Home / Genre / Fiksi Sejarah / 10. Dendam Poseidon dan Ketenangan Alexandria

10. Dendam Poseidon dan Ketenangan Alexandria

Khairuddin Barbarossa 1600x900
This entry is part 11 of 11 in the series Khairuddin Barbarossa

Alberto Barbarigo sampai di Pulau Rhodes, dengan membawa 200 pasukan terbaik dari Venesia untuk membantu Poseidon, lengkap dengan baju zirah berat, 40 tong berisi bubuk mesiu, anak panah yang sudah dilumuri minyak, dan kapal tempur yang memuat 3 meriam. Alberto Barbarigo pun disambut oleh Komandan tingkat dua, Javier dan 3 Pasukan Knight of Jerusalem.

“Sahabatku Poseidon dimanakah, ia?” Tanya Alberto Barbarigo.

“Tuanku Poseidon, sedang berada di Kastil Archangelos. Ia telah menunggumu disana.” Jawab Komandan Javier.

“Baik, Komandan.”

Alberto Barbarigo pun menuju Kastil Archangelos.

“Antuan, aku sudah membawakan seluruh permintaanmu.” Kata Alberto kepada Antuan.

“Terima kasih sahabatku, Alberto” Jawab Antuan.

“Tapi, aku takkan lama. Aku akan kembali ke Venesia dan akan kutinggalkan Gabriel disini untuk menemanimu.”

“Baiklah, jangan khawatir itu. Selama bantuanmu lengkap, aku sudah berterima kasih padamu.”

Keesokan harinya, Alberto Barbarigo kembali ke Venesia, sementara Antuan langsung membuat strategi balas dendam bersama Gabriel Alfonso.

Antuan bergumam kepada Gabriel “Akan aku luluhlantakan Barbarossa bersaudara.


Di Alexandria, Oruç Reis langsung menjebloskan Komandan Marco ke penjara bawah tanah. Yaitu, penjara Pelabuhan Unita milik ayahnya Isabel, Senor Sylvio. Setelah menjebloskan Komandan Marco, Oruç Reis menuju ruang kerja Isabel.

“Bagaimana keadaan mereka, Isabel?” Tanya Oruç perihal para tawanan yang di evakuasi.

“Kau jangan khawatirkan itu, mereka sudah aman, Oruç.” Jawab Isabel.

“Baiklah, Isabel. Terima kasih atas bantuannya. Kalau begitu, aku akan ke Lesbos untuk menemui Despina”

“Semoga selamat, Oruç.”

Maka, Oruç pun bertolak ke Lesbos bersama Piri Reis untuk menemui Despina, istri Oruç Reis.

Pada saat ditinggalkan, Alexandria begitu damai. Cuacanya begitu cerah, seolah ikut bahagia atas keberhasilan kecil Barbarossa bersaudara di Pulau Rhodes. Sementara, Isabel memegang amanat Oruç Reis dengan baik. Yaitu, menjaga mantan tawanan dari Pulau Rhodes agar tak diserang musuh, dan menjaga Komandan Marco agar tidak melarikan diri. Adapun Senor Sylvio, diam-diam ke Kastil Kalimnos di Yunani. Tanpa sepengetahuan Isabel, Senor Sylvio berkolaborasi dengan Pietro, si penguasa Kastil Kalimnos.

Senor Sylvio memberikan beberapa informasi penting terkait Barbarossa bersaudara, terutama Oruç Reis. Termasuk kejadian di Pulau Rhodes baru-baru ini. Dengan penuh percaya diri, Pietro memutuskan untuk pergi ke Pulau Rhodes—yang kebetulan tidak jauh dari Kalimnos untuk memberikan bantuan moril dan materil, sebelum Antuan bergerak untuk membalas dendam. Senor Sylvio, adalah sosok yang bermuka dua. Sementara Pietro adalah sosok yang kejam.

Pietro pun langsung menuju Pulau Rhodes bersama Senor Sylvio.

Di Pulau Rhodes, Antuan masih berdiskusi sambil melihat peta yang digelar di atas meja. Gabriel memberi saran untuk menjebak Barbarossa bersaudara di Mediterania. Yaitu, dengan mengirim surat undangan pertempuran terbuka. Mereka telah menyusun rencana strategi untuk menjebak Barbarossa bersaudara dengan cara menjepit kapalnya ke kapal Barbarossa bersaudara dari sisi kanan dan kiri. Lalu, menghujani panah api, hingga terbakar. Setelah itu, mereka menembakkan meriam dari kedua sisi tersebut. Sementara, tong yang berisi bubuk mesiu akan mereka gunakan untuk menyerang Pulau Lesbos. Mendengar strategi Gabriel, Antuan menyetujuinya dengan sangat antusias.

