Tanah yang berpetak-petak
Retak bersama tangisan para petani
Jalan irigasinya semakin buntu; terjebak
Terhalang tembok-tembok tebal tak bernurani
Harga pupuk semakin meninggi bersama para penimbun yang menari-nari
Sementara yang mengurus sawah menangis pilu
Lahan-lahan perlahan tergerus oleh ambisi
Sumber pangan semakin sempit dan kurang bermutu
Para pemangku jabatan tak acuh; duduk nyaman di atas kursi yang empuk
Seolah tuli oleh jeritan mereka; tersumbat kapas yang bisa melagu
Tak ubahnya kerbau yang sudah diberi rumput berbumbu gurih namun busuk
Menikmatinya dengan santai tanpa memakai hati dan rasa malu
Bila wewaris sawah semakin menipis dan habis
Bisakah negeri ini mempertahankan gelar swasembada pangan?
Keberadaannya terusir oleh erosi kemajuan zaman yang mengikis
Akibat elite negara yang hanya mementingkan keuntungan
Sungguh kasihan para petani
Perannya semakin termutilasi
Padahal perjuangannya dari pagi hingga sore hari
Menghidupi semesta penuh semangat dan keteguhan hati
Purwakarta, 10 Maret 2026











