Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 28

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 28

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 29 of 29 in the series Cinta Kedua & Terakhir

“Ibu!” teriak Pazel terdengar bersamaan dengan suara dentuman keras.

Silvia melihat ke belakang. Orang-orang yang ada di sekitar pelaminan itu terlihat berlari ke arah Rohana yang tadinya berdiri di samping mempelai pria. Mereka berlari untuk memberikan pertolongan kepada Rohana.

Ternyata wanita itu sudah tergeletak pingsan. Diantara mereka ada yang mengambilkan segelas air dan ada yang mengipasnya. Tapi mereka tidak memindahkan Rohana, karena badannya yang gemuk.

Pihak keluarga Rima hanya menonton saja. Mereka malu karena mantan istri Pazel datang dengan pasangan yang sangat tampan dan kaya raya.

Ditambah lagi saat mertua anak saudara mereka yang tidak bisa mengendalikan diri. Muka mereka benar-benar merasa tercoreng.

Bisik-bisik para tamu terdengar saling bersahutan.

“Kenapa Bu Rohana sampai pingsan begitu ya, sehabis bersalaman dengan mantan istri Pazel?” tanya salah satu tamu kepada tamu lainnya.

“Iya. Mungkin dia menyesal melepaskan menantu yang cantiknya bak artis Korea,” salah seorang dari tamu undangan itu bicara tanpa perasaan dengan senyum mengejek.

“Dulu saja, waktu menantunya masih ada, dia buat seperti babu. Udah gitu sering dimarahi lagi,” ujar seorang tamu yang merupakan tetangganya sendiri.

“Yang lebih parahnya lagi, Bu. Si Pazel itu menghamili perempuan itu saat Silvia masih sah menjadi istrinya,” celetuk seorang perempuan lain.

“Ah, masa? Jadi pengantin wanitanya ini sudah hamil?” tanya tetangganya juga.

“Iya, lihat saja perutnya sudah buncit.”

“Pelakor, dong!” ujar seorang tamu dengan suara lantang.

“Ssst, jangan keras-keras, nanti kedengaran.”

“Ah, biarin aja kedengaran. Memang dia itu pelakor. Kita sebagai istri-istri sah suami kita juga ikut merasa tersakiti. Iya, gak?”

“Iya. Benar banget. Kalau gitu, kita ambil lagi kado kita, kita semua pulang, gak usah di hadiri pernikahan mereka.”

“Iya, benar. Tapi tadi aku kasih dia amplop. Ah gak rela aku. Mau di ambil lagi juga gak enak hati.”

“Untung aku belum ngasih kado.”

“Kalau aku tadi sudah ngasih, tapi cuma lima ribu.”

“Itu karena lu memang pelit.”

Suara tawa mereka pun bersahut-sahutan.

“Ya sudah. Kita balik saja.”

Salah satu dari mereka yang bernama Bu Sri mengompori para tamu, “Hei kalian semua, yang belum ngasih ucapan selamat dan kasih kado, lebih baik gak usah. Mereka ini orang-orang gak benar. Yang laki-laki tukang selingkuh dan yang perempuan pelakor. Sedangkan Bu Rohana mertua yang jahat sama mantan menantunya. Mending kalian pakai uang kalian untuk sesuatu yang lebih bermanfaat.”

Seketika keadaan menjadi tambah ricuh. Para tamu menjadi heboh. Ada yang bersorak, ada yang melempar kursi ke arah pelaminan, ada yang melempar makanan, ada pula yang langsung pulang.

Momen itu diabadikan oleh para pencari konten. Pazel dan keluarganya menjadi topik utama di halaman sosial media.

Rima dan keluarganya benar-benar marah mendengar kata-kata buruk yang ditujukan kepadanya. Namun dia berusaha menahan amarahnya. Saat ini mereka hanya ingin menyelamatkan diri mereka dari kekacauan yang sedang terjadi di acara mereka.

Silvia yang mendengar dari jauh hanya tersenyum.

Ini baru permulaan.

Dia melangkahkan kakinya menuju kendaraan bersama Dokter Dana.