“Apa yang engkau rencanakan, kawanku Poseidon?” Tanya Pietro yang datang tiba-tiba, dan membuat Antuan sedikit terkejut.

“Ah! Pietro, kapan kau kembali dari Cyprus?” Antuan berbalik tanya.

“Itu tidak penting. Yang terpenting, pada saat aku kembali, aku menerima kabar yang sangat penting dari Senor Sylvio.”

Antuan pun terdiam.

“Aku tahu kejadian di Pulau Rhodes ini, dan aku pun tahu bagaimana cara melumpuhkan musuh-musuh kita. Ini berkat Senor Sylvio.” Lanjut Pietro.

“Bukankah Senor Sylvio anteknya Oruç Reis?” Tanya Antuan yang terlihat begitu heran.

“Oh! tidak, tidak. Senor Sylvio adalah sekutu kita. Ia menggunakan putrinya, Isabel untuk mengumpulkan informasi mengenai Oruç. Bahkan, seluruh keluarganya sudah ia kumpulkan agar kita dapat memukul mereka. Inilah permainanku, Antuan” Jawab Pietro.

Lalu, Pietro menghampiri Antuan dan melihat peta.

“Kita akan langsung menyerang ke jantungnya Barbarossa bersaudara, yaitu dengan menyerang tepat di rumahnya.” Kata Pietro sambil menunjuk Pulau Lesbos yang berada di peta.

“Kau simpan kapal yang memuat meriam. Kita membutuhkan meriam itu untuk menghancurkan Utsmani, Gabriel. Kita akan membawa tong mesiu dan panah yang sudah dilumuri minyak.” Lanjut Pietro.

Antuan yang mendengar itu, memahami maksud Pietro.

“Kita akan membakar rumah Barbarossa bersaudara, bukankah begitu?”

“Benar. Kau dapat melakukan pembalasan dengan tepat dan efektif, kawanku Poseidon.” Jawab Pietro.

“Langkahmu begitu cerdas, Pietro. Kita akan memburu dua burung dengan satu pukulan.” Balas Antuan dengan penuh ambisi.

“Ha! Bukan hanya itu. Aku akan membawa anak didikku dari Cyprus yang haus darah, Gladius. Aku sudah memiliki rencana matang untuk menghancurkan Utsmani, dan Gladius adalah sosok yang tepat untuk menjadi komandan itu.” Pietro menambahkan dengan penuh percaya diri.


Di Prancis, Giovanni terus melobi Antoine de Montpellier untuk membuatkan gua dan benteng terkuat di Pulau Rhodes. Namun, Antoine masih bergeming dengan pendiriannya.

“Efendim! Kita memintamu untuk membuatkan gua dan benteng pertahanan di Pulau Rhodes itu untuk kejayaan kita. Apakah kau ingin Utsmani merebut Rhodes?” Kata Radko mengejutkan Giovanni dan Antoine de Montpellier.

“Kalau itu permintaanmu, apa kau dapat memberi jaminan padaku?” Tanya Antoine de Montpellier.

“Tuanku Poseidon, selain memberikan emas yang sudah disiapkan, ia akan memberikan rumah untukmu.” Jawab Radko.

Giovanni sedikit terkejut mendengar perkataan Radko, karena tidak ada perjanjian untuk memberikan rumah terhadap Antoine de Montpellier. Namun, Radko cepat respon dengan memberikan kode agar Giovanni memahami perkataannya.

Akhirnya, mereka menyepakati untuk membuat gua dan benteng terkuat di Pulau Rhodes dengan asumsi imbalan yang sudah dijelaskan oleh Radko.

Di Pulau Lesbos, Oruç Reis bertemu istrinya yang tengah mengandung, Despina. Mereka bertemu dengan suka cita dan melepas rindu satu sama lain. Sementara, tanpa mereka ketahui, ancaman sedang memburu mereka dari Pulau Rhodes.

Di sisi lain, ketenangan Alexandria akan berlangsung lama? Sebab, Senor Sylvio tengah melakukan rencana licik untuk Isabel.

Khairuddin Barbarossa

. Rencana Dendam Poseidon/Antuan

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image