Home / Topik / Wisata / 13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

MELUKIS JEJAK - TARI ABD
This entry is part 14 of 14 in the series Melukis Jejak

Kyoto mengatakan bahwa tak jauh dari Candi Abang, hanya berjarak sekitar 200 meter terdapat Situs Goa Sentono. Tepatnya di dusun Sentonorejo, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman.

“Hmmm, kita kesana? Kebetulan aku belum punya catatannya.” ujar Nadia.

“Baiklah kita ke sana,” ajak Kyoto sambil kembali melajukan mobilnya. Nadia membuka peta di hapenya. Ia menemukan artikel singkat, tidak detail, tapi menarik.

Situs Goa Sentono merupakan goa buatan, tidak berwujud liang yang dalam, tetapi berbentuk seperti ceruk atau relung yang masuk ke dinding.  Ada tiga ceruk di dinding batu Padas, yang masing-masing memiliki pahatan atau relief dari masa klasik.  Kemungkinan goa Sentono dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram kuno.

Letaknya hanya sekitar 100 meter dari jalan raya, cukup dekat. Tiba di lokasi mereka langsung mengikuti papan petunjuk arah, tempatnya sangat mudah untuk ditemukan, tapi harus melewati jalanan tanah yang becek.

Untuk mencapai goa, ada tangga alami dari batu. Kyoto langsung menaiki diikuti Nadia dan Leon. 

Di depan goa, mereka mengamati setiap bagian dengan teliti. Kyoto memimpin rombongan, masuk ke ceruk pertama. Ceruk itu memiliki ukuran panjang atau kedalaman sekitar 300 cm, lebar 127 cm, dan tinggi 146 cm.

Ceruk itu sempit, dan lebih rendah dari tinggi orang dewasa, memaksa mereka merangkak untuk memasukinya. Udara terasa lebih dingin, dan suara dari luar seperti hilang meski kedalaman goa tidak panjang.

Di dalam ceruk  terdapat lingga dan yoni yang dipahatkan menyatu dengan lantai goa. Sedangkan pada dinding sebelah utara, terdapat relief Durga Mahisasuramardhini dan Mahakala.

Mereka terus merangkak, pada dinding sebelah selatan 0dihiasi relief Agastya dan Nandiswara.

“Ini amazing, bahkan dinding atasnya pun tidak dibiarkan polos,” seru Leon takjub sambil menunjuk bagian atas yang memiliki hiasan berupa lukisan dari tinta hitam yang menggambarkan seorang tokoh duduk di atas lapik berbentuk persegi. Ada juga lukisan lain berupa sulur-suluran.

Kemudian beralih menuju ceruk kedua. Ceruk yang berada di tengah, memiliki kedalaman 50 cm, lebar 117 cm, dan tinggi 125 cm. Kedalamannya dangkal tapi lebar. Di dalam ceruk ini juga terdapat pahatan lingga dan yoni. Di belakang lingga dan yoni, ada pahatan berupa tiga orang.  Satu orang berada di tengah dalam keadaan duduk di atas lapik segi empat dengan sikap tangan dharmacakramudra.

Sedangkan dua orang yang mengapitnya berdiri dengan sikap tribangga. Di depan ceruk ini terdapat lubang berbentuk segi empat berukuran panjang 50 cm, lebar 30 cm, dengan kedalaman 13 cm yang diduga berfungsi sebagai penampung air pada saat pemujaan lingga dan yoni.

Ceruk ketiga  memiliki kedalaman 180 cm, lebar 159 cm, dan tinggi 155 cm. Namun, relief yang ada di ceruk ini belum selesai, diduga akan menggambarkan seekor kura-kura. Di tengah lantai goa terdapat lubang berbentuk segi empat dengan ukuran panjang 53 cm, lebar 50 cm, dan kedalamannya 12 cm. Kemungkinan lubang tersebut pada zaman dulu digunakan untuk menempatkan obyek pemujaan.

“Berdasarkan pahatan-pahatan di tiga ceruk, aku menebak Goa Sentono berlatarbelakang agama Hindu,” sela Leon dengan alis terangkat, matanya  menatap Kyoto dan Nadia bergantian.

Nadia tertawa, “Tepat sekali! Sepertinya Kamu mulai mengenal ciri setiap bangunan candi dengan baik.”

Kyoto hanya mengacungkan kedua ibu jarinya sambil nyengir lebar.

“Para ahli sejarah yang meneliti menduga pada zaman dulu lokasi ini digunakan untuk pemujaan bagi Dewa Siwa. Pada saat dilakukan penelitian, di situs ini pernah ditemukan pecahan bata merah yang ukurannya sama dengan bata-bata di Candi Abang, temuan itu memunculkan dugaan bahwa Gua Sentono sezaman dengan Candi Abang, yakni pada sekitar abad ke 9 atau abad ke 10.” Kyoto menjelaskan.

