Pada malam hari, saat situasi telah hening, Pasukan St. Jon of Jerusalem tiba di pelabuhan Pulau Lesbos. Mereka mengenakan jubah hitam-hitam agar tak dikenali oleh warga sekitar di Pulau Lesbos. Tanpa membuang waktu, mereka menempati posisi masing-masing. Di sudut-sudut dinding rumah, Pasukan St. Jon of Jerusalem bersiap untuk menghancurkan Oruç beserta keluarganya. Sementara Poseidon mengamati rumah Oruç di balik dinding rumah terdekat, dan menunggu waktu yang tepat untuk memberikan aba-aba kepada Pasukan St. Jon of Jerusalem untuk menyerang.
Di Alexandria, Senor Sylvio membuat pelanggaran di belakang Isabel. Tawanan yang bernama Komandan Marco ia bebaskan secara sembunyi-sembunyi dengan memberikan seporsi sup dan air minum yang di dalam mangkuk supnya disimpan kunci penjara bawah tanah dan sepucuk surat yang berisi pesan:
_“Pada saat Isabel istirahat, yaitu pada pergantian penjaga penjara menjelang tengah malam, kau pergi menuju Pulau Rhodes. Pietro sudah kembali. Di depan penjara ada jubah hitam tepat di dalam tong yang berisi jerami untuk kau kenakan. Kau menuju lorong rahasia tepat di sebelah kanan tempat Isabel bekerja.”_
Ketenangan Alexandria sedikit terusik oleh perbuatan Senor Sylvio yang melakukan pengkhianatan terhadap Isabel.
Pada saat pergantian penjaga, Komandan Marco menjalankan instruksi sesuai seperti apa yang berada di dalam surat tersebut. Ia melarikan diri dari penjara bawah tanah, lalu mengenakan jubah hitam yang berada di dalam tong yang berisi jerami. Ia mengendap-endap, keluar penjara dengan penuh waspada, dan sesekali bersembunyi, agar Isabel tak melihatnya. Ia melewati tempat kerja Isabel dengan perlahan-lahan, agar Isabel yang tengah tertidur di sana tidak bangun.
“Kraaak!”
Marco menginjak papan yang sedikit rapuh. Ia terdiam sejenak, seolah napasnya terhenti. Ia melihat ke arah Isabel, akan tetapi Isabel masih terlelap meski mengubah posisi tidurnya. Komandan Marco pun melanjutkan pelariannya menuju lorong rahasia yang telah ditunjuk dalam surat itu. Dengan susah payah, Komandan Marco berhasil melarikan diri menuju Pulau Rhodes.
***
Di bawah langit yang cerah, Hizir Reis bersama Darwis Effendi berada di Midili untuk membawa pusaka milik ayahnya, Ya’kub Ağa.
“Pusaka yang telah disembunyikan ayahmu dekat tebing pinggir pantai, adalah warisan untuk kalian. Memang hanya simbolis, akan tetapi memiliki makna yang dalam.” Kata Darwis Effendi kepada Hizir Reis.
“Mari kita ambil pusaka itu, dan temukan pesan di dalamnya.” Lanjut Darwis Effendi.
Mereka pun segera menuju tebing yang dimaksud.
Piri Reis sedang berada di samudra bersama beberapa levent-nya. Ia sedang menulis sebuah kitab yang di dalamnya terdapat peta dunia. Piri Reis terkenal dengan kecerdasannya dan juga ahli dalam bertempur. Selain itu, ia berwibawa dan bijaksana dalam mengambil setiap keputusan. Perjalanan mediterania nya adalah bukti kebijaksanaannya—sebagai seorang pelajar untuk mengabdi pada Kesultanan Turki Utsmani.
Sesampainya di tebing, Hizir Reis dan Darwis Effendi menggali tanah yang sudah ditandai oleh mendiang Ya’kub Ağa. Pada galian yang tidak terlalu dalam, mereka menemukan sebuah peti besar dan sepasang busur beserta anak panah yang terbungkus oleh kain hitam. Mereka pun mengangkat peti dan sepasang busur beserta anak panah yang ada di dalam tanah tersebut. Hizir Reis membuka peti, sementara Darwis Effendi membuka kain penutup hitam.
Sementara di Lesbos, Poseidon mulai menebar teror bagi Oruç Reis dan istrinya Despina yang sedang berada di dalam rumah. Sebagian pasukan St. Jon of Jerusalem menaburkan bubuk mesiu di sekitar rumah Oruç dan sebagian lagi sudah bersiap dengan panah yang sudah dilumuri minyak. Poseidon mengira, Barbarossa bersaudara pun ada di dalam rumah tersebut. Padahal, Hizir Reis sedang berada di Midili, sementara İshak Ağa sedang berada di Ibu Kota Utsmani, karena dipanggil oleh Sultan Beyezid.
Melihat rumah Oruç Reis yang semakin tenang, dua pasukan St. Jon of Jerusalem, masuk ke halaman rumah dengan mengendap-endap. Mereka membawa tong yang berisi bubuk mesiu dan menaburkannya dekat pintu masuk hingga sekitar halaman rumah. Sisa mesiu yang ada di dalam tong—berjumlah lima tong, mereka simpan di area rumah Oruç Reis.
Setelah dinilai tepat waktu untuk menembak, maka Poseidon memberi isyarat mengangkat tangannya dengan jari terbuka. Aba-aba sedang dilakukan, dan…
“Wuushh…! Baamm…!”
Anak panah yang dilumuri minyak dengan mengambil api dari obor penerang, melesat cepat dan mengarah pada tong yang berisi bubuk mesiu. Tong itu meledak dengan sangat kuat, dan apinya cepat merambat ke rumah Oruç Reis mengikuti jalur taburan bubuk mesiu. Rumah Oruç Reis terbakar hebat.
Setelah penyerangan itu, Poseidon dan Pasukan St. Jon of Jerusalem melarikan diri dengan cepat ke dermaga—yang disana sudah ditunggu oleh empat Pasukan St. Jon of Jerusalem dalam keadaan siaga di dalam kapal. Seketika, orang-orang di Pulau Lesbos berhamburan keluar, karena terkejut dengan suara ledakan yang dahsyat.
Beberapa orang, yang berpakaian ksatria, melihat pergerakan di dermaga. Mereka mengejar pergerakan itu, namun sayangnya tidak terkejar. Beberapa orang lainnya berusaha memadamkan api yang menyala besar dengan ember-ember kecil. Sebagiannya lagi, berusaha masuk untuk menyelamatkan Oruç yang tengah terjebak dalam lingkaran api.
Akankah Oruç Reis selamat? Atau justru mati terpanggang bersama istrinya, Despina?
Siapakah orang-orang itu yang berpakaian ksatria?
Lalu, di Midili, selain temuan sepasang busur beserta anak panah yang ditemui oleh Hizir Reis dan Darwis Effendi, benda apa yang berada di dalam peti tersebut?










