Aku tidak sepenuhnya mengerti apa yang hilang. Aku berdiri di tengah aula, dikelilingi oleh hiruk pikuk kegiatan di sekitarku.
Pengumuman publik menusuk pikiranku. Arah kiri, arah kanan, arah atas, arah bawah. Dan orang-orang pun pergi sesuai arahan.
Para petugas tidak banyak membantu.
“Ada sesuatu yang hilang,” kataku.
“Ya, benar,” adalah satu-satunya jawaban yang bisa kudapatkan.
Aku bahkan tidak yakin bagaimana aku bisa sampai di sini. Aku tahu aku ada di sini, di tempat transisi yang aneh ini, tetapi ingatanku tak mau berfungsi.
Jadi aku hanya berdiri di tengah aula, bingung. Dan antrean orang mulai terbentuk di belakangku.
Para petugas kemudian datang menghampiri. Lagipula, aku menghalangi jalan.
“Bergeraklah,” kata mereka. “Pergi ke tempat yang seharusnya kau tuju.”
“Tapi aku tidak tahu,” kataku. “Aku tidak tahu sama sekali.”
Kurasa mereka menyadari ada sesuatu yang hilang saat itu. Setelah berpikir, mereka mengarahkanku ke arah yang benar, kurasa. Dan jelas aku belum siap. Karena itulah, kebingungan, kurangnya ingatan, dan kesadaran bahwa ada sesuatu yang hilang.
Dan saat jiwaku memasuki gerbang yang bertanda “Alam Barzah”, aku tahu yang hilang adalah tubuhku.
Kematian, tampaknya, punya kebiasaan melakukan hal itu.
18 April 2026