Setelah puas mencatat dan mengambil photo, Kyoto mengajak melanjutkan perjalanan. Namun, baru beberapa depa, langkah mereka terhenti di mulut goa, seolah masih ada bagian dari yang belum benar-benar mereka pahami. Langit di luar biru cerah, matahari bersinar terik membangkitkan  rasa penasaran semakin kuat.

“Sepertinya masih ada hal yang terlewat,” kata Kyoto sambil menatap mulut goa itu.

Angin berembus pelan, membawa panas yang menyengat, tapi suasana di sekitar goa seolah menyimpan rahasia lama yang minta dikulik. Tiga ceruk yang mereka masuki memang terasa berbeda, bukan sekadar ruang batu, tapi seperti lapisan waktu yang membungkus sesuatu yang tak terucap.

Leon berdiri paling belakang, menatap kembali ke dalam kegelapan.

“Kenapa rasanya seperti ada yang memperhatikan?” suaranya rendah, hampir tenggelam.

Nadia berhenti melangkah. Ia tidak langsung menjawab. “Mungkin karena di tempat ini ada jejak yang ditinggalkan, mungkin doa, harapan, atau sesuatu yang belum selesai.

“Bisa jadi, karena tempat ini pernah digunakan untuk bertapa, meditasi, atau altar sembayang.” Kyoto menimpali.  Ia menyentuh dinding batu, jemarinya mengelus permukaan kasar. “Tiga ceruk. Tiga makna. Tapi tidak ada yang benar-benar menjelaskan kenapa dibuat seperti ini.”

Leon menatap ceruk terakhir yang baru saja mereka tinggalkan. “Menurutku ceruk yang terakhir berbeda. Terasa lebih dingin.”

“Bukan dingin,” sahut Nadia pelan, “tapi lebih… dalam.”

Kyoto menghela napas. “Jika melihat relief dan adanya lingga yoni, tempat ini sepertinya dulu dipakai untuk bertapa. Tapi…” ia berhenti, ragu.

“Tapi apa?” Leon mendesak.

Kyoto menoleh, tatapannya serius. “Tidak semua yang masuk ke sini kembali dengan perasaan yang sama. Aku yakin saat ini pun perasaan kita masing-masing berbeda”

Leon tersenyum miring, mencoba menepis ketegangan. “Tapi sejauh ini aku tidak mendengar sebuah legenda yang misterius.”

Nadia menggeleng pelan. “Mungkin hanya peringatan agar berhati-hati. Karena bisa jadi tempat ini sengaja dibangun sebagai tempat ibadah.”

Leon terdiam, menutup mata sejenak, mengingat sensasi di ceruk terakhir, tidak ada hening yang terlalu pekat, juga tidak ada kehadiran sesuatu yang menunggu.

“Kalau begitu,” katanya perlahan, “apa yang sebenarnya ditinggalkan di sini?”

Nadia menatap ke dalam goa, dalam, seolah mencoba melihat sesuatu yang tak kasat mata. “Mungkin bukan sesuatu yang ditinggalkan …”

Kyoto menyambung, suaranya hampir berbisik, “Goa ini memang tidak sebesar goa-goa yang sudah terkenal, tapi sekecil apapun peninggalan masa-masa lalu tetaplah menjadi bukti dan cerita tersendiri bagi kita. Tugas kita untuk menjaga dan memelihara agar sekecil apapun jejak yang ditinggalkan, tidak terhapus dengan mudah seiring jaman yang berubah. Dan bukti itu adalah sesuatu yang memanggil kita untuk kembali lagi.”

Leon mengangguk. Untuk sesaat ia merasa melihat bayangan bergerak di salah satu ceruk, tapi kemudian menepis dengan perasaan getir.

“Baiklah, aku rasa cukup, kita kembali ke mobil,” kata Kyoto cepat, kali ini tanpa nada bercanda.

Nadia tidak membantah. Leon pun mengangguk dan mengikuti dengan langkah lebar. Sekali lagi Leon menoleh, matanya mengikuti pandangan Kyoto. Di balik ceruk yang tidak rata, seperti ada berpasang mata yang mengintip dari celah sempit yang hampir tak terlihat di antara relief dan pahatan. Nadia berusaha menjajari langkah Leon.

Sebelum masuk ke mobil, Leon menatap ke arah goa sekali lagi, lalu tersenyum tipis. “Kamu benar, di tempat seperti ini selalu ada hal-hal yang memang hanya bisa dirasakan, bukan dimiliki.”

“Tapi itu bukan tentang goa,” potong Nadia dengan tatapan menggoda. Leon mengedikkan bahu, lalu tersenyum. Sebelah tangannya merangkul bahu Nadia, spontan tapi sopan dan hangat.

Melukis Jejak

2. Candi Abang, Menunggu Orang Yang Tepat

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

Aku

Aku

Rindu

Rindu

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

Antologi KompaK’O

Random image