Home / Genre / Misteri / Arwah Penasaran di Sekolah Angker

Arwah Penasaran di Sekolah Angker

Arwah Penasaran di Sekolah Angker

Lazimnya cara kerja ingatan yang unik, ketika salah satu kenangan terbuka, sontak menyeruak berbagai kenangan serupa secara berkerumun. Agaknya seperti itu pula yang terjadi pada saya. Ketika salah satu kenangan akan kisah tak lazim terkuak, serta-merta langsung menyibak runtutan kisah serupa yang lainnya.

Kali ini tentang arwah penasaran, di sebuah kompleks sekolah kuno yang terletak di bilangan Jakarta.

Meskipun tua dan suram, kompleks sekolah ini terbilang prestisius di kelasnya, dan terus banjir peminat tahun ke tahun. Bahkan santer rumor sogok-menyogok demi bisa masuk ke sekolah tersebut saking favoritnya.

Bermula dari transaksi merger saya dengan salah satu rekan yang kebetulan sama-sama praktisi pendidikan di ibukota, saya menyelenggarakan institusi formal di kompleks sekolah bergengsi tersebut. Seperti biasa, tim advance diturunkan, mencoba mencermati fisik serta potensi yang bisa dimaksimalkan dari gedung pendidikan kuno itu.

Langkah pertama sama saja: Pembersihan gedung. Termasuk juga pembuangan bertumpuk-tumpuk wafak yang saya temukan dari kisi pintu, mulai dari pintu masuk dan keluar gedung hingga pintu kelas.

Ada salah satu wafak unik yang saya temukan di sini. Dilengkapi surat yang intinya permohonan untuk dijaga kelarisan sekolahnya demi mempertahankan “PANCI NASI” milik mereka.

Alangkah miris? Bahkan di gedung tempat berlangsungnya pendidikan formal guna mencerdaskan anak bangsa, tetap saja ditemukan model serupa yang itu-itu juga. Tak heran bila kemudian sempat heboh rentetan siswa kesurupan berombongan antar sekolah. Mau bagaimana lagi, lha wong praktisi pengelola pendidikannya juga bermental seperti itu?

Gedung yang terlalu luas berbanding waktu yang amat mepet guna penyelenggaraan kegiatan pendidikan, akhirnya memaksa saya mengalah untuk menginap di sana. Tujuannya untuk turut mengawasi pembersihan dan perbaikannya.

Bayangkan saja, ruang taman bermain dalam gedungnya saja setara dengan area parkiran sekolah. Belum lagi ruang lainnya serta perabot dan meja-kursi yang rata-rata berbahan kayu jati kuno. Perabot ini terpaksa harus dicat ulang demi lebih terkesan ceria bagi lingkungan pembelajaran siswa. Meskipun sayang juga sebenarnya, karena membuat aksen khas serat kayu jatinya jadi hilang.

Walhasil, saya sukses menginap di gedung kuno tersebut, bersama salah satu tetangga yang dimintai bantuan pembersihan gedung.

Kejadian Malam Pertama

Malam pertama menginap, saya langsung disuguhi kejadian yang tak biasa. Menjelang tengah malam, dari arah ruang bermain terdengar suara berkeriut khas ayunan besi ketika dimainkan.

Hal itu membuat saya merasa was-was. Bukan karena setan dan sejenisnya, melainkan lebih kepada faktor keamanan. Dikhawatirkan ada orang berniat tak baik menyelundup dan berusaha mencuri, lalu tak sengaja menyenggol mainan yang ada hingga menimbulkan suara.

Bergegas saya keluar dari ruang kelas, melewati lorong sempit sepanjang sepuluh meter lebih guna mengintip dari balik pintu ruang bermain. Aneh, tak ada apapun dan tak terlihat siapapun di sana. Pun mainan yang ada semua geming, tanpa ada bekas atau pertanda telah bergerak sebelumnya.

Merasa aman, saya balik ke ruang kelas yang disulap menjadi tempat istirahat sementara. Baru saja berpikir bahwa semua cuma salah dengar belaka, suara-suara dari ruang bermain kembali terdengar.

Kali ini seperti bergesernya suara benda yang cukup berat. Penasaran, saya kembali menyusuri lorong sempit, panjang, dan gelap menuju ruang bermain tersebut. Kali ini agak gegas, meski tetap jalan mengendap, demi siapa tahu bisa menangkap basah siapapun atau apapun sumber bunyi-bunyian tak mengenakkan tersebut.

Tak sekedar mengintip, saya langsung membuka pintu ruang bermain sekilat mampu. Dan pemandangan yang terhampar membuat saya terpana. Tetap tak ada siapapun, juga tak terekam sesuatupun. Hanya sebuah ruang bermain yang gelap dengan semua benda utuh terletak ajeg di tempatnya.

Kejadian itu masih terus berlangsung beberapa kali lagi. Namun saya sudah tak menggubrisnya karena, meski penasaran, telah mulai dijangkiti paranoid. “Dasar gedung tua,” batin saya sebal sembari rebahkan badan dan bersiap tidur.

