Home / Genre / Fiksi Sejarah / 15. Pembalasan Hizir yang Mengguncang Kastil Kalimnos (Bagian 2)

15. Pembalasan Hizir yang Mengguncang Kastil Kalimnos (Bagian 2)

Khairuddin Barbarossa 1600x900
This entry is part 16 of 16 in the series Khairuddin Barbarossa

İshak Ağa, Piri Reis, dan para levent masuk ke kapal untuk menemui Hizir Reis. Akan tetapi, yang masuk deckhouse hanya İshak Ağa dan Piri Reis. Sementara para levent menunggu di dek kapal. Pada saat di dalam, yang menyambut mereka bukanlah Hizir, melainkan Darwis Effendi.

“Darwis Effendi? Di mana Hizir?” tanya İshak Ağa.

Seketika Hizir keluar dari kamar deckhouse dengan wajah serius. Tatapannya tajam, dan sikapnya penuh ketegasan.

“Ağa, Oruç Reis telah menyusul İlyas. Janganlah kau tangisi kepergian Oruç, begitu pun kau, Piri Reis,” kata Hizir yang telah melepaskan duka.

“A … Apa maksudmu, Hizir?” tanya İshak Ağa lagi yang belum memahami perkataan Hizir.

“Oruç Reis telah diserang. Ia bersama Despina sedang berada di dalam rumah, pada malam—dua hari yang lalu. Rumahnya terbakar habis dihancurkan oleh Pasukan St. Jon of Rhodes dengan cara diledakkan dengan anak panah api. Inilah anak panahnya. Oruç dan Despina ikut terbakar,” kata Darwis Effendi membantu menjawab pertanyaan İshak Ağa.

Sebelum İshak Ağa berbicara, Hizir langsung menyambar kata-kata dari Darwis Effendi.

“Dan sekarang bukan waktunya berduka, melainkan waktunya pembalasan.”

Di tengah perasaan yang tak karuan, Piri Reis membalas ucapan Hizir,

“Kau yang menjadi komandan ekspedisi balas dendam ini. Mereka, para levent Oruç Reis berada di bawah komando-mu. Dan aku akan berbicara dengan İshak Ağa terlebih dahulu,” kepada Hizir Reis.

“Kita tidak ada waktu lagi, Şahin telah mengirim tiga ksatrianya menyusup ke Pulau Rhodes. Kita akan bergerak setelah mendapatkan informasi dari Hasan, Abdurrahman, dan Mustafa,” balas Hizir Reis.

Piri Reis mengajak İshak Ağa dan Darwis Effendi menuju perpustakaan Lesbos. Sementara para levent, Şahin, dan Hamza bersama Hizir Reis di deckhouse untuk membicarakan strategi pembalasan.

***

Di deckhouse, Hizir Reis langsung menetapkan posisi.

“Şahin Bey, bagaimana informasi dari Pulau Rhodes?” Tanya Hizir Reis.

“Aku belum mendapatkan informasi, tapi aku akan ke Pulau Symi untuk mencari informasi pergerakan Antuan,” jawab Şahin.

“Baiklah, Şahin. Terima kasih atas bantuanmu,” balas Hizir.

Maka, Şahin pun langsung berangkat menuju Pulau Symi bersama Hamza.

“Para levent! Kita akan tunggu informasi dari Şahin sambil melihat kemungkinan di Pulau Rhodes,” kata Hizir sambil membawa peta.

“Reis! Kita tidak bisa menunggu. Mari serang saja Pulau Rhodes sebagaimana mereka menyerang Oruç Reis,” balas Gülletopuk.

“Bagaimana kau akan menyerang pulau yang begitu kuat?” tanya Hizir Reis.

“Kita bisa minta bantuan Utsmani,” jawab Gülletopuk.

Hizir memikirkan saran Gülletopuk. Setelah berpikir lama, Hizir memutuskan,

“Kali ini kita tidak bisa meminta bantuan Utsmani. Sebab, Sultan Bayezid tidak seperti ayahnya yang sangat tegas. Sultan Bayezid lebih cenderung pada negosiasi. Jadi, mari kita tunggu Şahin Bey.”

