Home / Genre / Chicklit / 21. Di Mana Pria Itu?

21. Di Mana Pria Itu?

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
This entry is part 22 of 22 in the series Sebiru Langit Casablanca

“Apa yang akan kau lakukan, Nak?”

Youssef tersenyum sinis. “Ibu tidak perlu tahu apa yang akan aku lakukan padanya. Yang jelas, dia harus membayar semua penderitaan yang selama ini ibu alami. Aku takkan pernah membiarkan pria itu membuat ibu menderita lagi, Bu. Aku berjanji.”

Lamyya  kian mendekat. Ditatapnya lekat-lekat kedua mata putranya bergantian. Mata itu- mengingatkannya kembali pada cintanya yang kini entah di mana. Akan tetapi, dari perkataan Youssef bisa diambil kesimpulan jika putranya telah mengetahui siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.

Leon d’Oro.

Seorang pengusaha kaya raya dan juga bagian dari mafia yang berhasil menguasai beberapa jalur perdagangan strategis antar benua. Tentunya bukan orang sembarangan. Bagaimana jika nanti Youssef benar-benar nekat ingin membuktikan bahwa dia adalah anak kandung dari Leon. Sedangkan kini, Leon telah memiliki keluarga lain. Bara dendam itu kian menggunung dalam hati Youssef.  Bara itu akan padam jika dia telah berhasil memberikan pelajaran kepada Leon.

“Nak, tidak baik kau simpan dendam dan kemarahan pada dirimu. Apa yang akan kau lakukan nanti padanya? Aku mohon, jangan ambil resiko dan pertaruhkan nyawamu untuk itu. Tak ingatkah kau pada ibumu ini? Bagaimana jika nanti kau celaka atau bahkan masuk penjara? Pikirkan baik-baik.  Kita tahu siapa pria yang akan kau hadapi itu, dia adalah  pria yang sudah jiwamu. Ingatlah itu!”cegah Lamyya, menghalangi keinginan putranya untuk membalaskan sakit hatinya kepada seseorang.

Dia terduduk lemas di sofa, menyandarkan tubuhnya yang penat sejak beberapa hari ini.

Namun, sepertinya pria muda berahang keras itu tetap pada pendirian. Tak mudah goyah. Dia ingin sekali menjumpai pria yang telah menyengsarakan mereka.

“Tidak, Ibu. Tidak! Aku tidak bisa!” pekik keras Youssef menembus pertahanan rongga dadanya.

Youssef lebih mendekat ke arah sang ibu. Bersimpuh di depannya.

Tak ada yang lain di hati Youssef, selain menemuinya.

Meminta pertanggungjawabannya.

Bahkan jika mungkin dia akan meminta nyawanya sebagai tebusan, karena selama ini telah menjadi onk yang harus disingkirkan.

Youssef meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya. Lamyya dengam lembut membelai rambut putranya penuh kasih sayang. Air matanya berlinang. Isaknya tertahan, tak ingin putranya tahu jika ia tengah menghadapi perang tak kentara di lubuk hatinya.

Youssef bisa merasakan jika ibunya menangis. Ia pun ikut berlinang air mata. Selama bertahun-tahun ia hanya ingin tahu bagaimana wajah pria yang ternyata ayah kandungnya itu. Lewat cerita dari sang kakek yang telah tiada, tetapi ibunya tak pernah menceritakannya.

“Nak, ini juga salahku. Bukan hanya dia,” ucap Lamyya bergetar lirih.

Hati Youssef tersentak mendengar ucapan Lamyya. Dia mendongak. Menatap kedua mata lembut itu dalam-dalam. Ada gurat penyesalan dan cinta yang masih tersimpan di sana.

Ya.

Youssef tahu jika wanita itu akan membelanya.

“Aku tahu Ibu masih mencintainya, bukan?” selidik Youssef. Dia bangkit, mengusap matanya, dan duduk di samping ibunya.

“Jangan mengelak, Ibu. Aku tahu hal itu. Ibu takkan rela jika aku menyakitinya, bukan begitu?” tambah Youssef dengan menahan genuruh di dada yang tak kunjung reda.

Lamyya diam. Matanya masih berkaca-kaca.  Jujur saja apa yang dikatakan Youssef adalah benar. Dia masih mencintai pria yang telah meninggalkan dan membagi cintanya. Dia takkan tega jika Youssef akan balas dendam padanya. Bagaimanapun, dia adalah ayah kandung Youssef, yang telah mengukir jiwa raga pemuda itu hingga kini dia tumbuh dewasa. Meski Lamyya membesarkannya sendiri.

“Mengapa diam, Bu? Benar, kan, apa yang kukatakan? Ibu masih mencintai pria tak bertanggungjawab itu?” cecar Youssef.

Isak tangis Lamyya kian menjadi melihat putranya. Dia tidak ingin ada pertumpahan darah antara mereka.

“Nak, tolong, jangan lakukan! Dia orang kuat yang memiliki kekuasaan. Kau akan celaka,” cegah Lamyya.

“Aku tidak peduli! Jangan halangi aku lagi, Bu!”

Youssef berdiri, melangkah cepat tanpa menoleh ke arah Lamyya lagi yang coba mengejarnya.

“Youssef…jangan, Nak! Jangan…!”

Youssef sudah tak tampak lagi. Mobil yang ia kendarai sudah tidak kelihatan. Tubuh Lamyya luruh seletika, membayangkan apa yang akan terjadi.

Beberapa anak yang ada di panti asuhan itu segera menenangkan dan membawa Lamyya masuk. Mereka menjaganya layaknya ibu mereka sendiri.

Youssef mengendarai mobilnya menuju salah satu tempat yang selama ini menjadi pelarian kekesalannya. Di sana, dia tumpahkan semua amarah, kesakitan, kebencian, bercampur menjadi satu.

“Di mana kau, Leon? Aku takkan tinggal diam. Aku takkan membiarkanmu bernapas lega sebelum memohon dan menangis di depan ibuku. Tunggu saja. Ha ha ha ….”

Tawa Youssef bukanlah tawa kemenangan.  Tawa itu adalah aroma kesedihan atas dirinya bersama sang ibu dan juga kebencian pada sosok Leon d’d’Oro.

Sebiru Langit Casablanca

0. Jangan Menangis, Ibu!

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image