Bisa jadi, ‘penghuni lama’ merasa terganggu, atau bisa saja malah justru antusias karena seluruh mainan yang ada di sana dicat ulang hingga jadi lebih kinclong. Baik dari pilihan warnanya yang makin ceria khas pendidikan usia dini, maupun juga kerusakan-kerusakannya yang telah diperbaiki.

Kejadian Malam Kedua

Malam kedua peristiwanya lebih janggal lagi.

Saat tengah menemani tetangga yang bertugas membersihkan kelas karena akan dilakukan pengecatan esok hari, mendadak sang tetangga menjerit sambil melemparkan sapu yang dipegangnya, lalu terjajar ke dinding kelas.

Saat saya dekati dan bertanya ada apa, sang tetangga malah kembali menjerit sambil membuang muka dari pandangan arah belakang saya. Hingga waktu yang cukup lama, wajah pucatnya barulah berangsur normal kembali.

Sambil bisik-bisik, sang tetangga bilang ada sosok wanita separuh badan nongol dari tembok belakang saya, dengan wajah pucat dan raut yang amat menyeramkan.

Tanpa sadar saya spontan menengok ke belakang. Namun tak ada apapun yang terlihat. Hanya kemustahilan. Apalagi bila mengingat tinggi tembok tersebut melebihi kepala saya, dan di bagian luar tak ada alat bantu tangga, meja, serta apapun yang misalnya dapat membuat seseorang memanjat hingga bisa berdiri setengah badan.

Sambil bersumpah-sumpah, sang tetangga kukuh dengan penglihatannya. Ia juga menceritakan jeritan keduanya, yang katanya dikarenakan sosok tersebut kemudian berusaha menerjang dirinya meski saya ada di antara mereka.

Kembali saya celingak-celinguk memperhatikan sekeliling, namun tetap tak menjumpai apapun yang janggal selain napas sang tetangga yang masih memburu dalam sandar setengah jongkok itu.

Saran Ritual Tak Masuk Akal

Esoknya, dari bapak penjaga kantin depan area kompleks pendidikan barulah saya mengetahui penyebabnya. Meskipun sempat berkelit, akhirnya penjaga kantin mengakui bahwa pernah ada siswi yang bunuh diri di lokasi luar lorong persis seperti yang dilihat sang tetangga.

Pengakuan tersebut tentu saja lengkap dengan petuah berbasis standar adab dan akhlak berkelakuan di tempat yang -terutama sekali- diduga angker. Seperti misalnya tak boleh jorok dan lain-lain, khas ujaran orang tua.

Bapak penjaga kantin itu memperlihatkan pula sebentuk batu sebesar bola tenis meja, berbentuk ukiran wajah seram yang terlihat asli saat diperiksa saya. Batu itu diakui diperoleh dari kompleks pendidikan tersebut.

Sepulangnya dari gedung tua itu, saya hampiri sang tetangga, dan bertanya adakah kelalaian atau tindakan abai yang dia lakukan di sana sebelumnya. Ternyata, memang sang tetangga yang salah. Dia buang air kencing serampangan dan tanpa bersuci pula.

Imbas tersiarnya kejadian seram itu, banyak saran yang saya dapat dari para sesepuh wilayah. Termasuk yang nyata-nyata menghakimi bahwa lokasi gedung tua peninggalan Belanda tersebut memang telah terkenal angker sejak dulu, hingga mestinya wajib dilakukan ritus tertentu, termasuk dengan cara menanam 4 buah kepala babi di setiap penjuru gedung.

Saran tersebut terasa amat aneh serta janggal di otak saya, karena apa hubungannya kepala babi dengan arwah gentayangan?

Pun kejadiannya sebenarnya cukup unik. Saya yang notabene hadir di lokasi dan mendampingi saat kejadian, ternyata tak turut melihat sedikitpun penampakan tersebut. Hal ini membuat saya berpikir bahwa sebenarnya bukan ritual ataupun sesajen yang terutama sekali dibutuhkan.

Berpikir positifnya: mereka ada, dan kadang ingin berkenalan atau setidaknya tengah menunjukkan bahwa mereka ada, seperti kejadian di ruang bermain. Sementara kejadian menyeramkan di lorong kelas bisa jadi buah pribadi yang lalai diri bersikap sembarangan di tempat baru.

Bukankah jika kita melihat ada orang baru yang kurang ajar mengencingi atau mengotori tempat kita, akan spontan tersulut amarah pula? Begitu pula mungkin latar kejadian di atas.

Maka, ada baiknya tak alpa dalam doa, menjaga adab, serta legawa bersama dengan berusaha sebisa mungkin tidak saling mengganggu. Karena pada akhirnya, mereka memang ada. Hanya saja bentuk dan alam yang berbeda.

Wallahu a’lam bis shawab.


Purbalingga-Tahun Arwah.


Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image