabat lama Silvia.
“Gue juga mau ikutan dong,” ucap Boby yang dipanggil Beby oleh Silvia. Dulu dia lelaki yang gemuk, tetapi sekarang tubuhnya sangat ideal. Dia berlari menghampiri Silvia dan keluarganya. Mereka kembali berpelukan.
Silvia tidak bisa menahan haru saat bertemu dengan sahabatnya ini. Begitu juga dengan Boby.
“Bagaimana kabar lu Sil, senang bangat gue ketemu lu,” ucapnya setelah melepas pelukan dan duduk bersebelahan dengan Silvia.
“Kabar gue baik. Lu sendiri gimana kabarnya sekarang? Bukannya lu di luar negeri? Kenapa tiba-tiba ada di sini?”
“Tiba-tiba gue kangen sama lu, Sil.”
“Masa sih? Gue juga kangen ama lu, Beb.”
“Makanya gua pulang ke Indonesia. Mungkin gua akan lama di Indonesia. Gua mau melanjutkan usaha butiknya mama gua, Sil. Nanti kita bisa bercanda lagi kayak dulu. Coba ya, kalau kamu bekerja lagi di sana, kan kita bisa ketemu setiap hari. Apalagi rancangan lu top markotop. Kita bisa bekerja sama kan?”
Dulu setelah lulus SMA, Silvia tidak melanjutkan kuliah. Dia bekerja di butik Boby yang dulu masih dikelola orang tua Boby. Sedangkan Boby melanjutkan kuliahnya ke luar negeri.
Mama Boby sempat melihat hasil coretan tangan Silvia di sebuah kertas. Dia memuji kemahiran Silvia dalam menggambar desain baju. Namun sayang Silvia harus berhenti bekerja karena dia akan menikah dengan Pazel.
Sekarang dia sudah bercerai dengan Pazel. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emasnya.
“Kalau begitu, keinginan lu terkabul, Beb. Sebab gue memang lagi butuh pekerjaan.”
Boby senang bukan kepalang mendengar Silvia bersedia bekerja dengannya.
“A-i-u-e-o,” teriak Boby kegirangan.
“Eh, di mana-mana Tarzan itu kalau teriak pasti auo, ini kok malah a i u e o?” tanya Tiara keheranan.
“Hey, itu kan si Tarzan, gue Boby, uwek,” ucap Boby menjulurkan lidahnya.
Seketika terdengar gelak tawa bersahutan mewarnai kebahagiaan mereka.
Boby adalah sahabat Silvia dari kecil. Dia anak orang kaya, tapi dia tidak pernah merasa gengsi berteman dengan Silvia yang dari keluarga sederhana. Begitu pula dengan Silvia yang tidak pernah merasa risi berteman dengan Boby, walaupun Boby lelaki kemayu. Bahkan Silvia mempunyai panggilan akrabnya untuk Boby, yaitu Beby.
Keesokan harinya Silvia memulai hari baru dengan sebagai desainer di butik Boby.
Boby senang sekali melihat sahabatnya berkutat dengan alat tempurnya untuk menciptakan sebuah karya yang bagus. Dia terlihat sangat serius dan terampil.
Tapi saat jam makan siang, wajahnya kembali murung. Boby mencoba memberikan semangat untuk sahabat kesayangannya, karena dia tahu sahabatnya dalam masa yang sulit.
Silvia membutuhkan dorongan semangat untuk memulai kehidupan dengan status baru sebagai seorang janda.
“Apa kamu sudah siap dengan status barumu, Sil?” tanya Boby dengan raut wajah yang prihatin.
Dulu sahabatnya ini sangat ceria, kecantikannya luar biasa. Dia adalah primadona di SMP dan SMA. Banyak remaja pria yang berlomba-lomba ingin mengambil hatinya.
Tapi Boby tidak ingin sahabatnya terpengaruh dengan pergaulan mereka. Boby menjadi pacar pura-pura Silvia agar tidak ada yang mengganggu Silvia.
Sekarang Silvia terlihat kurus, wajahnya juga murung, meski itu tak menutupi kecantikannya. Dia masih terlihat seperti seorang gadis yang belum menikah. Dia ingin mengembalikan semangat sahabatnya lagi seperti dulu.
“Siap atau tidak siap, bukankah aku harus siap, Beb?” tanya Silvia balik dengan wajah sendunya.
