Silvia heran, karena bau parfum orang yang ada di depannya sama persis dengan parfum yang dipakai Dokter Dana.
Perlahan orang itu menurunkan bunga dari wajahnya. Akhirnya Silvia dapat melihat dengan jelas siapa orang yang ada di hadapannya.
“Dokter Dana? Sedang apa Dokter di sini?” Silvia terpana dan menahan gejolak yang sedang berkecamuk di dadanya.
“Aku di sini untuk bertemu dengan calon tunanganku.”
“Apa? Calon tunangan? Lalu kenapa masih di sini?” Air matanya akhirnya menitik di sudut matanya. Dia tersenyum kecut.
Dokter Dana merasa geli melihat Silvia yang berusaha tersenyum demi menahan tangisnya. Dia tersenyum dan menyerahkan seikat bunga mawar merah ke tangan Silvia.
Silvia heran dan bingung. Dia tidak mau mengambil bunga itu.
Efendi Kusuma datang menghampiri mereka.
“Sudahlah Dana. Kamu jangan mempermainkan calon menantuku lagi. Cukup kali ini saja kamu buat calon menantuku menangis. Jika lain kali kamu membuatnya menangis, kamu berhadapan langsung denganku. Paham kamu!” Efendi Kusuma tersenyum dan membelai bahu Silvia.
Silvia yang tadinya menunduk untuk menyembunyikan air matanya serta menghapusnya, seketika menganga mendengar kata-kata dari Pak Efendi Kusuma.
Darahnya berdesir, rasanya tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Apakah dia salah dengar?
“Tadi Om, bilang apa, Om? Apa saya salah dengar?” alisnya bertaut dan iya mempertajam pendengarannya.
“Hahaha. Tidak sama sekali, Nak. Kamu tidak salah dengar. Dana adalah anak sulung Om. Dialah yang akan Om jodohkan sama kamu.”
Seketika Silvia ternganga, bahkan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Berbanding terbalik dengan Lastri yang tadinya menutup mulutnya yang ternganga sekarang malah tersenyum puas.
“Sekarang, di depan papa dan mamaku dan juga di depan ayah dan ibumu, aku Perdana Kusuma melamarmu untuk menjadi istriku. Apakah kamu bersedia menerima lamaranku?” ucapnya seraya berlutut di hadapan Silvia.
Suasana saat itu begitu romantis. Silvia serasa berada di atas awan. Dia sangat bahagia.
Tanpa menunggu lama, dia segera mengambil bunga yang di persembahkan Perdana dengan senyum merekah. Seketika kedua belah pihak keluarga bertepuk tangan.
Perdana Kusuma berdiri dan memeluk Silvia. Pelukan yang membuat Silvia terasa sangat dibutuhkan. Air matanya kembali menitik. Kali ini atas dasar kebahagiaan yang tak terhingga.
Dia merasa mendapatkan kebahagiaan yang bertubi-tubi dari Allah Yang Maha Esa. Dia tidak bisa menahan rasa harunya hingga dia menangis tergugu.
“Sudah-sudah jangan menangis lagi. Nanti aku dihajar sama Papa. Kamu mau lihat aku babak belur dihajar Papa, hmm?” Perdana Kusuma menarik badannya dari pelukan Silvia.
Tapi Silvia kembali menjatuhkan badannya ke pelukan laki-laki yang sangat dicintainya itu. Dia menangis karena haru.
Efendi Kusuma, Herman, Sulastri, Iyes, Tiara dan Lily juga ikut terharu melihat kedua orang yang dijodohkan itu ternyata sudah saling mencintai satu sama lain.
Tiara yang dari tadi hanya diam kini mengeluarkan celetukannya.
“Ehem. Ehem. Sudah pelukannya. Di sini masih ada aku sama Lily. Kami masih belum dewasa, nih. Mana tadi gak disebut sebagai saksi lagi sama Kak Perdana.” Tiara pura-pura merajuk.
“Benar itu, tadi kakak cuma bilang di depan Papa sama Mama dan ayah dan ibu kak Silvia aja. Sementara kita berdua gak disebut. Emang kami ini kucing apa?” celetuk Lily yang tak kalah merajuknya.
Seketika gelak tawa pecah di ruangan itu.
“Maaf ya, adik-adikku yang manis. Tadi kakak sengaja, eh maksudnya gak sengaja,” ucap Perdana seraya menyatukan kedua tangannya di dada bidangnya.
“Tu kan, kakak bilang tadi sengaja, baru gak sengaja,” rengek Lily.
“Iya. Dan kata-kata yang jujur itu adalah kata-kata yang pertama diucapkan,” Tiara pun kembali mengompori Lily.
Sementara kedua pasang orang tua mereka hanya tertawa menyaksikan tingkah anak-anak mereka.
“Sudah-sudah, Silvia, Perdana sekarang ayo duduk, kita makan dulu,” ucap Efendi seraya menarik sebuah kursi untuk di duduknya.
Mereka pun duduk di tempat mereka duduk sebelumnya. Terkecuali Tiara. Dia pindah ke samping Lily, karena tempat duduknya yang sebelumnya sekarang di duduki Perdana.
Setelah mereka semua duduk, Efendi pun bercerita.
“Sebelum kita makan, aku mau cerita sedikit tentang Silvia dan Perdana.”
Silvia dan Perdana saling pandang.
“Tentang kami? Ada apa, Pa?” tanya Perdana menautkan kedua alisnya dengan sorot mata yang lembut namun penuh selidik.
Seketika Lily dan Tiara serempak meledek mereka.
“O, jadi sekarang sudah kami ya, Kak?” tanya mereka sambil ketawa.
“Hush, apaan kalian ini. Jangan diledeki terus kakak kalian,” ucap Sulastri menahan tawanya.
“Maaf, Ma,” ucap Lily seraya menutup mulutnya dengan tangan kanan.
“Jadi begini. Waktu Kaila hampir tertabrak, kebetulan Papa lewat. Papa gak sengaja melihat Silvia berlari ke tengah jalan untuk menyelamatkan Kaila. Padahal waktu itu Papa lihat dia juga kesakitan karena terjatuh dari ojek. Kemudian Papa menyuruh anak buah Papa untuk menyelidiki penyebab Kaila bisa sampai ke tengah jalan. Dan kamu tahu penyebabnya?”
“Apa, Pa?” tanya Perdana yang sudah tidak sabar menunggu jawaban papanya.
Papanya mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah video kepada Perdana.
“Sebaiknya nanti saja kamu lihat video yang papa kirim ke ponselmu. Lanjut tentang kalian berdua lagi. Papa menyuruh anak buah Papa untuk mengikuti aktivitas kalian berdua. Dan karena Papa melihat kalian saling mencintai akhirnya kami berdua sepakat untuk menjodohkan kalian berdua.”
“Itu berarti Ayah juga terlibat dalam rencana perjodohan ini?” tanya Silvia ke arah ayahnya.
“Uhuk, uhuk, eh itu, sebenarnya, itu ide Bang Efendi. Papa cuma ikut sedikit.”
“Eh. Jangan ngelak kamu. Kamu juga kan sengaja waktu itu. Bahkan kamu juga ikut mengawasi Silvia, kan?”
Kedua lelaki dewasa itu malah saling tuduh. Yang satu tidak ingin disalahkan sendiri, yang satunya lagi tidak ingin dibawa-bawa.










