Penulisan ulang beberapa novelku terlintas di pikiranku, dan aku dengan senang mengatakan bahwa aku telah menyerahkan Pengawal Rahasia Presiden kepada editorku kemarin.
Aku joget kegirangan. Oke, sebenarnya tidak, karena aku masih vertigo, tetapi aku joget dalam pikiranku.
Minggu depan aku akan menjadi pembicara seminar daring yang jauh lebih bermanfaat tentang “Penerbitan Modern: Novel Online ke Buku Klasik” di WAG Novea, tapi saat ini aku ingin berbagi beberapa pengalaman.
Aku berkomentar kepada seorang teman penulis baru-baru ini, bahwa kalau penulis yang mencoba menerbitkan buku tahu betapa sulitnya itu, mereka mungkin tidak akan terburu-buru untuk mencapainya.
Dia tertawa dan setuju denganku, karena dia juga sedang berjuang dengan buku keduanya. Seperti biasa, aku tidak mengatakan ini untuk mengecilkan hati siapa pun, tetapi untuk berbagi bahwa bahkan ketika Anda membaca industri literasi online, mengikuti penulis, dan secara umum mengikuti perkembangan bisnis buku, tidak ada yang benar-benar mempersiapkan Anda untuk itu.
Menjual novel pertama Anda adalah bagian yang mudah, meskipun kedengarannya gila (dan menakutkan).
Buku selanjutnya? Ujian berat.
Menulis Pengawal Rahasia Presiden itu sulit, karena buku itu khusus kutulis untuk mengikuti kontes yang diadakan DKJ tahun 2025 kemarin.
Mungkin salah satu hal tersulit yang pernah kulakukan, dan tentu saja tulisan tersulit yang pernah kubuat. Tapi jujur saja, aku senang sudag melakukannya. Sesulit apa pun itu, itu benar-benar membuktikan bahwa A) aku bisa melakukan hal “penulis yang mengikuti kontes biarpun tak menang”, B) aku bisa bisa menghasilkan 50.000 kata yang bisa digunakan dalam satu pagi jika perlu, dan C) aku masih ingin melakukan ini untuk mencari nafkah.
Ada banyak momen ketika aku yakin aku hanya akan sukses dengan satu genre. Selain 2045 dan Kamp 13 yang mendapuk-ku sebagai penulis fiksi ilmiah, Bobo Pengantar Dongeng dan Dongeng Hitam Putih hanyalah kebetulan, karena fantasi adalah fiksi ilmiah tanpa ilmiah.
Pembacaku tidak tertarik dengan romansa yang kutulis, sampai-sampai aku harus menggunakan nama pena untuk genre yang satu ini. Editorku akan berkerut kening.
Aku sampai bertanya-tanya apakah aku punya kemampuan untuk sukses sebagai penulis.
Tapi aku terus berusaha karena aku punya tenggat waktu dan orang-orang mengandalkanku, dan ini benar-benar yang ingin kulakukan dalam hidupku. Menyerah hanya karena sulit bukanlah sesuatu yang ingin kulakukan.
Dan semuanya berjalan dengan baik.
Seandainya semua gampang saja, kurasa aku tidak akan menghargai pengalaman ini sebanyak sekarang.
Kalau nanti orang-orang menikmati Pengawal Rahasia Presiden, aku tahu itu bukan karena aku beruntung. Aku bekerja keras untuk itu, benar-benar mendorong diriku sendiri dan menciptakan cerita yang layak dibaca. Itu sangat membantu meningkatkan kepercayaan diriku.
Tentu saja, kalau orang-orang membencinya, maka aku juga harus mengakuinya, tapi hei, itulah kehidupan kreatif.
Kalau Kamp 13 adalah buku yang menulis dirinya sendiri, aku tahu Pengawal Rahasia Presiden adalah buku yang harus ditulis oleh seseorang.
Aku? Aku merasa cukup puas dengan buku ini secara keseluruhan. Seandainya aku tidak menulis ulang lima kali, aku tidak akan pernah menemukan hal-hal keren yang kutemukan di draf terakhir. Aku tidak akan menyangka akan ada koneksi yang sangat manis yang membuatku menulis serial novel politik Negeri Omon-Omon pada level lain yang akan membuat buku novel politikku menjadi luar biasa (semoga).
Ini adalah pengalaman belajar yang fantastis dan sepadan dengan rasa frustrasinya.
Dan karena aku tahu orang-orang selalu penasaran tentang hal ini, editorku sangat membantu selama proses ini.
Aku terus memberi tahu dia tentang kesulitanku dan dia membantuku sebisa mungkin, dan memberiku waktu sebanyak mungkin untuk menyempurnakan cerita. Dia juga memberiku tenggat waktu yang ketat, tetapi ini adalah bisnis karena aku memiliki kontes yang harus dipenuhi. Tapi dia sangat hebat dalam hal ini. (Terima kasih Ega!)
Jadi, jika Anda kesulitan dengan buku Anda sendiri, teruslah berusaha. Lakukan apa pun yang diperlukan untuk menjadikannya buku terbaik. Dan kalau buku itu tidak berhasil, jangan takut untuk membuangnya dan mengerjakan sesuatu yang baru. Karena begitulah cara kerjanya di sisi penerbitan.
Kalau Anda bisa melakukan itu, berhasil mempertahankan kecintaan Anda pada buku meskipun menghadapi penolakan yang tak terhitung jumlahnya dan momen-momen kelam, tetap menginginkan kehidupan itu tidak peduli seberapa sulitnya, maka ketika kamu berhasil menjualnya, kamu akan siap.
Kamu akan baik-baik saja ketika keadaan menjadi sulit, dan akan melewatinya dengan gampang.
Jangan anggap proses revisi dan pengajuan sebagai cobaan yang harus Anda lalui untuk sampai ke bagian yang bagus. Anggap saja sebagai pelatihan di tempat kerja.
Intinya, senyumin aja.
Jawa Barat, 21 April 2026