“Iya, benar! Tapi harus semangat! Buktikan sama mereka kalau kamu bukan perempuan lemah. Sekarang lu itu seorang wanita karier.”
“Iya, terima kasih, Beb. Kamu memang sahabat baikku.” Silvia memeluk Boby.
Meski dia harus kehilangan suaminya ternyata dia masih punya keluarga yang sangat menyayanginya serta sahabat yang selalu ada di saat dia dalam kesulitan. Tak terasa bulir bening kembali mengalir dari matanya.
Ketika mereka sedang berpelukan ada sepasang pelanggan yang datang. Seorang wanita bertanya kepada karyawan Boby.
“Permisi…”
“Ya, silakan, Mbak, Mas. Ada yang bisa saya bantu?” ucap salah satu karyawan Boby melayani tamunya.
“Kami mau pesan baju pengantin. Apa bisa?”
“Tentu saja bisa, Mbak. Silakan dilihat dulu model yang mau Mbak pesan.”
Dua sejoli itu berjalan dipandu karyawan butik. Mata mereka melihat pajangan baju pengantin yang berjejer di butik itu.
Saat melewati Silvia yang sedang duduk berpelukan dengan Boby, tak sengaja mata Pazel mengarah ke mereka.
“Silvia! Apa yang kamu lakukan di sini? Berani kamu ya berpelukan dengan laki-laki lain di depan umum?”
Tangan kurus Silvia ditarik paksa hingga dia berdiri terhuyung, karena kaki kirinya masih terasa agak nyeri saat diinjakkan paksa.
Boby yang tidak tega melihat sahabatnya ditarik dan dibentak pun tersulut emosi.
Dengan mata yang nyalang dia memarahi Pazel.
“Kamu ini siapanya Silvia? Jangan coba-coba berbuat kasar dengan Silvia di butik saya. Atau kamu berhadapan langsung dengan saya. Saya tidak akan segan-segan untuk melaporkan kamu ke polisi.”
“Saya suaminya! Saya yang akan melaporkan kamu ke polisi karena kamu sudah berani memeluk istri saya!” sergah Pazel dengan dada membusung di hadapan Boby.
Memang, pada saat Silvia menikah dengan Pazel, Boby sedang berada di luar negeri.
Pernikahan Silvia diadakan secara sederhana, hanya keluarga inti yang hadir. Bahkan Boby tahunya setelah Silvia pulang ke rumah orang tuanya. Saat itu dia menceritakan kenapa dia tidak diberitahu tentang pernikahan Silvia.
Mendengar Pazel menyebut dirinya sebagai suami dari sahabatnya, Boby memandang pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia juga memandang wanita yang ada di samping Pazel.
Ternyata ini laki-laki yang sudah mengkhianati Silvia. Apa yang dilihat Silvia dari laki-laki seperti ini? Tidak ada nilai plusnya sedikit pun. Bodoh sekali dia karena sudah menyia-nyiakan perempuan sebaik dan secantik Silvia! ucap Boby dalam hatinya
Silvia yang mendengar Pazel menyebut dirinya sebagai suami, merasakan geli dan tertawa mengejek.
“Hehehe, suami? Apa kamu lupa sudah mengucapkan talak untukku, Bang? Di depan gundikmu pula?”
Rima yang malu disebut sebagai gundik berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya. Dia memasang wajah sedih dan pura-pura bersembunyi di bahu Pazel.
“Bang, sudahlah, biarkan saja. Tidak usah urus dia lagi, kita kan mau menikah?” ucap perempuan itu.
Pazel melepas rengkuhan Rima. Dia kembali bertanya pada wanita yang sudah tidak peduli dengan yang dia lakukan.
“Silvia! Jawab aku, sedang apa kamu di sini?”
Agar orang yang sudah sangat dia benci ini pergi dari hadapannya secepat mungkin, dia menjawab pertanyaan Pazel dengan malas.
“Aku di sini sedang bekerja. Apa kamu mau beli baju pengantin? Aku akan bantu memilihkan modelnya.”
Pazel tidak rela membiarkan Silvia bekerja di butik itu, sebab dia tidak ingin Silvia dekat dengan laki-lain selain dirinya.
“Tidak perlu. Ayo, kita pulang!”