Sementara Şahin bersama Hamza—sebelum ke Pulau Rhodes, ia ke salah satu desa terpencil dahulu di Pulau Lesbos.

“Kita hendak kemana, Beyim?” Tanya Hamza kepada Şahin.

“Kita akan bertemu seseorang, Hamza,” jawab Şahin.

“Kita akan bertemu siapa, Beyim?”

“Kau akan tahu sendiri nanti.”

Mereka pun berjalan dengan menunggang kuda menuju desa nelayan di ujung barat Pulau Lesbos yaitu, Sigri.

***

Keesokan harinya di Lesbos, akhirnya Hizir Reis dan para levent mendapatkan kabar dari Şahin dan Hamza dengan membawa surat yang dibawa oleh Hasan.

“Aku telah menunggu seharian di Pulau Symi kabar dari Pulau Rhodes bersama Hamza. Inilah surat yang dibawa Hasan, Reis,” kata Şahin kepada Hizir Reis.

“Akhirnya, terima kasih, Şahin.” Balas Hizir.

Hizir Reis pun membaca surat itu yang isinya:

“Gerakan penyerangan rumah Oruç Reis diinisiasi oleh Pietro. Ia adalah pemimpin Kastil Kalimnos yang bertekad untuk menghancurkan Utsmani. Disana ada Şahbaz dan Antuan. Esok hari mereka akan menuju Kastil Kalimnos. Pembalasan bisa dimulai dari sana.”

Setelah membaca surat itu, Hizir bergumam,

“Pietro … Pietro. Aku akan menemukanmu, Pietro.”

“Bülbül, Yareli, Gülletopuk, kalian menuju Kastil Kalimnos sekarang, ajak Niko. Karena ia tahu cara menghancurkan kastil, dan Yareli yang pernah ke Kastil Kalimnos pasti tahu letak jalan rahasia” Kata Hizir memberi instruksi kepada ketiga levent.

“Siap, Reis,” jawab mereka bertiga.

“Ayo!”

“Demirli Ali, Kandiyeli, Horozcu, kalian ke gudang bawa campuran minyak, dan bawa menggunakan kereta menuju Kastil Kalimnos. Kalian buat campuran itu disana dan celupkan pada mata anak panah. Ayo!” Lanjut Hizir.

“Siap, Reis.”

“Dan, Salih, Çoban, Müneccim, kalian ikut denganku menyusup lewat terowongan itu setelah diberi jalan oleh Bülbül, Yareli dan Gülletopuk,” kata Hizir Reis lagi.

“Siap, Reis.”

“Kita harus sampai ke Kastil Kalimnos, sebelum mereka tiba lebih dulu.”

“Siap, Reis.”

“Jika kita tak mampu membalas darah Oruç, semoga pedang menusuk dada kita!” Hizir Reis memberi semangat kepada para levent.

“JIKA KITA TAK MAMPU MEMBALAS DARAH ORUÇ, SEMOGA PEDANG MENUSUK DADA KITA!” Para levent mengikuti kata-kata Hizir sebanyak tiga kali.

Setelah itu, Hizir melangkah keluar menuju kandang kuda dari deckhouse dan diikuti oleh para levent. Şahin dan Hamza pun yang berada di deck, mengikuti langkah Hizir dari belakang, menuju kuda-kuda mereka. Tak terlewatkan juga, Piri Reis menyusul dari perpustakaan dengan menunggang kuda, yang kebetulan tidak jauh dari dermaga.

Mereka memacu kuda dengan kencang, mengikuti derap langkah kuda Yareli menuju Kastil Kalimnos melalui jalan pintas.

Sesampainya di Kastil Kalimnos, kuda-kuda yang ditunggangi mereka diikat di hutan dan dijaga oleh salah satu pelayan Şahin Kılıçoğlu. Setelah itu, Hizir Reis, Salih, Çoban, dan Müneccim menuju terowongan dan melumpuhkan para penjaga dengan melemparkan belati—masing-masing memegang dua belati.

“Whusss…. Wuusss… Tak… Tak!” Belati-belati itu tepat menancap dada para penjaga.

Saatnya masuk ke Kastil Kalimnos!

Khairuddin Barbarossa

4. Pembalasan Hizir yang Mengguncang Kastil Kalimnos (Bagian 1)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image