“Sekarang kita ke rumahku ya, Sil? Kaila pasti senang banget ketemu sama kamu.”

“Aku juga senang banget, Dok. Siapa yang gak senang ketemu gadis selucu dan seimut Kaila.”

Dokter Dana menjalankan mobilnya. Sesekali matanya melirik Silvia. Dia sangat kagum dengan kecantikan Silvia.

“Kenapa sih, Dok. Kok lihatin aku terus?” Silvia tersipu malu karena diperhatikan.

“Kamu juga kenapa lihatin aku terus? Naksir, ya?” goda Dokter Dana.

“Siapa yang naksir? Ge-er ah Dokternya.” Dia kikuk hingga dia merapikan rambutnya yang tidak berantakan sama sekali.

***

Kaila sedang marah dan tidak mau menghabiskan susu yang sudah diseduh oleh suster. Makan juga tidak mau.

Ternyata memang kebetulan sekali Kaila juga sedang merindukan kehadiran Silvia.

“Atu mau tetemu tama Tante tantik!” bentaknya sambil berkacak pinggang.

“Makan dulu, Non. Sebentar lagi juga Tante tantiknya datang, kok.”

“Ndak mau! Atu mau Tante tantiknya cetalang!” Kemarahannya bukannya membuat pusing para suster, tapi justru malah membuat mereka tertawa. Bagi mereka celoteh Kaila sangat lucu.

Kemudian dari arah pintu, terdengar salam dari tuan muda mereka.

“Assalammualaikum.”

“Waalaitum talam.” Kaila begitu semangat dan langsung berlari ke sumber suara.

“Anak Papa. Sudah mam, belum?” Dokter Dana langsung menggendong putri tercintanya.

“Belum, Pa. Atu mau mamnya Tama Tante tantik.”

“Tapi Tante tantiknya gak bisa datang.”

Gadis kecil itu percaya dan langsung memasang wajah sedihnya.

“Assalammualaikum, Cantik?”

“Waalaitumtalam. Hahaha, Tante tantik.”

Dengan sangat ceria gadis kecil itu langsung mengulurkan kedua tangannya ke pangkuan Silvia.

Kaila adalah seorang anak yang kehilangan sosok ibu semenjak lahir. Kebahagiaannya bertemu Silvia sangat terlihat di wajah imut anak itu.

“Sekarang Silvia makan dulu, ya sayang? Kalau gak makan nanti makanannya nangis,” bujuk Silvia.

“”Ot, Tante tantik.”

Gadis itu segera berlari ke arah suster. Suster memberi makan Kaila yang lucu itu dengan gembira.

“Terima kasih ya, Sil. Kalau kamu gak datang hari ini, pasti Kaila sangat sedih. Dia gak akan selera untuk makan.”

“Sama-sama, Dokter. Aku malah senang, kok.”

“Oh iya, Dok. Aku gak bisa lama-lama, sebab aku ada janji dengan makan malam dengan keluargaku malam ini.”

“Oh, ya? Tapi nanti kamu pamit dulu ya, sama Kaila. Takutnya nanti dia mengira kamu masih di sini, dan dia nyariin kamu.”

“Iya, Dok. Nanti aku pamit sama Kaila.”

Sebenarnya Silvia sangat tidak ingin pergi dari kediaman Dokter Dana. Dia merasa nyaman ada di sana, apalagi kasih sayangnya sudah terlanjur melekat kepada Kaila.

Dia memandang Dokter Dana dengan sedih. Makan malamnya nanti adalah acara perjodohannya dengan seseorang yang belum dia kenal.

Tapi dia sudah berjanji akan menerima keputusan orang tuanya. Dia tidak mau mengecewakan ayah yang selama ini sudah lama dirindukannya.

Baginya Efendi Kusuma adalah malaikat penyelamat ayahnya. Lebih dari itu sebagai orang yang sudah menaikkan harkat dan martabat keluarganya.

“Tidak. Aku harus menghapus rasa cintaku. Aku akan mengabdikan hidupku untuk anak Om Efendi,” gumamnya dalam hati.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 27

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image