Beranda / Genre / Komedi / Cinde Lara: Bab 23

Cinde Lara: Bab 23

Cinde Lara 1600x900
This entry is part 24 of 29 in the series Cinde Lara

Sam dan Zhoya telah merangkak di dalam terowongan selama hampir dua puluh menit. Mereka bisa mendengar suara para penjaga di atas mereka saat penjaga berlarian ke sana kemari mencoba menemukan mereka, tetapi mereka tidak dapat ditemukan, mereka berada di dalam tanah.

Zhoya tidak percaya seseorang benar-benar bisa keluar masuk istana melalui terowongan. Mereka berdua benar-benar gila.

Lututnya sangat sakit, tetapi dia mengikuti langkah Sam. Seluruh terowongan dipenuhi lumpur dan baunya bikin mual. Menjijikkan! Untungnya ia pandai menahan napas.

Akhirnya Sam berdiri lalu mendorong sesuatu yang ada di atas mereka. Tiba-tiba dia bisa merasakan hembusan udara segar dan mulai memanjat keluar. Setelah berhasil memanjat keluar, Sam berlutut dan memasukkan lengannya kembali ke dalam untuk meraih Zhoya agar dapat menopangnya, dan dia pun memanjat keluar.

Mereka kembali ke jalan pribadi yang menuju ke istana dan untungnya, mobil Zhoya tepat di belakang mereka. “Cepat, ayo.”

***

“Wow! Gila kali, kabur dari penjara!” kata Zhoya sambil menyetir.

“Ya. Senang juga aku kau menikmatinya,” jawab Sam, mencoba menyalakan ponselnya.

“Menikmati apa? Bercanda? Baunya seperti kematian di bawah sana!”

“Jadi, kau lebih suka pergi meminta Ratu untuk melepaskan kita dengan sukarela?” tanyanya dengan nada sarkastis.

“Yah, itu ide yang bagus, tapi kenapa seorang pangeran, seorang pangeran kerajaan mau mengalami tekanan seperti itu? Apa dia gila kali atau kenapa kali pula, kan?”

Sam mengabaikannya, tapi sibuk memainkan ponselnya.

“Kau bilang penculikan itu terjadi di mana?”

“Dekat pintu masuk kota. Penculik belok  kiri dan—”

“Simpang Kempesink,” kata Sam.

“Aku tak tahu nama simpangnya,”

“Nah, itu namanya. Jadi mereka berbelok ke kiri dan kau terus mengikuti mereka?”

“Ya. ​​Mau kita ke sana sekarang? Aku bisa menunjukkannya padamu—”

“Tidak, ini sudah malam. Lagipula, Ratu mungkin sedang mencari kita dan aku tidak percaya wanita itu. Dia tampak putus asa dengan semua yang kau bilang.”

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

Sam tidak menjawab, tetapi terus mengetik di ponselnya dan akhirnya panggilannya tersambung.

“Halo, Mak!”

“Ya Tuhan! Ucok! Ke mana saja kau, Ucok! Cemas kali Emak kau bikin. Ke mana saja kau?”

Zhoya terus mengemudi sambil mendengarkan percakapan yang terdengar di pengeras suara.

“Ceritanya panjang, Mak, Mamak di mana?” tanya Sam.

“Aku di rumah bersama bapakmu. Kau di mana? Apa yang terjadi?”

“Mak, nanti aku cerita kalau aku sudah sampai rumah, tapi pertama-tama, Simpang Kempesink, kalau ada yang belok kiri dari luar kota, menurut Mamak menuju ke mana? Bapak kan bawa taksi online lewat itu, iya, kan?”

“Ya, jalan itu menuju ke barat, menuju kota-kota dan desa-desa seperti Tapa, Igangan, dan yang lainnya, kenapa?”

“Apakah Bapak ada dekat Mamak? Kapan Bapak narik lagi?”

“Bapakmu ada di rumah. Dia takkan narik sampai  dan takkan pergi sampai festival Emas selesai.”

“Oh! Orang kampung sana masih melakukan hal-hal itu?”

“Ya, masih. Nak, kau di mana?”

“Aku pulang sekarang, Mak,” kata Sam sebelum menutup telepon.

“Jadi, apakah kau pikir pangeran mungkin berada di salah satu tempat itu?” Zhoya akhirnya bertanya.

“Ya, bapakku sopir dan dia sering antar jemput penumpang dari sana ke kota. Belok kiri, kita pulang ke rumahku. Besok kita cari lagi.”

***

“Jadi, dia pacarmu?”

Sam mendengus, “Bapak, sudah berapa kali kubilang, dia bukan pacarku.” Sam menjawab sambil mengunyah nasi lauk ikan asin dan daun ubi tumbuk dengan berisik.

Bapaknya tertawa dan mengecilkan volume TV. “Kau makan seperti tak makan seminggu. Untung kau bisa lolos.”

“Ya, Bapak, Bapak tak tahu apa yang kualami di sel itu. Aku merindukan makanan Mamak. Membayangkan mencicipi makanannya sekali lagilah yang membuatku tetap hidup.” Sam menjawab sambil mengunyah,

“Bodoh, makanan tidak akan membunuhmu suatu hari nanti, Nak.” Kata bapaknya sambil berdiri. “Jadi semua yang dikatakan gadis itu benar?”

“Ya, Bapak. Jun hilang dan kurasa dia bisa saja berada di salah satu kota di barat dan—”

Sam terdiam ketika mamaknya masuk bersama Zhoya yang kini mengenakan daster bersih milik mamaknya. Dia tampak lebih baik dan segar.

“Wow, lihat tamu kita yang cantik.” Kata bapak Sam, setengah tersenyum pada Zhoya yang terus tersipu.

