3 hari kemudian…
Di depan gudang persenjataan Kastil Kalimnos, Hizir Reis, Şahin Kılıçoğlu, dan Niko sudah dalam posisi siap memanah tong yang berisi bubuk mesiu di beberapa titik vital. Gudang makanan, penginapan para prajurit, dan kandang kuda adalah target utama sasaran Hizir Reis. Dengan satu aba-aba darinya, anak panah itu dilesatkan.
“Whusss… Baamm!” Anak panah api Hizir tepat menancap tong yang disimpan di gudang makanan.
Menyusul Şahin Kılıçoğlu,
“Whusss… Baamm!” Bidikan Şahin pada tong yang disimpan di penginapan para prajurit.
Begitu pun Niko,
“Whusss… Baamm!” Tembakan Niko meluluhlantakkan kandang kuda.
Tiga tempat itu terbakar hebat, Kastil Kalimnos terguncang.
Pietro, Komandan Marco, Şahbaz, dan Antuan yang berada di dalam kastil terkejut bukan main.
***
3 hari yang lalu…
Hizir Reis masuk ke dalam kapal milik Kılıç Bey, atas saran Şahin. Ia mulai duduk di deckhouse menenangkan diri, di tengah hati yang remuk redam. Ia duduk sendiri, menyuruh Hamza menunggu di luar—yaitu di deck kapal. Ia berdiam diri di dalam kapal hingga hampir petang, dan Hamza masih berada di deck kapal menjaga Hizir. Selepas itu, tibalah Darwis Effendi.
“Hamza.” Darwis Effendi memanggilnya dengan suara pelan.
Hamza sedikit terkejut, dan hendak memanggil Hizir. Akan tetapi, Darwis Effendi menghentikannya dengan memberi kode agar diam. Maka, Darwis pun masuk ke dalam deckhouse.
Hizir tak menyadari kedatangan Darwis. Ia tenggelam dalam lamunannya begitu dalam. Agak lama Darwis Effendi berdiri dekat Hizir, namun Hizir tetap tak menyadarinya.
“Hizir…” Darwis memanggilnya dengan suara pelan.
Sontak, Hizir terkejut.
“Da.. Darwis Effendi?” Balas Hizir sedikit tercekat.
“Bangunlah, nak. Aku tahu kesedihanmu. Tapi, kau harus bangkit.” Kata Darwis Effendi memberi semangat, sambil mengulurkan tangannya kepada Hizir.
Hizir pun berdiri, meraih tangan Darwis Effendi.
“Kau harus mengatakan kepada İshak Ağa dan para levent. Memberi kekuatan kepada mereka. Sebab, tugasmu sudah jelas. Akan tetapi, jika kau lemah seperti ini, bagaimana kau akan membangun kekuatan dalam menghentikan kezaliman.” Lanjut Darwis Effendi memberi nasihat kepada Hizir.
Maka, Hizir pun merenungi kata-kata Darwis Effendi. Hatinya membenarkan perkataan itu, menatap wajah Darwis Effendi, dan mengumpulkan tekad menjadi sebuah keberanian.
Di Alexandria, diam-diam Isabel bertolak ke Lesbos menggunakan perahu miliknya untuk memberitahu Oruç. İsabel belum mengetahui apa yang telah terjadi dengan Oruç Reis. Dalam ketidaktahuannya, dirinya ingin meminta maaf kepada Oruç dan segera memperbaiki kelalaiannya. Isabel pun segera berlayar menuju Pulau Lesbos.
Di Ibu Kota Utsmani, İshak Ağa yang membawa Bülbül, Müneccim, Gülletopuk, Yareli dan Kandiyeli berlayar menyusul Piri Reis. Sementara, Horozcu, Demirli Ali, dan Çoban sedang melakukan perdagangan di Andalusia sambil menyamar. Mereka diperintahkan oleh Piri Reis, karena ia mendengar umat Islam disana tengah dijajah oleh penguasa Nasrani yang zalim.
Beberapa waktu setelah waktu zuhur, Isabel sampai di Lesbos. Ia menuju rumah Oruç. Akan tetapi, yang ia temui bukanlah Oruç, melainkan puing-puing rumah dari si janggut merah itu yang telah hangus. Isabel mematung sendiri, ia begitu tak percaya oleh apa yang ia lihat.
“O.. Oruç, apa yang telah terjadi padamu?” Isabel bertanya sendiri dalam ketidakpercayaannya.
Tak lama, tiba Şahin Kılıçoğlu menyapa Isabel.
“Isabel.”
Suara Şahin memecah keheningannya.
“Şahin? Apa yang terjadi dengan Oruç?” tanya Isabel yang tak percaya melihat kondisi rumah Oruç.
Şahin pun terdiam. Ia bingung harus berkata apa kepada Isabel.
“Şahin! Aku bertanya padamu, apa yang terjadi dengan Oruç?” Isabel bertanya sedikit keras.
“Isabel, turut berduka cita.” Jawab Şahin lirih.
“Tidak, tidak, tidak, Şahin. Kau tak serius berkata itu, Şahin.” Ucap Isabel yang mulai meneteskan airmata.
“Kau temui saja Hizir Reis. Ia berada di kapal ayahku, dan kata Hamza disana ada Darwis Effendi.” Jawab Şahin yang tak sampai hati menjelaskan lebih dalam kepada Isabel.
Isabel pun pergi menuju kapal milik Kılıç Bey. Siang itu, suasana begitu hening, bahkan suara angin pun terdengar pilu.
***
Setelah İshak Ağa dan para levent bertemu dengan Piri Reis di mediterania, mereka memutuskan untuk bertolak ke Pulau Lesbos. Pada saat bertemu (Piri Reis berpindah kapal ke kapal yang ditumpangi oleh İshak Ağa), mereka berbincang-bincang, dan İshak Ağa menjelaskan perihal pertemuannya dengan Sultan Bayezid II. Piri Reis pun memberi ucapan kepada İshak Ağa “Semoga menjadi keberkahan, Ağa.” Maka, Piri Reis pun ikut menuju Lesbos bersama İshal Ağa, untuk mendukung İshak Ağa dan memberitahu kepada Oruç dan Hizir (red. Piri Reis belum mengetahui berita tentang Oruç, dan kekacauan di Pulau Lesbos.)
Di tengah keheningan Pulau Lesbos, Şahin Kılıçoğlu memiliki tiga ksatria yang cerdik. Ketiga ksatria itu, sedang ditugaskan oleh Şahin sebagai mata-mata di Pulau Rhodes. Mereka adalah Hasan, Abdurrahman, dan Mustafa. Mereka masuk ke Kastil Archangelos sesuai arahan Hizir Reis. Kini, sang adik si janggut merah telah bangkit perlahan.
Meski tak mudah, akhirnya mereka mampu masuk ke Kastil Archangelos sebagai penyusup. Mereka bertiga menyamar sebagai pelayan dengan meringkus sementara pelayan yang asli. Salah satu menjaga pelayan yang asli, sementara dua di antara mereka menyajikan hidangan yang telah dipersiapkan oleh pelayan yang asli untuk Poseidon, Pietro dan beberapa orang di ruang makan. Mereka bertiga hanya ditugaskan untuk mencari informasi penting, agar pembalasan Hizir Reis berjalan dengan mudah. Mereka pun bekerja dengan penuh waspada.
Senja menjelang malam, İshak Ağa, Piri Reis, dan para levent telah sampai di Pulau Lesbos. Kedatangan mereka diketahui oleh Hizir, dan Hamza ditugaskan untuk menyambut mereka.
“İshak Ağa, Piri Reis, dan para levent semuanya, kalian sudah ditunggu oleh Hizir Reis di kapal milik Kılıç Bey.” Sambut Hamza.
“Ada apa Hizir berada disana?” Tanya İshak Ağa.
“Hizir Reis akan menyampaikan sebuah berita.” Jawab Hamza.
“Ya Allah, semoga kabar baik.” Balas İshak Ağa.
Mereka pun menuju kapal milik Kılıç Bey. Langkah İshak Ağa melangkah ke kapal itu, akan tetapi mulai timbul perasaan yang tidak enak. Pada saat sampai di depan kapal, langkah İshak Ağa terhenti, pandangannya menatap tajam kapal itu. Ada sebuah perasaan, tapi tidak tahu perasaan apa yang dirasakan oleh İshak Ağa.
Sebuah berita yang akan disampaikan oleh Hizir, adalah berita yang akan menentukan perjalanan sejarah, dan itu dimulai dari hari ini.









