Setelah sampai di butik Boby, Dokter Dana langsung pulang. Silvia tidak mau diantar sampai ke dalam.
Boby menghampiri Silvia yang masih berdiri di depan butiknya.
“Hei, Sil. Ada apa? Kok bengong? Pulang santai berdua malah bengong kayak kesambat setan. Apa lu gak berhasil bikin Pazel cemburu? Atau malah lu yang cemburu?”
“Ah gak kok, Beb. Ngapain gua cemburu. Yang ada dia sama keluarga dia yang cemburu. Dan mantan ibu mertua gue pingsan di tempat melihat gue jalan sama Dokter Dana.”
“Aaaw! Berita ini yang gue tunggu dari tadi.” Boby melonjak dan memeluk Silvia.
“Terus, terus, gimana lagi? Cerita dong sama gue,” rengek Boby seraya mengguncang bahu Silvia.
“Lu nawarin gue masuk dulu, kek!”
“O, iya. Mari, mari, Sayangku. Aku gak sabaran mau dengar cerita lu. Kita ke ruangan gue, ya.”
Boby menggiring Silvia ke dalam butiknya.
Begitu sampai di ruangan Boby, mereka langsung duduk di sofa berhadap-hadapan.
“Beb. Kayaknya gue mau balik dulu. Gue lagi berhadap-hadapan hari ini. Kepala gue pusing. Gue mau istirahat dulu. Soalnya nanti malam juga ada pertemuan keluarga gue, Beb.”
“Lah. Tadi lu yang ngajak gue masuk. Katanya lu mau cerita ama gue. Gimana, sih?” sungut Boby merajuk.
“Sory, Beb. Tapi gue lagi malas cerita hari ini. Lain kali aja ya, Beb?” Silvia menatapnya lesu.
“Ya sudah, kalau emang gak mau cerita, jangan dipaksakan. Kita bisa bahas ini lain kali.”
Meski pun dia tak yakin akan ada waktu lagi buat dirinya, karena sahabatnya itu sebentar lagi akan menjadi bos sebuah perusahaan besar dan juga akan menikah lagi. Boby merasa sahabatnya sedang dalam dilema saat ini.
Dia tidak mau memaksanya untuk bercerita demi kesenangannya sendiri.
***
Hari berangsur malam. Matahari sudah mulai tenggelam ditelan malam. Tepat jam tujuh malam, Silvia bersama keluarganya berangkat menuju restoran favorit Pak Herman.
Kebetulan di sana sudah ada Pak Efendi Kusuma bersama keluarganya. Mereka semua langsung berdiri melihat kedatangan Pak Hermansyah.
“Selamat datang keluarga calon besanku,” ucap Pak Efendi Kusuma seraya memeluk Pak Herman dan kemudian lanjut tangannya di satukan di depan dada dengan sedikit menundukkan kepala kepada Bu Iyes, Silvia dan Tiara.
“O, iya. Bu Herman. Kenalkan ini istri tercinta saya, Sulastri dan ini anak bungsu saya Lily. Kalau Pak Herman sudah kenal dengan mereka,” ucap Pak Efendi dengan tersenyum ramah.
“Mah, ini istrinya Pak Herman dan kedua putrinya Silvia dan Tiara,” lanjut Pak Efendi.
Mereka berpelukan dengan sangat ramah. Kemudian wanita cantik yang terlihat awet muda itu memandang Silvia dengan tatapan berbinar dan senyum yang ramah.
“Jadi ini calon menantu kita, Pa? Cantik sekali Pa,” ucapnya sambil mengusap rambut Silvia dan menyentuh bahunya.
“Iya dong, Ma. Aku gak mungkin sembarangan memilih jodoh untuk anak tersayangku.” Pak Efendi begitu bangga karena istrinya juga sependapat dengannya.
“Mari duduk di samping Mama, Nak. Mulai sekarang, kamu harus terbiasa memanggilku dengan sebutan Mama, ya Sayang? Kamu sudah sangat diterima di keluarga Kusuma.”
“Iya, terima kasih Tante.” Karena belum terbiasa, Silvia pun memanggilnya dengan sebutan Tante.
Tapi Sulastri segera menegurnya dengan lembut. Dia tahu Silvia tidak sengaja, karena ini memang pertemuan pertama mereka.
“No. No. No. Bukan Tante, Sayang. Tapi Mama,” ucapnya dengan sangat ramah seraya menggenggam tangan Silvia.
“Iya, Ma. Ma-maaf, aku belum terbiasa.” Silvia merasa gugup dan jantungnya terasa bergerak agak cepat. Padahal dia baru bertemu dengan calon mertua. Bagaimana jika bertemu dengan anaknya? pikirnya dalam hati.
“Aduh, kok begini, ya,” gumamnya dalam hati.
“Gak apa-apa kok, Sayang. Mamamu dulu juga begitu saat pertama kali bertemu dengan calon mertua. Ya kan, Ma?”
Pak Efendi menggoda istrinya. Namun istrinya tidak marah, malahan dia sangat senang dan pipinya juga merah karena tertawa.
“Papa ini, jangan buka kartu, dong. Kan Mama jadi malu di depan menantu Mama, Pa.” Mereka semua tertawa gembira mendengar selorohan dari Efendi dan istrinya.
Hal seperti itu jarang sekali terjadi jika Efendi dalam jam kerjanya. Hanya di depan istri dan sahabatnya itu dia terlihat humoris. Karena baginya keluarga adalah segalanya.
Herman dan keluarganya merasa sangat bahagia, karena akhirnya putri mereka akan menikah dengan keluarga yang sangat baik dan terpandang.
Yang lebih utama lagi anak mereka mendapatkan keluarga yang sangat menerima kehadirannya.
Mereka sangat bahagia, sampai -sampai mereka lupa bahwa ada seseorang yang harus hadir di acara itu.
Untung Efendi segera menyadari. Dia hendak menelepon Dokter Dana. Namun saat dia mengedarkan pandangan ke arah pintu masuk, senyumnya pun mengambang.
“Akhirnya orang yang dia tunggu datang juga,”
Dokter Dana berjalan dengan gagah dan sorot matanya begitu lembut menatap papanya yang sudah melihat kedatangannya.
Dia meletakkan telunjuk kanannya di bibirnya sebagai isyarat agar papanya tidak memberitahu yang lain tentang kedatangannya.
Papanya pun mengerti. Papanya segera kembali berkelakar untuk mengalihkan pandangan Istrinya dan yang lain.
Tapi saat dia hampir sampai di dekat meja mereka, Silvia mencium aroma parfum Dokter Dana. Dia sangat hafal sekali dengan aroma parfum yang dipakai Dokter Dana.
Seketika jantungnya berhenti berdetak. Dia menoleh ke belakang.
Seorang laki-laki dengan setelan yang rapi menutupi mukanya dengan sekuntum bunga mawar kesukaannya berdiri tepat di belakangnya. Semua orang terdiam. Sedangkan Silvia langsung berdiri berhadapan dengan orang itu. Dia penasaran dengan orang yang membawa bunga itu.