“Terima kasih banyak, Bapak dan Ibu Johnson, aku sangat menghargai keramahan ini.”

“Sama-sama sayang, kau penyelamat, kau menyelamatkan anak kami dari maut. Kami yang seharusnya berterima kasih.” Kata Tarida, ibu Sam.

“Jadi, apa rencanamu, Nak?” tanya sang bapak yang kini duduk di samping istrinya sementara Zhoya duduk di sofa terpisah.

“Pertama-tama, aku harus menghabiskan makanan lezat ini sebelum otakku mulai bekerja.”

“Kau benar-benar memanjakan anak ini, Tarida.”

“Yah, dia mirip sekali denganmu, Bang,” Tarida menjawab suaminya. “Otakmu biasanya tak berfungsi kalau belum makan!”

Semua orang di ruangan itu tertawa.

“Kau menghinaku di depan tamu kita, Tarida,” kata Johnson.

“Tidak, Suamiku, aku hanya jujur bilang apa adanya,” jawab Tarida sambil tertawa.

“Pokoknya,” Sam bicara, menyeka mulutnya dengan serbet setelah selesai makan.

“Bapak bawa kami keliling kota. Kita cari Jun dan Zhoya cari kawannya dan kita harus balik tepat waktu secepat mungkin.”

“Ya, siapa lagi yang akan mengajak kau kalau bukan aku? Tapi aku punya rencana yang lebih baik. Aku dapat order bawa perabotan, diantar ke salah satu pelangganku di salah satu kota, lalu kita bisa menunjukkan foto-foto kawan kalian. Dia akan bantu kita. Dia seorang petani dan pemburu, dia pasti tahu tempat yang harus dicari.”

“Terima kasih banyak, Pak,” kata Zhoya sambil tersenyum. Dia mulai merasa semuanya akan baik-baik saja.

Beberapa jam kemudian, ketika Pak Johnson dan Bu Taarida beristirahat, Zhoya dan Sam masih di ruang tamu, berdiskusi dan menonton TV.

“Jadi bapakmu sopir atau tukang kayu? Mana yang mana?”

“Dia multitalenta,” kata Sam sambil tertawa. “Sebtulnya dia punya pelanggan di mana-mana dan dia punya persediaan, jadi setidaknya kalau pulang dia membawa penumpang, itu akan menghasilkan uang tambahan.” Kata Sam sambil terkekeh.

“Wow! Benar-benar brilian. Jadi, tidakkah menurutmu ratu mungkin mencari kita di sini?”

Sam tersenyum, “Aku berharap. Dia tidak tahu di mana aku tinggal, dia bahkan tidak mengenal orang tuaku. Jun adalah sahabatku, tetapi aku dan orang tuanya seperti air dan minyak, kami tidak cocok. Mereka menganggapku sebagai pengaruh buruk bagi putra mereka.”

“Aku tidak percaya kau adalah sahabat seorang pangeran. Kau tak punya tampang kawan bangsawan,” kata Zhoya sambil terkekeh.

“Yah, kalau kau lihat kawanku, kau akan tahu bahwa dia tidak terlihat seperti tipe bangsawan. Dia beda dengan pangeran pada umumnya.”

Zhoya mengangguk sambil tersenyum, “Aku ingat penampilannya dan aku juga melihat fotonya, kalian berdua cocok, tapi kenapa dia seperti itu?”

Sam mengangkat bahu. “Jun selalu berbeda. Dia tidak pernah percaya bahwa orang kaya lebih baik daripada orang miskin. Dia tidak percaya pada perjodohan. Dia percaya pada petualangan, dia percaya pada cinta, dan dia percaya melakukan hal yang benar untuk umat manusia.”

“Jadi, dia tidak mendukung seluruh acara perjamuan itu, kan?”

Sam menggelengkan kepalanya,

“Tidak sekali pun. Inilah mengapa dia merencanakan penculikan. Oh, lancang!” Dia berhenti ketika menyadari apa yang baru saja dia katakan.

Zhoya mengerutkan kening,

“Apa! Apa yang kau bilang? Penculikan apa? Sam! Kalian berdua tahu tentang itu?”

Sam menghela napas dan menggelengkan kepalanya, “Bukan, bukan itu maksudnya. Rencananya adalah mendapatkan seorang putri, tinggal bersamanya sebentar, dan melihatnya apa adanya selagi dia bisa menjadi dirinya yang sebenarnya. Dia tidak percaya pada semua kehidupan palsu ini. Semua wanita yang diinginkan orang tuanya telah dilatih tentang cara memperlakukannya, cara berbicara dengannya, dan bahkan berpura-pura mencintainya. Padahal kenyataannya, mereka hanya menyukai kesempatan menjadi istri sang pangeran. Dia menginginkan cinta sejati, perasaan sejati, petualangan, tetapi orang lain mungkin berencana menggunakan kesempatan itu untuk menculik secara sungguhan. Jadi, kurasa semuanya jadi kacau. Kru yang kami sewa membawa Tatiana, kurasa begitulah namanya, dan orang yang salah membawa Jun dan Cinde. Itu benar-benar kacau balau luar biasa!”

Zhoya menghela napas berat saat semuanya menjadi lebih jelas.

“Ini luar biasa.”

“Ya, tapi jangan khawatir, kalau kawanmu bersama Jun, maka dia sangat beruntung. Jun akan menjaganya dan mungkin dia akan menjadi putri yang selalu diinginkannya.”

Zhoya tersenyum membayangkan hal itu.

“Ya, dia memang begitu, lagipula, dia memang perempuan yang cocok jadi istri pangeran.”

Cinde Lara

Cinde Lara: Bab 22 Cinde Lara: Bab 24

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *