Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 32

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 32

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 33 of 33 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Silvia yang melihat kedua orang itu bertengkar seperti anak kecil pun tersenyum dan berkata.

“Tidak apa-apa, Om. Ayah. Aku malah senang di perhatikan oleh dua orang ayah.” Seketika ucapan Silvia membuat mereka berhenti bertengkar.

“Benar kamu tidak marah, Nak?” tanya Efendi.

“Syukurlah kalau kamu sudah tidak marah lagi. Tapi sekarang Om yang marah sama kamu.”

“Marah kenapa, Om?” tanya Silvia heran.

“Marah karena kamu masih menyebut Papamu ini dengan sebutan Om.”

Silvia pun tersipu malu. Dia tersenyum kemudian menyebut Efendi dengan sebutan Papa dengan gugup.

“Nah, gitu dong, Nak. Mulai sekarang kamu biasakan memanggil kami Mama dan Papa.”

Silvia merasa diterima di keluarga calon tunangannya. Hal yang belum pernah dirasakannya di pernikahan pertamanya.

“Dan Perdana juga harus memanggil kami dengan sebutan Ayah dan Ibu,” ucap Herman seraya tersenyum.

“Tentu, Ayah. Ibu,” ucap Perdana dengan lugas dan tidak canggung sama sekali.

Malam ini Silvia tidak bisa tidur. Wajahnya selalu mengukir senyum semenjak pulang makan malam yang sangat berkesan tadi.

Dia tidak menyangka orang yang dijodohkan dengannya ternyata adalah orang yang sudah mencuri hatinya.

Dia tidur telentang di tempat tidurnya menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya tetapi wajah sang dokter tetap terpampang di pelupuk matanya.

Dia tersenyum sendiri menikmati indahnya kebahagiaan. Senyumnya memudar karena mendengar suara panggilan dari ponselnya.

Setelah dia melihat nama penelepon di layar ponselnya senyumnya kembali merekah, sinar matanya menyiratkan kebahagiaan yang mendalam.

Dia segera menggesek layar ponselnya, dia mendengarkan suara orang yang ada di ujung ponsel itu dengan sangat serius.

Satu kata yang diucapkan orang itu mampu membuat jantungnya bergetar hebat.

“Sayang,” ucap Dokter Dana dengan lembut di ujung ponselnya.

“Iya, Dok.” Kali ini Silvia bicara dengan gugup. Tidak seperti sebelumnya yang lancar, bahkan sebelumnya dia berani berdebat dengan Dokter Dana.

“Kok gugup sih, sama calon suami sendiri?” goda Dokter Dana. Dia mengetahui kegugupan Silvia dari getaran suaranya.

“Ah …. Nggak kok, Dok.”

“Jangan panggil Dokter lagi, dong. Panggil Mas atau Bang, gitu, atau Sayang juga boleh,” rengeknya.

“Aku panggil Mas aja boleh, Dok?”

“Sebenarnya aku maunya dipanggil Sayang. Tapi, ok, lah. Mas juga tidak buruk, kok,” ujarnya lembut.

“Sayang?” panggil Dokter Dana kembali. Karena Silvia hanya diam seribu bahasa.

Panggilan itu sukses lagi membuat jantung Silvia bergetar hebat.

“Ya, Mas,” jawabnya tersipu.

“Apa kamu merindukanku?”

“Nggak,” goda Silvia.

“Masa? Baiklah. Kalau gak rindu, aku tutup saja, ya?” Dokter Dana pun balas menggodanya.

“Jangan dong, Mas,” ucap Silvia cepat dan segera duduk dengan refleks. Setelah itu dia pun malu sendiri.

“Jadi?”

“Jadi apa, Mas?”

“Kangen gak sama aku?”

“Iya,”

“Iya apa?” godanya lagi.

“Iya, kangen.”

“Terima kasih, Sayang. Aku kangen berat sama kamu. I love you.”

“I love you, too,” balas Silvia yang tersipu malu.

“Sudah malam, Sayang. Sebaiknya kamu tidur sekarang. Muaaah. Assalamualaikum,”

“Waalaikummussalam, Mas.”

Setelah menerima telepon dari Dokter Dana, Silvia serasa melayang di atas awan bermandikan bunga-bunga.

Dia memejamkan matanya. Dia ingin segera terbang ke alam mimpi untuk bertemu dengan Dokter Dana.

***

Setelah menelepon Silvia, Dr. Dana teringat dengan video yang dikirim Papanya tadi. Dia segera memeriksa dan menontonnya.

Alangkah terkejutnya dia dengan apa yang dilihatnya. Sebenarnya dia sudah tahu kalau Rani bisa melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.

Namun sedikit pun dia tidak menyangka perempuan yang lemah lembut keibuan itu mampu melakukan hal yang sangat jahat seperti itu.

Video itu menunjukkan bagaimana wanita itu menggendong Kaila dan melepaskannya setelah dia celingak-celinguk melihat kanan kiri, memastikan tidak ada orang yang melihat aksinya.

Dia terlihat sedang mengarahkan Kaila ke tengah jalan. Dan Kaila pun menurutinya. Kemudian wanita itu berlari ke dalam lingkungan Sekolah Taman Kanak-kanak lagi.

Hingga terjadilah insiden itu. Wanita itu pun pura-pura tidak melihat Kaila. Hingga ada seseorang yang bilang kecelakaan yang terjadi di jalan depan sekolahan itu karena menghindari seorang anak kecil.

Lalu mereka berdua berlari ke arah kerumunan orang-orang yang menyaksikan insiden itu.

“Ya Allah. Betapa liciknya perempuan ini. Dia sangat berbahaya. Aku tidak akan mengizinkan dia lagi untuk dekat-dekat dengan putriku.”

Dokter Dana mencengkeram ponselnya.

“Untung saja insiden ini yang telah mempersatukanku dengan Silvia, dan Kaila juga tidak terluka. Andai saja terjadi apa-apa dengan Kaila, aku tidak akan membiarkanmu bisa bernapas dengan tenang!”

Dia benar-benar marah. Emosinya memuncak. Tapi dia segera berucap astaghfirullah, mengingat hikmah dari kejadian itu.

***

Keesokan paginya, di Perusahaan Agung Perkasa sedang ada pengumuman dan undangan terbuka kepada seluruh karyawan.

Bahwa akan diadakan acara pertunangan pewaris tunggal Perusahaan Agung Perkasa dengan pewaris dari Group Kusuma Jaya.

Acara itu boleh dihadiri seluruh karyawan dan semua anggota keluarganya. Acara tersebut akan diselenggarakan di hotel bintang lima.

Pazel menjabat sebagai kepala keuangan di perusahaan Agung Perkasa merasa harus berpartisipasi dalam acara yang diadakan di perusahaan itu. Apalagi itu adalah acara penting bagi perusahaan tempat dia bekerja. Bahkan dia juga mendapatkan undangan khusus, karena dia bukan karyawan biasa. Rencana bulan madu yang sudah disepakati dengan istri barunya terpaksa dia undur demi menghadiri acara pertunangan orang penting perusahaan.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 31

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image